Mohon tunggu...
Hayatun Sophieroh
Hayatun Sophieroh Mohon Tunggu... Put on a happy face

You'r italic i'm in bold

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Ancaman Resesi di Masa Pandemi

10 Agustus 2020   15:03 Diperbarui: 10 Agustus 2020   14:53 184 5 3 Mohon Tunggu...

Oleh: Hayatun Sophieroh

Pandemi Covid-19 yang telah meluluhlantakkan hampir semua negara di belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Meski awalnya para elit politik dengan kelakar-kelakar mereka yang menyebutkan bahwa Indonesia tak akan terjangkiti oleh virus Covid-19, namun bak makan buah simalakama. Menyadur dari kanal merdeka.com tercatat hingga Jumat (7/8), kasus terkonfirmasi positif di Indonesia menyentuh angka 121.226 dengan total kasus kematian kini mencapai 5.593 orang.

Alhasil pemerintah dengan memutar otak secara keras agar bagaimana tetap mampu menahkodai kapal bendera merah putih dengan penumpangnya nyaris 260 juta jiwa ini ditengah dentuman badai. 

Ganasnya persebaran Covid-19 ini mampu merusak banyak sektor, terutama sektor krusial umat manusia yakni sektor ekonomi. Bahkan negara Adikuasa dan Adidaya, sebuah negara yang bernama Amerika Serikat pun turut merasakan dampak dari si pandemi global ini, apalagi sekelas negara berkembang seperti Indonesia.

Usut punya usut sejak pandemi berlangsung dari Maret hingga Agustus, muncul isu yang menjadi trending topic pada search engine yakni perihal resesi ekonomi. Sebelum jauh mengupas lebih dalam, mari kita telusuri kembali sebenarnya apa sih itu resesi yang menjadi perbincangan banyak orang?

Mengutip dari Investopedia, resesi merupakan penurunan secara signifikan akan kegiatan ekonomi suatu negara, biasanya terjadi selama dua kuartal berturut-turut. Namun, perbedaan pendapat para ekonom lainnya menyangkal bahwa defenisi tersebut dirasa tidak tepat lagi. 

Seperti penuturan dari lembaga riset nonprofit asal Amerika Serikat (AS), The National Bureau of Economic Research (NBER), mengatatakan resesi terjadi ketika kegiatan ekonomi menurun signifikan selama lebih dari beberapa bulan.

Dan penurunan kegiatan ekonomi tersebut dapat dilihat dari merosotnya pendapatan riil, PDB (produk domestik bruto) riil, produksi industri, penjualan ritel, dan lapangan kerja. Seperti disinggung sebelumnya, AS saat sekarang ini telah menyatakan dirinya masuk ke dalam resesi, lantas apa kabar Indonesia?

Kondisi krisis ini amat bergantung pada peran pemerintah sebagai pusat kendali negara dan masyarakat dalam menekan angka persebaran virus Covid-19 beserta implikasinya ke sektor perekonomian. Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menyebutkan pandemi global ini memang memberikan dampak yang bombastis buruk terhadap kesehatan hingga menjalar ke perekonomian terutama daya konsumsi masyarakat.

Menurut catatannya, komponen ekspor dan impor mengalami penurunan yang cukup tajam pada kuartal kedua tahun 2020. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini pun telah memasuki zona negatif pada triwulan kedua sebesar 5,32 persen.

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah masih terus berupaya semaksimalnya agar perekonomian pada kuartal ketiga tumbuh 0 persen atau positif sehingga Indonesia terhindar dari resesi teknis. Walaupun banyak tudingan yang mengancam Indonesia diambang batas resesi, tokoh yang mengakomodir ekonomi Indonesia tersebut masih optimis dengan mengatakan Indonesia belum terkena resesi ekonomi meski pada kuartal kedua negatif secara tahunan.

Kini, pemerintah pun tengah gencar-gencarnya menyusun strategi yang bertumpu pada usaha mikro, kecil, dan menengah untuk meredam laju kemerosotan ekonomi dengan berbagai insentif yang digelontorkan. Rasa-rasanya upaya bangkit dari ancaman resesi di masa pandemi ini tidak bulat-bulat ditekankan kepada pemerintah semata, memang itu adalah tanggung jawab besar yang harus diampu oleh pejabat negara dalam mengurus rakyatnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN