Mohon tunggu...
Siti Hadiyatul Hasanah
Siti Hadiyatul Hasanah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Keep trying not to give up

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno Pilihan

Urban Farming sebagai Solusi Berkebun di Lahan Terbatas

5 Juni 2021   06:14 Diperbarui: 5 Juni 2021   15:45 1074
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
penanaman urban farming (ayojakarta.com)

Banyaknya penduduk dan pembangunan di wilayah perkotaan membuat permintaan lahan pemukiman semakin tinggi. Hal tersebut akan berdampak pada kualitas lingkungan perkotaan dan tergusurnya ruang terbuka hijau. Hilangnya ruang terbuka hijau akan berpengaruh kepada kestabilan ekosistem lingkungan. Di samping itu juga akan meningkatkan polusi udara yang akan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat kota.

Selain itu, proses urbanisasi menyebabkan tingginya laju pembangunan yang ikut mengeliminasi lahan pertanian di perkotaan. Dimana lahan pertanian akan dialih fungsikan sebagai rumah dan gedung-gedung. Hal tersebut membuat kota tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Permintaan bahan makanan yang meningkat akan membuat inflasi harga.

Dalam mengatasi permasalahan tersebut solusi yang ditawarkan adalah dengan melakukan urban farming. Dengan urban farming, masyarakat bisa menciptakan ruang terbuka hijau ditengah-tengah padatnya bangunan perkotaan. Masyarakat akan menggunakan kemampuan dan pengetahuan dalam bidang pertanian agar bisa mengoptimalkan potensi Sumber Daya di sekitarnya. Hal tersebut juga bertujuan untuk membudidayakan tanaman sayuran pada lahan terbatas dan minimalis.

Urban farming merupakan aktivitas bertani pada lingkungan rumah perkotaan. Urban farming ini sudah menjadi trend di kalangan masyarakat, terutama di wilayah perkotaan. 

Salah satu penyebab trend nya urban farming adalah karena adanya Covid-19 dan kebijakan work from home (jateng.antaranews.com). Hal tersebut membuat masyarakat lebih banyak di rumah dan mencari aktivitas/kegiatan baru untuk menghilangkan rasa bosan. 

Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto, selama setahun terakhir urban farming telah menjadi fenomena luar biasa dan banyak diminati oleh orang, mulai dari remaja sampai dengan orang tua (pertanian.go.id). 

Pasti kebanyakan dari kalian bingung bagaimana penerapan urban farming ini? Untuk lebih mudahnya yuk kita simak penjelasan berikut ini

Beberapa penerapan urban farming yang bisa dilakukan dilingkungan rumah diantaranya polybag, hidroponik, vertikultur dan memanfaatkan rooftop. Polybag merupakan salah satu cara penanaman yang bisa dilakukan pada lahan terbatas. 

Penerapan ini dengan menggunakan polybag dan media tanam berupa tanah, kompos serta arang sekam. Dari ketiga media tersebut membutuhkan perbandingan 2:1:1. Penanaman cara ini terbilang relatif, sederhana, dan hemat biaya sebab peratalatan yang digunakan cukup sederhana dibandingkan hidroponik.

penanaman polybag (karangmojo.desa.id)
penanaman polybag (karangmojo.desa.id)
Sementara itu penanaman hidroponik merupakan istilah yang digunakan untuk sistem penanaman dalam media air, dimana unsur hara akan digantikan dengan nutrisi buatan dalam media air. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan pipa air. 

Agar bisa menjamin sebuah sirkulasi nutrisi, maka dalam rangkaian pipa tersebut disediakan alat pompa dengan kapasitas tertentu. Selain itu, dalam penanaman hidroponik harus memperhatikan suhu dan intensitas cahaya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun