Mohon tunggu...
Laiyin Nento
Laiyin Nento Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penggiat Pendidikan Karakter | Penggiat Kepramukaan Nasional dan Internasional

Pembina Pramuka | Kepala Pusdiklat Kepramukaan Kota Bekasi | Sekretaris Komisi Luar Negeri Kwartir Nasional Gerakan Pramuka | Penggiat Pendidikan Karakter | Entrepreneur | Kreator Konten | Member of Asia-Pacific Region Educational Method Sub-Committee | WOSM Consultant Team

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Fenomena Senioritas di Ekstrakurikuler Kepramukaan

27 April 2024   22:13 Diperbarui: 27 April 2024   22:50 105
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di era modern ini, isu senioritas masih menjadi momok di berbagai ekstrkurikuler di sekolah termasuk salah satunya di dunia Kepramukaan. Saya pernah memposting Reels yang berisi pernyataan Kak Dede Yusuf, Wakil Ketua Komisi X DPR RI saat Rapat bersama Kementerian Pendididikan, beliau memberikan saran yang sangat menarik tentang potensi Ekstrakurikuler khususnya Kepramukaan yang dapat menjadi penyaluran energi siswa sehingga dapat mengurangi perundungan. Postingan ini memicu banyak komentar menarik yang sebagian besar,, termasuk saya, setuju dengan Kak Dede. Namun ada beberapa netizen yang juga berkomentar bahwa justru di Kepramukaan  ada fenomena senioritas di lingkungan Pramuka, dan hal tersebut menarik untuk kita bahas. (Link Reels)

Secara harfiah, menurut KBBI, 'Senioritas' berarti keadaan yang lebih tinggi dalam hal pangkat, usia, dan pengalaman. Namun, dalam filosofi Kepramukaan, hubungan antara Pembina dengan Peserta Didik, atau sesama Peserta Didik, didasarkan pada prinsip kekeluargaan, seperti kakak dan adik. Jika melihat arti, tidak ada yang salah dengan kata Senioritas, tapi menjadi menarik jika dihubungkan kultur di Kepramukaan yang menggunakan filosofi hubungan keluarga dalam interaksi dengan sesama anggota, bukan Senioritas.

PESAN BP

Lord Baden Powell (BP), pendiri Kepramukaan, pernah berkata, "Kepramukaan bukanlah ilmu pengetahuan yang harus dipelajari dengan serius. Kepramukaan juga bukan kumpulan doktrin dan teks. Kepramukaan bukanlah kode militer yang bertujuan untuk melatih disiplin anak laki-laki dan menekan kreativitas serta inisiatif mereka. Tidak! Kepramukaan adalah permainan menyenangkan di alam terbuka, tempat para Pembina dan Pramuka dapat berpetualang bersama layaknya kakak dan adik, sembari menjaga kesehatan, kebahagiaan, keterampilan, dan kepedulian terhadap sesama." diabadikan dalam Buku BP's Outlook, 1941

 


Inti dari Pesan BP diatas antar lain;

  • Kepramukaan bukanlah ilmu pengetahuan (bukan mata pelajaran atau mata kuliah), tapi Kepramukaan adalah  sebuah 'permainan' (sebuah metode) yang menyenangkan di alam terbuka.
  • Kepramukaan bukan kode militer untuk melatih disiplin, tetapi harus menyediakan ruang yang lebih besar untuk membentuk kreativitas dan menumbuhkan inisiatif positif.
  • Kepramukaan adalah ruang petualangan bersama antara Pembina dan Pramuka, dengan semangat (hubungan seperti) kakak-adik. 
  • Melalui petualangan, Kepramukaan juga membina kesehatan, kebahagiaan, ketrampilan, dan rasa peduli sesama.

Dari banyaknya inti pesan, saya ingin menggaris bawahi 2 hal utama, yakni Kepramukaan yang berbeda dengan Kode Militer untuk membentuk disipilin dan pola hubungan Pembina dan Peserta Didik dalam Kepramukaan seperti Kakak dan Adik layaknya keluarga.

SAFE FROM HARM

Gerakan Pramuka berkomitmen untuk memastikan lingkungan Kepramukaan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi semua. Peraturan Perlindungan Anggota Gerakan Pramuka (SAFE FROM HARM) menjadi wujud komitmen ini. (Lihat Dokumen)

Melalui SAFE FROM HARM, yang saat ini juga menjadi prioritas Kepramukaan Dunia dalam implementasinya, semua bertanggung jawab untuk mencegah segala bentuk perundungan, kekerasan, dan pelecehan dengan dalih apapun. Senioritas yang mengarah pada arogansi, kekerasan, atau pelecehan tidak sejalan dengan nilai-nilai Kepramukaan. Pendidikan Disiplih dalam Kepramukaan menggunakan pendekatan Disiplin Positif. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun