Mohon tunggu...
Shinta Harini
Shinta Harini Mohon Tunggu... Penulis - From outside looking in

Pengajar dan penulis materi pengajaran Bahasa Inggris di LIA. A published author under a pseudonym.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lima Puluh Satu Alasan

25 Juli 2021   10:00 Diperbarui: 8 Agustus 2021   05:32 226
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hannah merasakan rahangnya menegang, lalu lemas dan seolah akan lepas. Ia memandang ke atas sejenak, lalu ditundukkannya kepalanya lagi. “Ampuni aku yang telah memotong pembicaraan-Mu.”

Tapi Tuhan tidak menganggap hal itu sebagai masalah. Dilanjutkannya sabda-Nya, “Dan dengan berjalannya waktu,  Aku sangat mengerti kau begitu merindukan kehadirannya. Karena meski kau bisa melihatnya dari atas sini, tentu sangat tidak sama rasanya dengan apabila ia ada di sisimu, di surga ini, merengkuhmu dalam pelukannya setiap malam sebelum kau terlelap. Aku mengerti.”

Hannah merasa seakan-akan tulang-belulangnya meleleh. Kedua kakinya yang sedang berlutut rasanya tak mampu lagi menyangga tubuh mungilnya. Semua perasaan yang selama ini berkecamuk di hatinya berdesakan dan akhirnya tumpah,  mengalir melalui tetes-tetes air mata yang tidak terbendung lagi, membanjiri kedua pipinya,   membasahi gaun putihnya yang manis. Gaun malaikat mungilnya. Tapi untunglah, sayap-sayap kecilnya diletakkan Tuhan dipunggungnya sehingga tidak ikut menjadi kuyup. Alangkah repotnya Hannah bila  sayap-sayap itu basah.

Alasan-alasan.

Tuhan mau ia tuliskan semua alasan mengapa ibunya yang tercinta masih tertinggal di bawah sana, menjalani hidupnya di dunia, sementara ia di sini. Kesepian. Hannah harus dapat menuliskan setidaknya empat puluh satu alasan, sama jumlahnya dengan banyaknya tahun yang telah dijalani ibu di dunia. Setelah itu barangkali, akan lebih mudah bagi Hannah untuk mencerna keputusan Tuhan atas hidup ibunya, sehingga ia tak akan terlalu berduka lagi.

Pembicaraannya dengan Tuhan-lah yang membuatnya ada di sini sekarang, sendirian di sebuah bangunan  megah di surga. Sebuah gedung perpustakaan yang indah dengan ribuan rak tempat menyimpan buku-buku tentang kehidupan manusia. Pilar-pilar tinggi yang berukir megah, kokoh menyanggah bangunan itu. 

Deretan meja-meja dan kursi-kursi yang dipahat indah berjajar rata di sepanjang ruangan, tampak akrab dengan tubuh-tubuh halus para malaikat. Dari waktu ke waktu, para malaikat sering berkumpul di sini, mengisi buku-buku dengan goresan pena mereka atau hanya sekedar berkunjung untuk kepentingan pribadi.

Tapi malam ini tidak ada satu malaikatpun di sini. Kecuali Hannah. Sendiri dalam sunyi, ia menghadapi meja-meja dan kursi-kursi kosong yang seolah memanggil-manggil namanya, rindu untuk dihampiri. Seperti halnya hati Hannah – yang rindu, haus akan kasih sayang ibu.

Kasih sayang.

Cinta.

Hannah terduduk tegak di kursinya, matanya berbinar penuh semangat, ide-ide berjejalan di benaknya. Tentu saja. Yang harus ditulisnya adalah tentang cinta, cinta, cinta, dan dia yakin dia bisa menemukan aneka alasan yang tak terbatas jumlahnya. Dibentangkannya sehelai kulit kambing yang masih tergulung rapi. Diraihnya pena bulu dari sandarannyanya di atas meja, dicelupkannya ke dalam tinta, dan mulai menulisi kulit kambing yang terbentang lurus. Dimulai dengan –

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun