Mohon tunggu...
Sarifisha
Sarifisha Mohon Tunggu... Lainnya - @sarifisha.svz

Nothing is impossible

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Untuk Palestina yang Tak Berpihak

5 Desember 2020   07:53 Diperbarui: 5 Desember 2020   17:14 112
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

     Ponselku berdering, kuangkat dan kuucapkan salam untuk sosok spesial yang sangat mengharapkan kesuksesan ku, yaitu Bunda. Dalam percakapan itu, bunda berpesan untuk selalu menjaga kesehatan dan minum obat teratur. Ternyata keberadaanku di sini membuat ayah dan bunda khawatir akan kesehatanku. Setelah telepon kututup, kulihat cairan merah dibajuku. Darah keluar dari hidungku, aku mimisan. Tubuhku benar-benar lemas. Tidak mungkin aku mengabari keadaanku ini untuk ayah dan bunda, yang ada mereka malah kepikiran. Sebisa mungkin aku mengurus diriku baik-baik. 

     Sudah dua tahun aku di Paris, menghabiskan waktu bersama buku-buku demi mimpi. Tak sempat lagi aku bermain-main seperti dulu. Tubuhku semakin kurus dan berulang kali aku masuk rumah sakit. Semua itu kurahasiakan dari bunda. Aku hanya ingin tidak membebani mereka. "Ada Palestina menungguku. Aku harus kuat," kataku dalam hati. Sebenarnya aku sangat ingin pulang ke Indonesia. Aku rindu canda Haidar dan Sauveza. Aku rindu pula nasihat-nasihat ayah bunda. Pipiku basah, air mata mengalir dan tak dapat lagi kubendung. Selama ini aku hanya bisa melihat senyum mereka melalui foto. 

     Hari adalah tahun keempat aku di Paris. Rasanya senang bisa bertahan, ditambah nilaiku yang selalu di atas standar. Aku selalu berusaha semaksimal mungkin, tak peduli kondisi tubuhku seperti apa. Sudah empat tahun aku di sini. Bulan depan, ada janji suci yang harus Fazea ikrarkan bersama lelaki mempelainya diusianya yang ke-24 tahun.

     Dua jam lagi Fazea harus sudah di bandara karena pesawat akan membawanya menuju tanah kelahirannya. Fazea sangat senang, sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarganya. Beribu syukur ia ucapkan atas nikmat yang diberikan. Tak perlu lama ia menunggu, pesawat yang akan membawanya pulang ke Indonesia sudah siap.

Indonesia, 2010

     Ternyata di depan rumah sudah ada ayah, bunda , Sauveza, Haidar, dan lelaki berkoko putih menunggu kedatangan Fazea. Bunda langsung memeluk tubuh anak sulungnya erat, disusul kedua adiknya dan ayah yang kin usianya menua. Senyum Fazea mengembang saat matanya menatap lelaki di depannya.

    Sempurna sudah, hanya kesenangan yang Fazea rasakan saat ini. Dua bulan berlalu, Fazea harus kembali ke Paris melanjutkan pendidikannya. Masih tiga tahun lagi Fazea harus menyelesaikan sekolahnya. Kini Fazea mempunyai pendamping hidup yang akan memberinya semangat nanti, meskipun melalui ponsel. Fazea diantar ke bandara dan siap terbang ke Paris.

Paris, 2010

     Seperti biasa, Fazea melangkah menuju kampusnya. Kesibukan kembali menyapa Fazea di akhir-akhir semesternya. Banyak rintangan yang dihadapinya. Semakin hari tubuh Fazea semakin kurus, semangat Fazea juga turun. Lagi-lagi ponsel berdering, tertulis pesan dari lelaki penyabar di Indonesia, " jaga kesehatan ya, jangan lupa minum obat, nanti kita ke Palestina bareng." Seketika semangatku bangkit lagi. Walaupun kami berjauhan, kami akan selalu bersama.

    Bulan demi bulan kulalui hingga berganti tahun. Kujalani hari-hariku seorang diri. Hanya nasihat dari ponsel yang kuterima selama ini. Tak terasa dua minggu lagi aku wisuda. "Sebentar lagi aku akan ke Palestina bersamanya, rasanya tak sabar menunggu hari itu." Gumamku. Aku menelpon keluargaku di Indonesia dan memberinya kabar kalau akan wisuda dua minggu lagi. Aku berharap mereka bisa datang ke Paris dan pulang membawaku ke tanah air. Rasanya senang sekali. Aku sangat menunggu hari itu, hari di mana aku bisa kumpul lagi bersama mereka. 

                                                         ***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun