Mohon tunggu...
SISKA ARTATI
SISKA ARTATI Mohon Tunggu... Guru - Ibu rumah tangga, guru privat, dan penyuka buku

Bergabung sejak Oktober 2020. Antologi tahun 2023: 💗Gerimis Cinta Merdeka 💗Perubahan Itu Pasti, Kebajikan Harga Mati - Versi Buku Cetak 💗 Yang Terpilih Antologi tahun 2022: 💗Kisah Inspiratif Melawan Keterbatasan Tanpa Batas. 💗 Buku Biru 💗Pandemi vs Everybody 💗 Perubahan Itu Pasti, Kebajikan Harga Mati - Ebook Karya Antologi 2020-2021: 💗Kutemukan CintaMU 💗 Aku Akademia, Aku Belajar, Aku Cerita 💗150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi 💗 Ruang Bernama Kenangan 💗 Biduk Asa Kayuh Cita 💗 55 Cerita Islami Terbaik Untuk Anak. 💗Syair Syiar Akademia. Penulis bisa ditemui di akun IG: @siskaartati

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengingat Kematian: Bisakah Kita Memilih?

2 November 2020   12:31 Diperbarui: 2 November 2020   12:45 117
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Terhenyak sesaat, dan menyebut asma Allah, kala saya mendapat kabar berpulangnya rekan sejawat kakak saya, pada Hari Sabtu (31/11/2020) lalu.

Meski sudah lama tak bersua karena kesibukan almarhum sebagai kepala seksi di sebuah kantor dinas lingkup Propinsi Kalimantan Timur, saya mengingatnya sebagai sosok yang ramah dan suka bercanda.

Saya pernah bekerja sebagai tenaga honorer di kantor dinas  awal tahun 2000an. Kemudian tahun 2002 menerima tawaran kerja di tempat lain. Bertahun-tahun kemudian aktivitas saya kembali ke kantor tersebut untuk mengajar mengaji para ibu, dua kali dalam sepekan.

Pagi ini, seperti jadwal biasa, saya memulai mengajar. Kami membaca Surah Al-Fatihah dan mendoakan almarhum. Sembari ibu-ibu lain menunggu giliran mengaji, mereka menceritakan kenangan selama almarhum masih hidup.

Rupanya usai bercengkrama dan jalan-jalan sejenak ke mall bersama Istri, setiba di rumah beliau mandi membersihkan diri, tiba-tiba beliau tak sadarkan diri. Sempat dilarikan dan dirawat di rumah sakit, namun nyawa beliau tak tertolong lagi. Demikian sekelumit cerita yang disampaikan ibu-ibu di mushola.

Kenangannya sama. Beliau ramah, hampir tidak pernah marah. Kalaupun ada hal yang kurang berkenan tentang urusan kantor kepada bawahan atau rekan sejawat, beliau selalu santai dan tertawa saja ketika menegur. "Ya, begitulah cara dia menyampaikan ke kita, ga pake marah atau ngomel. Menegurnya sambil ketawa aja, jadi kita sebagai bawahan ga beban, tapi tetep hormat. Baik banget lah pokoknya," ungkap kakak saya yang pernah bekerja sama dalam satu tim proyek di kantor.

***

"Begitulah, Sis. Orang baik banyak yang berpulang." Sahabat saya berkomentar dengan berita meninggalnya beliau. "Semoga Allah meridhoi segala amal baik kita, dan berpulang kepada-Nya dalam keadaan husnul khatimah, aamiin."

Kalau orang baik banyak yang berpulang, apakah kemudian orang buruk belum banyak berpulang?

Apakah itu tanda Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat? Memberi waktu agar mempersiapkan sebaik-baiknya diri kala ajal menjemput?

Lalu bagaimana memaknai waktu agar kita bisa mengisinya dengan sebaik-baik manfaat?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun