Mohon tunggu...
sampe purba
sampe purba Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Insan NKRI

Insan NKRI

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Tanah Gayo Alas yang Mempesona

10 April 2019   14:36 Diperbarui: 10 April 2019   14:47 43
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemerintahan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Infrastruktur Bandara dan Kelistrikan  -- meretas isolasi  pedalaman Provinsi Aceh

Pesawat ATR berbaling-baling itu mendarat mulus di bandar udara Takengon Rembele, Kabupaten Bener Meriah di jantung dataran tinggi Alas Gayo -- Aceh Tengah, setelah menempuh 45 menit perjalanan dari Kuala Namu, Medan. Penerbangan pagi ini seperti berselancar di atas kehijauan hutan menyusur ufuk garis  bukit barisan ke arah barat laut pada ketinggian terbang rata-rata 1.400 meter di atas permukaan pohon.  

Tanah Gayo -- Alas, sepintas saya lihat banyak kemiripan dengan wilayah Tapanuli di pedalaman Danau Toba. Bandaranya sama sama di ketinggian ( Silangit 1420 meter di atas permukaan laut, Rembele 1413 meter, hanya selisih 7 meter).  Penduduk bertanam kopi, para prianya senang mengenakan cincin batu akik (termasuk pak Bupati lho). 

Penyambutan di pendopo Kabupaten, baik beat musik, nyanyian andung dan gerak tarinya persis tarian gondang liat-liat di Samosir. Dinamis dan sederhana. Kalau di Tapanuli ada Danau Toba, di Aceh Tengah ada Danau Laut Tawar. Ya, memang beberapa kajian ada yang menyebut bahwa secara antropologis Gayo Alas dengan Batak merupakan rumpun yang berdekatan, dan sesama proto melayu.

Bandara Rembele dibangun tahun 2000, namun landas pacunya sangat pendek, hanya berupa air strip yang kurang memenuhi syarat didarati pesawat komersial. Perluasan bandara sulit, karena pemukiman penduduk di dataran sempit di ujung landas pacu tidak mudah diselesaikan. Pada waktu itu, Takengon dan dataran tinggi Gayo Alas umumnya terisolir. Hanya dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari Medan atau Banda Aceh sekitar 6 -- 8 jam menembus kesunyian hutan, kelokan curam tajam dan cekaman kondisi keamanan yang rawan.

Perluasan Bandara, termasuk landas pacu hingga 2.250 meter secara cerdas berhasil diatasi. Diresmikan oleh Presiden Jokowi pada awal Maret 2016. Selepas peresmian, Pak Presiden bersilaturahmi dengan orang tua angkat beliau. Pertemuan  dengan orangtua angkat dan kerabat lamanya, berlangsung hangat di sebuah restoran di pusat kota. Sebagai informasi, awal karier masa muda pak Jokowi lebih dari 3 tahun dihabiskan di daerah ini.

Seyogianya pertemuan silaturahmi tersebut adalah di rumah orang tua angkat pak Jokowi (pak Nurdin), namun sesuai laporan Menteri Perhubungan (pak Ignasius Jonan), Pak Nurdin Cs rela rumahnya digusur di ujung landasan pacu demi pembangunan. Dengan pendekatan cerdas humanis, perluasan bandara yang tersendat 15 tahun,  di tangan pak Jonan selesai mulus dalam waktu singkat. Salah satu butir nawacita membangun dari pinggiran dan pedalaman, diwujudkan.

Kemarin, ke kota ini Pak Jonan datang lagi. Ini kali keempat. Tetapi bukan lagi dalam hal urusan bandara. Dalam pidatonya Plt Gubernur Aceh pak Nova Iriansyah menyambut kedatangan pak Ignasius Jonan dan rombongan yang akan meresmikan proyek kelistrikan, secara guyon menyapa pak Jonan dengan pak Menteri Perhubungan. Rupanya, jejak karya lama beliau masih membekas di wilayah pedalaman ini. Bahkan di bandara, potret peraga pemeriksaan security check in pun masih foto lama pak Jonan sebagai Menteri Perhubungan, lho.

Kedatangan pak Jonan kali ini adalah untuk meresmikan selesainya beberapa proyek kelistrikan di Provinsi Aceh yang dipusatkan di Takengon. Dihadiri Plt Gubernur Aceh, Para Bupati dan Anggota Forkominda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah) terkait, Pak Menteri ESDM meresmikan Proyek Gardu Induk 150 kV Takengon dan SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) 150 kV Takengon -- Bireun, Gardu Induk 150 kV Subulussalam dan SUTT 150 kV Subulussalam -- Sidikalang, Gardu Induk 150 kV Kutacane dan SUTT 150 kV Berastagi -- Kutacane.

Dalam laporannya, Direktur PT PLN Regional Sumatera menyampaikan bahwa pembangunan Gardu Induk dan SUTT ini akan meningkatkan kehandalan/ reliabilitas sistem kelistrikan di pedalaman Aceh hingga ke perbatasan Sumatera Utara. Diharapkan tidak ada lagi byar pet. Interkoneksi kelistrikan ke sistem Sumatera Bagian Utara, yang didukung pembangkit besar yang masuk ke sistem yaitu PLTU Nagan Raya, Pangkalan Susu, Arun dan lain-lain. Ini adalah sebagian dari tahapan interkoneksi seluruh sistem kelistrikan di Pulau Sumatera, mulai dari Aceh hingga ujung selatan Sumatera.

Pemerintah mendorong segera terealisirnya interkoneksi sistem Sumatera, seperti di pulau Jawa. Karena selain meningkatkan kehandalan dan ketersediaan daya, interkoneksi sistem kelistrikan juga akan memudahkan fleksibilitas sumber pasokan energi. Sistem pembangkit tidak lagi terisolasi, sekaligus mengurangi pemakaian pembangkit listrik bertenaga diesel. Hal ini akan memberikan penghematan keuangan dan devisa. Dengan adanya penghematan biaya operasi, Pak Menteri mengharapkan dan menekankan  betul agar  tarif listrik tidak mengalami kenaikan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun