Regional

Menggetarkan, Ribuan Mahasiswa Menyambut Sudirman Said di Jateng

13 September 2017   12:42 Diperbarui: 13 September 2017   12:49 208 0 0
Menggetarkan, Ribuan Mahasiswa Menyambut Sudirman Said di Jateng
https://www.jitunews.com/read/65885/ke-bumi-ayu-brebes-sudirman-said-disambut-ribuan-mahasiswa

Sepulang dari Tanah Suci Makkah, Sudirman Said melanjutkan perjalanannya di Jawa Tengah untuk mengetuk dan menyentuh hati masyarakat. Tak ada elemen masyarakat yang luput dari aktivitas blusukannya, mulai dari pedagang, neyalan, petani, ulama, santri, hingga mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.

Sudirman Said seperti mengulang apa yang dilakukan dan diraih oleh Presiden Joko Widodo ketika melakukan blusukan saat masih menjabat gubernur DKI Jakarta. Sudirman Said juga mendapatkan sambutan hangat dari semua kalangan. Masyarakat menerimanya dengan penuh kegembiraan. Tidak jarang pemandangan ini mengharukan bagi Sudirman Said dan rombongan yang mengikutinya.

Pemandangan ini juga menjadi pertanda betapa hausnya masyarakat Jawa Tengah dari sentuhan perhatian pemimpinnya. Ibarat orang tua yang ditinggal merantau oleh kerabat dan anak-anaknya, masyarakat merindukan kehadiran pemimpin, yang bisa menjadi tempat berkeluh-kesah, menyampaikan kesusahan, mengutarakan persoalan hidup sehari-hari mereka.

Karena itu, dalam beberapa momentum, sambutan yang didapatkan Sudirman Said dari masyarakat sangat mengharukan dan menggetarkan. Inilah pemandangan yang terjadi ketika Sudirman Said disambut oleh ribuan mahasiswa ketika berkunjung ke Universitas Peradaban Bumi Ayu. Mahasiswa tidak sungkan berphoto selfi dan berkelompok dengan Sudirman Said. Bahkan beberapa mahasiswa dengan semangat menjabat tangan Sudirman Said ibarat seorang gerilyawan yang baru turun dari medan tempur.

Masyarakat adalah kumpulan individu dengan jiwa yang penuh harapan, cita-cita, dan imajinasi. Hati mereka bersih dan jujur, sebab tidak terbiasa dengan perkara-perkara yang penuh dusta dan kebohongan. Sebab itu, ketika mereka bertemu dengan sosok yang mereka harapkan dapat mengurai segala persoalan mereka, ada perasaan penerimaan dan keterbukaan dalam hati mereka.

Hal semacam ini tidak mungkin dapat dirasakan oleh orang-orang yang membuat jurang pembatas antara dirinya dengan orang banyak. Apalagi oleh pemimpin dan pejabat yang memandang massa rakyat hanya sebagai kumpulan individu yang diam, atau menjadi objek semata. Para pemimpin dan pejabat seperti ini tidak dapat melihat kedalam hati masyarakatnya, sehingga mereka pun tak mendapatkan ruang dalam hati masyarakatnya.