Mohon tunggu...
SISKA ARTATI
SISKA ARTATI Mohon Tunggu... Guru - Ibu rumah tangga, guru privat, dan penyuka buku

Bergabung sejak Oktober 2020. Antologi tahun 2023: 💗Gerimis Cinta Merdeka 💗Perubahan Itu Pasti, Kebajikan Harga Mati - Versi Buku Cetak 💗 Yang Terpilih Antologi tahun 2022: 💗Kisah Inspiratif Melawan Keterbatasan Tanpa Batas. 💗 Buku Biru 💗Pandemi vs Everybody 💗 Perubahan Itu Pasti, Kebajikan Harga Mati - Ebook Karya Antologi 2020-2021: 💗Kutemukan CintaMU 💗 Aku Akademia, Aku Belajar, Aku Cerita 💗150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi 💗 Ruang Bernama Kenangan 💗 Biduk Asa Kayuh Cita 💗 55 Cerita Islami Terbaik Untuk Anak. 💗Syair Syiar Akademia. Penulis bisa ditemui di akun IG: @siskaartati

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[RTC]: Ku Yakin Kau Kuat, Lin

31 Januari 2021   11:12 Diperbarui: 31 Januari 2021   11:27 327
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Di akhir bulan Januari duaribu duapuluh satu, izinkan aku menyapamu, Lin. Duhai, apa kabarmu? Maafkan sahabatmu ini, yang baru sempat berbalas setelah hampir sebulan berlalu.

Lin, aku jadi kangen bercengkerama denganmu. Seperti dulu. Di teras rumahmu, peraduan mungilmu, atau teras belakang rumahku yang menghadap ke sawah, menikmati semilir angin sambil menikmati rujak buah olahan kita. Tertawa, ngrumpi asyik. Ah, nostalgia remaja kita takpernah sirna, Lin.
Oi, sudah berapa kala, ya, kita takjumpa? Semoga kau masih setia membaca kiriman suratku, Lin.

Ya, maaf, say. Sejak merantau dan berkeluarga, aku jarang mudik ke kampung kita. Rumah yang dulu kami tinggali, telah lama berpindah pemilik sejak Ibu menjualnya dan tinggal bersama kakakku di lain kota. Kautahu itu, kan?
Karena itulah, aku lebih sering mudik ke kota mertua atau kakakku. Maaf, jika taksempat mampir ke kampung kita. Kabar terakhir yang kuterima dari kakakmu, desamu luluh lantak oleh angin besar. Puting beliung memporak-porandakan hampir seluruh rumah warga dan sekitarnya. Termasuk dirimu dan keluarga, ya, Lin.

Innalillaahi wa inna illayhiiraajiiun.

Doa terbaik kupanjatkan buat kau, Lin.
Aku takbisa menahan derai airmata, saat Kak Nur menceritakan kronologi kejadian yang menimpamu disana. Ya, andai saja kau ada disini bersama kami dalam perantauan, mungkin saja harapan terhindar musibah melintas dalam benak.
Qadarullah, Lin. Allah Maha Pengatur segala isi semesta. Kita takbisa menghindarinya.

Alhamdulillaah kau selamat, sayang. Meski sempat tertimpa reruntuhan rumah sendiri, sungguh, dengan bertahan dua hari di bawah sana sampai pertolongan datang, adalah mukjizat Allah yang hadir untuk meneruskan hidupmu. Aku pun belum tentu sanggup sepertimu, Lin.
Turut berduka atas berpulangnya Hani, gadis mungil yang selalu menghibur hati. Kita relakan dirinya menjadi cahaya surga untukmu dan Mas Zid kelak bertemu dengannya.

Boleh saja kau berduka dan menangisi kepergiannya, Lin. Tapi jangan sampai kau menyalahkan Allah atas kejadian dan keadaan. Kuyakin kaukuat, Lin. Harap dan asa agar kakimu segera pulih kembali. Allah tak mengizinkan penyangga tubuhmu rapuh. Keduanya akan pulih sediakala. Bismillah, Lin. Percayalah! Kau terus rutin terapi, ya sayang.

Masih ingat, kah, lagu penghibur saat kita menangis bersama atas sebuah peristiwa? Kau bermusik, aku bernyanyi, dan kadang sebaliknya, kan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun