Mohon tunggu...
Sindy AuliaSalsabila
Sindy AuliaSalsabila Mohon Tunggu... Mahasiswa - Seorang mahasiswa

Perempuan dengan kepribadian yang pemalu dan memiliki hobi menonton

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Mari Bangun Keluarga Harmonis dengan Menjaga Mental Anak

22 Desember 2022   10:51 Diperbarui: 22 Desember 2022   11:12 202
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hubungan yang pertama kali dijalin oleh seorang manusia ketika ia baru lahir ke dunia ini adalah hubungan orang tua dan anak. Baru setelah itu, anak mulai menjalin hubungan dengan orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Jadi, orang tua berperan penting dalam mendidik dan membentuk karakter anak menjadi sosok yang membanggakan.

Di zaman sekarang, sudah banyak orang tua yang mulai belajar ilmu parenting supaya dapat memahami cara berinteraksi dengan buah hatinya dan mengetahui kebutuhan sang anak. Belajar parenting bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Selain berkonsultasi dengan ahlinya, orang tua dapat mengikuti seminar, workshow, ataupun talkshow mengenai parenting. Bahkan anda bisa belajar ilmu parenting melalui internet dengan membaca artikel. Jadi, anda tidak perlu membayar mahal untuk mendapatkan ilmu parenting.

Namun, seringkali orang tua melakukan toxic parenting kepada buah hatinya baik secara sadar maupun tidak sadar. Berikut contoh-contoh toxic parenting yang sering diabaikan namun memiliki dampak yang besar pada anak.

1. Merendahkan anak

"Kamu bodoh banget, melakukan ini saja tidak bisa." Banyak orang tua yang menasihati anaknya dengan cara merendahkan sang anak dengan alasan ingin anaknya menjadi lebih baik. Justru sebaliknya, anak akan menjadi pribadi yang kurang percaya diri. Ia akan meragukan kemampuannya sendiri dan merasa dirinya tidak berharga. Bahkan hal ini bisa menjadi penyebab renggangnya hubungan antara anak dan orang tua, sebab anak akan merasa bahwa orang tuanya tidak menyayanginya. Lebih parahnya lagi, hal ini dapat menimbulkan rasa benci dalam diri anak pada orang tuanya. Tentu orang tua tidak ingin hal itu terjadi bukan? Jadi, sebaiknya untuk menghindari dampak tersebut. Beritahu anak secara baik-baik dan pilihlah cara penyampaian yang tepat supaya sang anak tidak merasa tersinggung ataupun dihakimi oleh orang tuanya.

2. Membandingkan anak

Setiap manusia tentu saja memiliki kelebihannya masing-masing dan tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Namun, terkadang orang tua lupa bahwa anaknya juga manusia biasa yang pasti memiliki banyak kekurangan. Biasanya ketika orang tua merasa kurang puas dengan anak mereka, hal umum yang sering dilakukan adalah membanding-bandingkan. "Kamu lihat si A, dia pintar dan selalu peringkat satu di kelasnya. Memangnya kamu yang hobinya main handphone, mau jadi apa nanti?" 

Banyak orang tua yang menyepelekan hal ini dan berpikir bahwa membanding-bandingkan anak mereka dengan saudaranya atau orang lain akan memotivasi sang anak. Padahal kenyataannya tidak, justru anak akan merasa kehadirannya tidak diinginkan. Selain itu, membanding-bandingkan juga dapat menanamkan benih kebencian dalam diri anak. Misal, seorang kakak dibanding-bandingkan oleh adiknya, sang kakak bisa jadi membenci adiknya karena merasa adiknya adalah penyebab kekurang puasan orang tuanya. Dampak yang lebih parah, yakni menimbulkan persaingan tidak sehat yang dapat memicu perilaku buruk, seperti saling menjatuhkan.

Masih ada lagi dampak yang diterima sang anak, yakni memberikan beban pikiran pada mereka. Anak akan mempertanyakan kemampuannya, ia akan merasa tidak berguna karena tidak bisa memenuhi harapan orang tuanya dan berakhir menyalahkan dirinya sendiri. Jadi, sebaiknya orang tua berhenti melakukan hal seperti ini, daripada membanding-bandingkan. Lebih baik orang tua mencari potensi anak mereka di bidang lain dengan memperhatikan keseharian sang anak. Ingat! Ikan tidak akan menang jika mengikuti lomba lari, begitu juga kucing tidak akan menang jika mengikuti lomba bernapas di dalam air.

3. Terlalu mengatur pilihan anak

Orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, sehingga mereka sudah menyusun berbagai rencana supaya anaknya memiliki masa depan yang cerah. Namun, terkadang orang tua lupa untuk menanyakan pilihan yang diinginkan sang anak dan malah memaksa untuk mengikuti pilihannya karena merasa itu adalah pilihan yang terbaik. 

Ketika orang tua terlalu mengatur, si anak akan menjadi sosok yang takut bereksplorasi. Sebab ia tidak dibiasakan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Tetapi, bukan berarti orang tua tidak boleh ikut berkontribusi dalam menentukan pilihan. Tentu orang tua memiliki hak untuk mengarahkan anak mereka, namun untuk keputusan akhirnya tetap berada di tangan sang anak.

4. Melakukan kekerasan ketika anak berbuat salah

Seringkali ketika anak berbuat salah, alih-alih memberikan penjelasan yang mudah dipahami oleh sang anak. Orang tua malah bereaksi membentak, mencubit, hingga memukul. Melakukan ini tidak akan membuat anak jera, sebab mereka tidak bisa memahami mengapa tindakan mereka salah. Anak hanya akan takut dihukum secara fisik lagi bukan karena mereka tahu bahwa tindakan mereka salah.

Memberi hukuman fisik kepada anak sangatlah fatal, karena dapat membentuk karakter anak menjadi sosok yang keras dan kasar kepada orang lain. Bahkan penelitian menyebutkan bahwa berteriak dan memberikan hukuman fisik, seperti memukul tidak efektif justru bisa memperburuk perilaku anak. Ketika sering diteriaki dan dimarahi, anak akan menjadi pembangkang dan lebih agresif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun