Mohon tunggu...
Sekar Mayang
Sekar Mayang Mohon Tunggu... Editor - Editor

Editor. Penulis. Pengulas buku. Hidup di Bali. http://rangkaiankatasekar.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Karya Tunggal Vs Karya Kolaborasi

30 Mei 2018   01:12 Diperbarui: 30 Mei 2018   01:21 407
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Belakangan ini kita kerap menjumpai sebuah karya, khususnya novel, yang digarap oleh dua orang atau lebih. Mungkin yang muncul di benak kita adalah, bagaimana proses menulisnya? Bisa macam-macam, tergantung kesepakatan para penulisnya. Pengalaman saya dulu, saya mengerjakan bab pertama, lalu rekan saya menyambung dengan bab dua, kembali lagi ke saya untuk bab tiga, dan seterusnya sampai karya tersebut kami putuskan untuk tamat.

Ada lagi jenis kolaborasi yang lain, yang dipadukan juga dengan unsur estafet seperti yang pernah Fiksiana Community gelar beberapa tahun lalu. Tiap bab dikerjakan oleh penulis yang berbeda. Jadi, jika seluruhnya ada lima belas bab, maka jumlah penulisnya pun ada lima belas. Yang kurang ajarnya adalah, karya tersebut dibuat tanpa menggarap lebih dahulu kerangkanya. Panitia hanya memberi tema. Beruntunglah yang mendapat giliran pertama, dan yang apes tentu saja yang paling buntut. Tapi yang lebih mumet lagi ya editornya. Sebab harus mencocokkan detail-detail yang muncul di tiap bab. *paragraf mengandung tsurhat colongan*

Nah, buat yang masih bingung ingin menulis sendiri atau keroyokan, saya jembreng rangkuman perbandingan keduanya.

Karya Tunggal

  • Sebuah karya tunggal tentu saja berpunca dari ide satu orang. Kalaupun si penulis mendapat sedikit wangsit untuk karyanya ketika sedang mengobrol dengan seorang teman, tidak bisa serta-merta si teman jadi rekan duet menulis. Si teman hanya memberi satu unsur bahan mentah dan si penulis mungkin harus mencari bahan mentah lainnya agar masakannya matang.
  • Semua tugas (riset, menulis, dan self-editing) dilakukan oleh satu orang. Mungkin akan terasa berat karena durasi pengerjaan jadi lebih lama. Tapi, bagi yang berjiwa soliter, mungkin ini lebih mudah, karena nggak bakal ada yang ngerempongin di tengah jalan. Halangan terberat ketika sibuk riset mungkin akibat lewatnya tukang cilok di depan rumah. *itu mah elu, moy*
  • Penulis dapat mengatur sendiri waktu kerjanya. Mau dimolor-molorin sampe satu milenium juga nggak papa. *disambit dandang cilok*
  • Jika di tengah jalan si penulis menemukan ide lain untuk detail tulisannya, ia bisa langsung menambahkannya tanpa perlu kulo nuwun dulu pada rekannya.
  • Segala penilaian yang muncul setelah karyanya dipublikasikan menjadi tanggungan si penulis seorang.

Karya Kolaborasi

  • Merupakan hasil kerja dua atau lebih penulis.
  • Bisa berbagi tugas.
  • Durasi pengerjaan mungkin berbatas waktu, tergantung kesepakatan yang dibuat bersama.
  • Jika di tengah jalan salah satu penulis memiliki gagasan baru, harus didiskusikan lebih dahulu dengan si rekan sebelum ditambahkan ke dalam naskah.
  • Penilaian yang muncul setelah karya dipublikasikan adalah tanggungan bersama.

Lalu, bagaimana jika karya kolaborasi yang sudah setengah jalan tiba-tiba mogok karena salah satu penulis memutuskan berhenti bekerja sama?

Pertama, tulisan bisa diteruskan oleh satu orang. Dengan syarat, izin dulu kepada si rekan. Dalam aplikasinya, mungkin penulis pertama harus membuang (sebagian atau seluruhnya) gagasan si rekan yang sudah tidak ikut serta demi menghindari klaim di kemudian hari. Jika si rekan mengizinkan gagasannya tetap dipakai, jangan lupa cantumkan namanya di halaman dedikasi. Jangan seperti cilok yang lupa dandangnya.

Kedua, tinggalkan dan buat tulisan baru yang lain sama sekali. Ini jelas menuntut kerelaan dan keikhlasan yang luar biasa. Kebayang, dong, capeknya japri-an demi bahas naskah. *kebayang, moy, kebayang*

Ketiga, mencari rekan baru. Ini jelas lebih rempong lagi. Selain minta izin ke rekan terdahulu soal gagasan dalam naskah, kita juga harus menyesuaikan diri dengan rekan yang baru.

Menulis novel memang membutuhkan napas yang amat panjang. Bagi yang sudah biasa, tentu nggak ada masalah, meskipun kerepotan yang terjadi ketika menggarap novel nggak ada yang masuk kategori selaaaww. Namun, bagi yang tidak biasa (tapi ngotot pengen punya karya novel) berduet merupakan salah satu alternatif mewujudkannya.

Alasan lainnya, mungkin saja mereka hendak menyatukan dua (atau lebih) poin ke dalam satu novel. Misalnya novel soal romansa yang terjadi di negeri kanguru. Penulis pertama ternyata pernah tinggal cukup lama di Melbourne (misalnya), jadi ia punya amunisi cukup kuat untuk set lokasi dan suasana. Sementara penulis kedua ternyata jago bikin narasi dan dialog dengan level kebaperan yang ruar binasa sehingga sanggup bikin jomblo-jomblo yang baca mendadak cari pohon toge buat gantung diri. *lebay, moy, lebaaayyy* Bisa dibayangkan, kan, gimana kece badainya karya tersebut?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun