Mohon tunggu...
siti nurhalisa
siti nurhalisa Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta 2023

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pengaruh Senioritas dalam Organisasi Sosial

29 Maret 2024   02:26 Diperbarui: 30 Maret 2024   15:01 175
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
"Budaya Senioritas" | Ilustrasi hmitangerangraya/Ade Aji Maulana

Secara sederhana organisasi dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang merupakan wadah atau sarana untuk mencapai berbagai tujuan atau sasaran organisasi memiliki banyak komponen yang melandasi. Diantaranya terdapat banyak orang, tata hubungan kerja, spesialis pekerjaan dan kesadaran rasional dari anggota sesuai dengan kemampuan dan spesialisasi mereka masing-masing.

Menurut Hasibuan, ia memberikan pengertian organisasi sosial sebagai suatu sistem perserikatan formal, berstruktur, dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu.

Organisasi sosial selain dipandang sebagai wadah kegiatan orang juga dipandang sebagai proses, yaitu menyoroti interaksi diantara orang-orang yang menjadi anggota organisasi. Keberhasilan suatu organisasi ditentukan oleh kualitas anggota atau masyarakat yang saling berinteraksi dan mengembangkan organisasi yang bersangkutan.

Organisasi sosial merupakan dimensi pola perilaku dan interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain bahwa setiap masyarakat memiliki organisasi sosial sebagai wadah kontribusi masyarakat dalam pembangunan kesejahteraan sosial.

Dalam Pola Pembangunan Kesejahteraan Sosial, dikemukakan mengenai definisi organisasi sosial adalah suatu perkumpulan yang dibentuk oleh masyarakat baik yang  berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam melaksanakan usaha kesejahteraan sosial.

Organisasi sosial dapat dibedakan menjadi dua yaitu organisasi formal dan organisasi informal. Organisasi formal ditandai adanya wewenang dan tanggung jawab yang tegas sebagai pedoman pelaksanaan organisasi tersebut. Sedangkan organisasi informal adalah organisasi yang mencapai tujuannya dengan melakukan hubungan antar anggotanya atas dasar hubungan pribadi tanpa menurut ketentuan formal. 

Organisasi formal memiliki ciri-ciri khusus, yaitu terdapat :

  • Pola komunitas yang relatif mapan
  • Disiplin kerja yang diatur secara resmi
  • Pengorganisasian yang jelas
  • Kekhususan keahlian
  • Tujuan yang terencana dengan jelas

Sedangkan ciri-ciri organisasi informal, yaitu : 

  • Hubungannya bersifat informal
  • Anggotanya berjumlah relatif kecil
  • Pembentukan organisasinya didasarkan atas kepentingan Bersama
  • Adanya kegemaran yang relatif sama di luar organisasi
  • Disiplin kerjanya didasarkan atas kesadaran pribadi

Organisasi sosial memiliki fungsi untuk mencapai tujuan bersama atau sekelompok tujuan, serta merupakan proses yang menyoroti interaksi diantara orang-orang yang menjadi anggota organisasi tersebut.

Organisasi sosial juga memiliki tujuan untuk menyelesaikan segala pekerjaan, memecahkan masalah, mempertahankan atau memperbesar output, memperbaiki cara kerja seefektif mungkin, dan memberikan kepuasan moral dan kepuasan berperan serta para anggotanya.

Salah satu contoh organisasi sosial yang kita dapat temui diantaranya adalah ekstrakulikuler, karang taruna, BEM, Unit Kegiatan Mahasiswa, partai politik, dan masih banyak lagi. Dalam organisasi tersebut tak jarang terdapat konflik atau masalah antar anggota. Banyak contoh konflik yang terjadi dalam suatu organisasi sosial, satu diantanya adalah senioritas yang terjadi antar anggota organisasi. Biasanya hal tersebut dapat terjadi di kalangan anggota yang lebih tua dalam konteks umur, dengan anggota organisasi yang lebih muda.

Senioritas sebuah hierarki berdasarkan usia, merupakan fenomena yang sulit diatasi karena telah merasuki budaya sekolah dari generasi ke generasi. Hierarki adalah sistem klasifikasi yang membagi individu atau organisasi menjadi kelompok atau posisi berbeda-beda. Dalam organisasi sosial, hierarki biasanya diterapkan untuk menentukan posisi dan tugas-tugas bagi setiap individu. Senioritas dalam organisasi sosial tidak hanya berhubungan dengan posisi yang lebih tinggi, tetapi juga dengan pengalaman, kepemimpinan, dan pengalaman yang dimiliki oleh individu. Hierarki dalam organisasi sosial dapat menjadi masalah jika tidak dijalankan dengan baik, karena dapat menjadi sikap yang otoriter atau merugikan pihak lain.

Dalam implementasi senioritas yang bersangkutan dengan Pancasila, perlu dihindari sikap yang otoriter atau merugikan pihak lain. Senioritas seharusnya digunakan sebagai sarana untuk saling menghormati, belajar dari pengalaman orang yang lebih tua, dan membangun solidaritas. Bukan malah membentuk kepribadian seseorang menjadi negatif. 

Untuk mengatasi senioritas yang negatif dalam suatu organisasi sosial, perlu dilakukan beberapa langkah, seperti:

1. Membangun komunikasi yang baik.

Komunikasi adalah kunci terbaik untuk menghadapi senioritas. Jalinlah komunikasi secara intens dengan junior, orang yang lebih tinggi dalam hierarki, dan seseorang yang merasa lebih senior 

2. Menunjukkan kemampuan

Kemampuan dan kinerja yang baik adalah tools terbaik untuk membuat senior terkesan. Dengan kemampuan dan kinerja yang telah terbukti, senior tidak akan lagi meremehkan junior.

3. Berikan pengakuan

Jangan sungkan untuk mengakui kinerja para senior. Ia dapat membantu junior untuk meningkatkan kinerja dan memperkuat ikatan antar-generasi.

4. Mengembangkan lingkungan yang positif

Dalam suatu organisasi sosial, para anggota harus berkomitmen untuk mengatasi polemik senioritas dengan pendekatan holistik dan melibatkan kerja sama antara berbagai pihak.

5. Membentuk ruang dialog terbuka

Diskusi, forum, atau kegiatan kolaboratif dapat diadakan untuk membangun pemahaman, saling menghormati, dan memperkuat ikatan antar generasi di dalam organisasi.

Penelitian menunjukkan bahwa senioritas dalam suatu organisasi dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam beberapa cara:

1. Mengakibatkan kekerasan

Senioritas dapat menyebabkan kekerasan fisik dan non-fisik yang dilakukan oleh senior kepada junior

2. Mengakibatkan dampak psikologis

Kekerasan yang diakibatkan oleh senioritas dapat menyebabkan dampak psikologis bagi junior, seperti stres, kebimbangan, dan kekejangan

3. Mengakibatkan sikap otoriter

Senioritas dapat menyebabkan sikap otoriter yang dilakukan oleh senior kepada junior, yang dapat menyebabkan junior merasa tidak diresmikan dan tidak diperingatif

4. Mengakibatkan pendekatan persetujuan

Senioritas dapat menyebabkan junior merasa harus menerima persetujuan dari senior, yang dapat menyebabkan junior tidak menerima ide dan pendapat yang berbeda

5. Mengakibatkan pendekatan pendidikan yang kurang efektif

Senioritas dapat menyebabkan junior tidak menerima pendidikan yang efektif, karena junior tidak menerima ide dan pendapat yang berbeda dari senior

6. Mengakibatkan kekerasan

Senioritas dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk melakukan kekerasan atau melukai pihak lain, yang dapat menyebabkan perilaku yang tidak baik.

7. Mengakibatkan hegemoni

Senioritas dapat membuat seseorang merasa lebih berkuasa dan mampu mengendalikan pihak lain, yang dapat menyebabkan hegemoni terhadap junior.

8. Mengakibatkan dominasi

Senioritas dapat membuat seseorang lebih tinggi dalam hierarki, yang dapat menyebabkan mereka memerintahkan junior untuk ikut dan tetap mengikuti kegiatan-kegiatan lembaga. 

Oleh karena itu, senioritas dapat mempengaruhi perilaku seseorang, tergantung pada bagaimana seseorang menggunakan senioritas tersebut. Jika senioritas digunakan dengan baik, seperti untuk memberikan pengalaman dan penunjang dalam dunia kerja, maka senioritas dapat menjadi sebuah keuntungan. Namun, jika senioritas digunakan dengan salah, seperti untuk melakukan ospek atau menganggap pihak lain lebih rendah, maka senioritas dapat menjadi masalah.

Referensi : 

https://kumparan.com/mandaeknv/polemik-senioritas-dalam-ospek-berkedok-kaderisasi-20Rhja6wEv9

Rizki, A. N., Padilah, F. I., Rahma, R., & Nurfalah, S. T. (2024). Pengaruh Kaderisasi terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa Baru Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI), 1(2), 29-33. 

Wiwin Aprilianti, 122010137 (2016) PENGARUH MOTIVASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI KECAMATAN TANJUNGSIANG KABUPATEN SUBANG. Skripsi(S1) thesis, PERPUSTAKAAN.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun