Mohon tunggu...
Salma Mardhiyah Nuraini
Salma Mardhiyah Nuraini Mohon Tunggu... Female

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar Berbasis Daring di Masa Pandemi Covid-19 pada Siswa Kelas 10 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Bandung

7 Maret 2021   10:15 Diperbarui: 7 Maret 2021   12:20 105 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar Berbasis Daring di Masa Pandemi Covid-19 pada Siswa Kelas 10 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Bandung
whatsapp-image-2021-02-25-at-11-28-04-am-60444515d541df58c1652e82.jpeg

Sudah satu tahun lebih wabah Covid-19 masih merajalela di Indonesia. Sampai sejauh ini menurut data 'JHU CSSE COVID-19 Data' sudah kurang lebih 1,37 juta kasus di Indonesia dengan kasus sembuh kurang lebih 1,18 juta dan kasus meninggal dunia kurang lebih sebanyak 37.026. Penyebarannya yang cepat dan tak kasat mata membuat semua orang harus waspada akan dampak yang ditimbulkan. Salah satu dampaknya yaitu bagi sistem pendidikan di Indonesia.

Pendidikan di Indonesia saat ini dilakukan berbasis daring dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Namun, bagaimanakah efektivitasnya? Sesuatu dapat dikatan efektif bila tujuan yang dirumuskannya itu diperoleh. Dan bagaimana dengan kenyataannya?

Di SMK Negeri 2 Bandung sendiri merupakan SMK di Bandung yang akreditasinya sangat baik, peserta didiknya pun melakukan pembelajaran berbasis daring  sepenuhnya. Pembelajaran daring ini mungkin sangat banyak hambatannya, tetapi tenaga pendidik bahu-membahu mengatasi faktor penghambatnya. Menurut penulis, dengan adanya pembelajaran berbasis daring ini perlu adanya kerja sama yang baik antara tenaga pendidik dan peserta didik karena pembelajarannya itu kurang terkontrol. Faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas pembelajaran daring di SMK Negeri 2 Bandung, antara lain :

  • Motivasi belajar siswa, Menurut penulis, motivasi belajar siswa merupakan hal utama dalam pembelajaran daring ini. Adanya kesadaran diri untuk memperoleh pendidikan yang baik dapat meningkatkan semangat belajar mandiri.
  • Harus dapat mengikuti perkembangan teknologi

Masih banyak tenaga pendidik dan peserta didik di luar sana yang masih belum memanfaatkan secara maksimal teknologi yang ada untuk pembelajaran maka akan tertinggal dengan yang dapat memanfaatkan teknologi secara baik. Misalnya tenaga pendidik masih belum mampu melaksanakan evaluasi pembelajaran secara daring dengan menggunakan platform online, padahal sangat banyak media yang dapat digunakan.

  • Faktor ekonomi

Adanya pandemi ini bukan hanya penghambat di bidang pendidikan, tetapi juga di bidang ekonomi sehingga para orang tua kesulitan dalam memperoleh keuangan yang stabil sehingga peserta didik mengalami dampak kendala seperti paket data yang habis, tidak adanya media untuk bertatap maya (handphone atau laptop). Jangankan untuk belajar, tetapi untuk makanpun agak sulit.

  • Tenaga pendidik yang kreatif

Pembelajaran dapat berjalan secara menyenangkan dan efektif itu kuncinya pada tenaga pendidik yang merupakan fasilitator peserta didik dalam pembelajaran. Pembelajaran yang menyenangkanpun dapat mengurangi peserta didik dari stress akademik yang dihadapi. Tidak dapat dipandang sebelah mata bahwa masih banyak tenaga pendidik di luar sana yang hanya memberikan peserta didik dengan seabreg materi dan tugas dalam setiap harinya pembelajaran. Padahal dengan adanya tugas yang banyak, efektivitas pembelajaran tidak dapat diukur. Oleh karena itu, perlu diadakannya pembelajaran secara tatap maya agar dapat mengontrol perkembangan peserta didik dalam pembelajaran.

  • Faktor lingkungan peserta didik

Faktor lingkungan salah satunya yaitu kondisi dalam rumah yang sangat mempengaruhi peserta didik dalam pembelajaran. Adanya perhatian orang tua sangat membangun semangat dan motivasi belajar siswa, dengan menanyakan pengalaman belajar saja sudah dapat dikategorikan sebagai pendampingan belajar pada peserta didik. Menurut beberapa sumber yang penulis baca, masih banyak orang tua peserta didik yang menghadapi kewalahan karena biasanya hanya mengandalkan tenaga pendidik dalam hal ini yaitu guru untuk mengarahkan peserta didik dalam belajar. Namun melihat kondisi seperti ini, dapat dikatakan bahwa semua komponen harus bahu-membahu dalam kegiatan belajar mengajar berbasis daring ini dan jangan sampai orang tua acuh pada anak-anaknya.

       

Pada kenyataanya meskipun sudah memperhatikan faktor-faktor di atas, masih banyak pembelajaran yang mengalami hambatan. Sejujurnya pada saat ini efektivitas pembelajaran tidak bisa diukur sehingga pandangannyapun masih abu-abu. Penulispun sempat mewawancarai dua orang guru SMK Negeri 2 Bandung, bahwasannya efetivitasnya kegiatan pembelajaran sulit untuk diukur. Seperti misalnya ujian harian dan ujian lainnya, peserta didik dapat mengakses apapun atau menyontek jawaban secara online karena kurangnya pengawasan. Meskipun banyak media pembelajaran yang sudah digunakan sebagai bahan kreativitas guru seperti video pembelajaran, quiz yang menyenangkan, dll. Akan tetapi hasilnya akan nol besar bila peserta didik malas membuka media yang disediakan. Oleh karena itu, yang dapat diukur saat ini adalah peran aktif dari peserta didik. Dengan adanya peran aktif dari peserta didikpun sudah sangat dihargai.

Dalam pembelajaran di masa sulit seperti ini, efektivitas sangat sulit diukur. Oleh karena itu, semua komponen harus saling bahu-membahu untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Akan sangat salah bila hanya salah satu pihak yang berjuang dalam sistem pembelajaran berbasis daring ini. Mudah-mudahan sistem pendidikan di Indonesia ke depannya semakin baik dan pandemi Covid-19 dapat berlalu.

VIDEO PILIHAN