Mohon tunggu...
Muhamad Samiaji
Muhamad Samiaji Mohon Tunggu... Tukang pos Jatinegara

Menulis sekedarnya, semoga menambah khasah keilmuan

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Asuransi Double Cover

4 November 2015   14:38 Diperbarui: 4 November 2015   14:53 323 0 0 Mohon Tunggu...

By ; ahun

Enam bulan lamanya saya mengikuti bpjs kesehatan. Asuransi pemerintah ini jauh lebih murah dari pada asuransi swasta. Hanya saja untuk mengakses rumah sakit terbilang sulit. Dengan memakai asuransi swasta. Anda hanya membawa satu kartu, lalu dilayani oleh pihak rumah sakit baik ke unit gawat darurat (ugd)/ instalasi gawat darurat (igd). Maupun ke poli kesehatan untuk rawat jalan. Berbeda cerita dengan bpjs kesehatan. Bpjs kesehatan memiliki administrasi sendiri, anda harus memilki surat rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat 1(puskesmas) baru dapat ke poli di rumah sakit. Namun itu tidak mudah, terkadang anda hanya berputar di puskesmas tingakt selanjutnya. Itulah yang terjadi pada istri saya.


Istri saya di vonis mengandung 5 minggu di puskesmas cipinang besar selatan 1. Kami selalu mengecheck kandungan setiap terjadi keluhan hingga usia 7 minggu, kemudian istri di rujuk ke puskesmas pusat untuk di check darah saja. Lalu kapan kami dapat melihat calon bayi kami?? Akhirnya kamipun berobat dengan uang sendiri ke rumah sakit Dr Sukanto (Rs Polri Kramat Jati). Saya menemani istri, kami tidak lewat jalur bpjs karna tidak diberi surat rujukan. Di sana istri diperiksa di poli kebidanan. Kami berencana jika sudah waktunya. Istri akan melahirkan di sini. Karna Rs ini dapat meng-cover bpjs. Lagi2 pelayanannya tidak memuaskan, istri hanya diberikan hasil usg tanpa diberi informasi mengenai keadaan kehamilah oleh pihak dokter, informasi hanya diterima dari perawat. Dokter hanya menggunakan alat usg saja. Lantas saya bertanya dalam hati apakah para polisi sudah tau tentang kondisi kesehatan di instasi mereka?


Lagi-lagi kamipun tidak puas dan kontrol ke RSIA hermina jatinegara. Di instasi ini juga menerima pasien bpjs. Tapi kami tidak menggunakan nya karna ingin tau kwalitas nya. Usia kandungan istri sayapun menginjak 9 bulan. Betapa terkejut setelah usg dan usg transvaginal istri di vonis BO. Sayapin syok, namun dokter menyarankan untuk check satu minggu kemudian. Sebelum pulang saya bertanya apakah bisa menggunakan bpjs? Pihak rumahb akit yang di wakili perawat menjelaskan bahwa jika memakai bpjs kami tidak bisa memilih dokter. Padahal penting bagi kaum perempuan untuk menjaga daerah kemaluannya untuk tidak dilihat selain oleh suami.


Sampailah kami pada hari sabtu. Kami check kembali ke rumah sakit dan dokter yang sama dengan metoda yang sama. Alhasil istri saya positif BO, kami pun pasrah kepada ujian dariNya. Pihak rumah sakit menyarankan untuk segera ambil tindakan. Namun saya menolak karena urusan biaya yang tinggi dan memilih memakai bpjs. Tetapi harus menunggu senin karena minggu puskesmas tidak buka. Bayangkan bagaimana mental istri saya? Semoga allah memberikan surga untuk kami berdua. Setibanya hari senin, puskesmas ramai oleh anak SD karna hari pemeriksaan gigi. Sabar menunggu akhirnya istri tanya jawab dengan bidan. Bidan mulai berasumsi namun kami balas dengan senyum saja karna kami datang dengan membawa buku hamil dari RSIA hermina.


Pada hari itu juga datang dengan rujukan, namun kami dilayani dokter yang berbeda khusus pelayan bpjs kesehatan. Tindakan operasipun dilakukan pukul 10 malam dan kemudian kembali ke rumah dengan catatan medis. Sekiranya begitulah yang kami lakukan untuk menjaga kesehatan. Double cover, dengan menggunakan dana pribadi dan bpjs kesehatan. Mungkin dari pembaca sekalian memiliki opsi meng-cover kesehatan atau memiliki opini untuk menggembangkan bpjs kesehatan. Silahkan memberi pendapat, karna tidak mungkin menghabiskan banyak dana untuk kesehatan karna ada alokasi-alokasi lain demi menyambung hidup.

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x