Mohon tunggu...
Soetiyastoko
Soetiyastoko Mohon Tunggu... Penulis - Mantan perancang strategi pemasaran produk farmasi dan pengendali tim promosi produk etikal. Sudah tidak bekerja, usia sudah banyak, enerjik ber-cucu 4 balita. Gemar menulis sejak berangkat remaja

Marketer, motivator yang gemar menulis, menyanyi dan membaca

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Masih Ada

5 November 2021   18:27 Diperbarui: 5 November 2021   18:28 61 6 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Adalah kawan malamku
sorot mata kucing,
kerlip kunang-kunang
lampu senter cap macan,
petromak sudah dimatikan

Adalah musik penghiburku
suara jangkrik dan kodok
Tak ada nyaring tiang listrik
disiksa peronda malam,
seperti di kota setengah kampung

Cangkul kuayunkan,
pindahkan aliran air
ke petak sawah berikutnya
giliran harus diatur
semua padi berhak minum

Tikus sawah tersambar
burung hantu,
yang luput
jadi buruan si meong
Cacing menunggu sisanya

Panen raya padi jawa
itu yang kuharap.
para juragan, pejabat negeri
tak bisa telan beras vietnam,
nasi pandan wangi kesukaannya

Dipanggul dari sawah ini
sedangkan
orang udik,
mereka sebut kami, begitu,
sudah lama tak menanaknya,
lupa rasanya bagaimana.

Aah !

Panen raya yang hebat,
lebih sering
hadirkan duka,
harga gabah melorot
Maka jangan tanya-sebab,
tubuh kurus dan legam.

Suara kelelawar
yang tak sedap
dan raung serigala
menarikan bulu kuduk
Syukur, masih ada nasi aking.
kami tak sempat bicara wabah.

Jalan Mangga Raya, BPA, sebagian jalannya hitam, beraspal, Senin, 27 September 2021

Soetiyastoko

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan