Mohon tunggu...
Satya Anggara
Satya Anggara Mohon Tunggu... Lainnya - Academic Researcher and Investor

Menyajikan tulisan seputar dunia investasi, bisnis, sosial, politik, humaniora, dan filsafat. Untuk korespondensi lebih lanjut, silahkan hubungi melalui kontak yang tertera di sini.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Mengapa Anda (Mungkin) Tidak Akan Pernah Menjadi Kaya Raya di Pasar Modal?

9 Juli 2020   12:20 Diperbarui: 9 Juli 2020   12:26 450
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Distingsi Investor dan Trader | Sumber Gambar: https://www.wealthcost.com/ 

Kembali pada diskusi semula. Mengapa Anda (mungkin) tidak akan menjadi kaya raya di pasar modal, terlepas dari apakah anda ini investor atau trader?

Peter Schiff di dalam bukunya yang berjudul "How an Economy Grows and Why It Crashes" punya penjelasan yang menarik terkait hal ini. Menurutnya, di dalam setiap usaha untuk membangun kekayaan lewat kegiatan ekonomi, sangat penting bagi setiap orang untuk menyadari bahwa hal tersebut hanya dapat tercapai dengan terlebih dahulu menabung cukup banyak uang sebelum memulai suatu venture (Schiff & Schiff, 2010). Dengan uang (atau lebih umumnya, modal) berlebih yang berhasil disisihkan dari pemasukan, seseorang jadi memiliki kemampuan berlebih pula untuk mendanai proyek yang hendak dikerjakannya, bisa dalam bentuk kegiatan bisnis, investasi, maupun trading. 

Singkatnya tanpa ada usaha untuk menyisihkan uang untuk ditabung terlebih dahulu, Anda kemungkinan besar tidak akan pernah menjadi kaya raya di pasar modal. Katakanlah Anda berhasil menyisihkan dan menginvestasikan uang sejumlah Rp. 1.000.000 di saham tertentu yang dalam setahun mampu tumbuh 100%. Angka pertumbuhan ini sangatlah luar biasa, namun pada akhirnya Anda hanya akan menghasilkan Rp. 1.000.000 tambahan selama setahun itu, jumlah yang terlampau kecil yang bahkan tidak sampai separuh dari upah minimum bulanan di kota-kota besar.

Faktor kedua yang kemungkinan akan menghambat usaha Anda menjadi kaya raya di pasar modal adalah kenyataan bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk yang sebetulnya rawan melakukan keputusan konyol di pasar modal. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor psikologis dan bias yang seringkali mengambil alih kendali dalam membuat keputusan penting. 

Saat terjadi perlambatan seperti saat ini akibat pandemi Covid-19, banyak saham blue chip yang berguguran bahkan sampai kehilangan separuh market capitalization hanya dalam tempo sebulan, terutama sepanjang kuartal 1 2020, kendati secara operasional sebetulnya tidak mengalami penurunan performa sedalam itu. Pelaku pasar khawatir ketika harga saham terkoreksi sedikit di tengah prospek ekonomi yang tidak menentu dan memilih untuk melakukan cut loss (yang mana menyebabkan penurunan yang semakin dalam pada gilirannya).

Penulis pernah menjumpai saham salah satu perusahaan batubara besar yang turun dari level Rp. 1.000 per lembar hingga hampir menyentuh level Rp. 500 di penghujung kuartal 1 2020. Saat itu sayangnya penulis tidak menyisihkan modal cukup banyak untuk membeli sahamnya. Apabila penulis dapat menyisihkan uang untuk membeli saham perusahaan tersebut, maka saat ini ketika harganya sudah kembali ke level semula, modal tersebut sudah tumbuh 2 kali lipat ditambah dividen. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa faktor psikologis seringkali membuat kita tidak mampu mengambil keputusan yang tepat dalam situasi sulit yang sebetulnya menyimpan potensi keuntungan.

Faktor ketiga yang penulis sorot adalah tentang ketidakmampuan kita sebagai pelaku pasar dalam memprediksi pergerakan pasar itu sendiri. Bersamaan dengan fakta bahwa di dalam pasar modal rawan terjadi bias akibat emosi yang secara berlebihan mengendalikan keputusan para pelakunya, maka menjadi sulit bagi kita untuk memperkirakan arah gerak pasar itu sendiri. 

Penulis suka mengambil contoh dengan merujuk pada seorang analis CNBC, Jim Cramer, yang dikenal gemar mengubah opininya tentang pasar modal setiap harinya. Jika Anda menyaksikan acaranya, "Mad Money" di YouTube atau platform lain, Anda akan memahami bahwa Cramer sebetulnya merupakan representasi dari Mr. Market yang digagas oleh Benjamin Graham. Cramer atau Mr. Market adalah sosok yang terlalu sering mengalami mood swing sehingga keduanya sulit untuk menentukan sikap yang konsisten dan cenderung hanya mengikuti arah angin.

Faktor terakhir yang membuat Anda sulit kaya raya di pasar modal, dan ini mungkin jarang Anda temukan di ulasan lain yang sejenis dengan tulisan ini, adalah kenyataan bahwa menjadi pemodal di pasar modal mengharuskan Anda, suka tidak suka, berada di antrian paling belakang dari "pembagian kue" ekonomi. Apa maksudnya? Begini, ketika Anda menanamkan modal, terutama dengan cara membeli saham, Anda harus menyadari bahwa modal sejatinya bertumbuh dari kegiatan bisnis perusahaan yang sukses memperoleh keuntungan dan menumbuhkan nilai ekuitasnya. 

Akan tetapi sepanjang perjalanan tersebut, apa yang perusahaan peroleh sebagai pemasukan terlebih dahulu mengalami pemotongan dan pengurangan di sana-sini. Perusahaan masih harus membayar supplier, menggaji pegawai dan manajemen, membayar pajak, melunasi utang, dan seterusnya. Seringkali ketika seluruh pemotongan dan pengurangan sudah diambil dari pemasukan, yang tersisa untuk pemilik modal hanya tinggal "ampas". 

Kenyataannya, mungkin menjadi jajaran eksekutif di perusahaan, yang notabene berarti menjadi karyawan perusahaan, akan membuat Anda jauh lebih kaya dibanding menjadi pemilik modal. Anda bisa mendapat gaji, tunjangan, uang asuransi, fasilitas kantor, dan sebagainya yang semuanya ditanggung oleh pemilik perusahaan, dalam hal ini pemegang saham. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun