syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Pegawai dan dagang

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Longsor Menimbun 30 Rumah di Kampung Cimapag Sukabumi

1 Januari 2019   17:28 Diperbarui: 1 Januari 2019   21:21 366 1 0
Longsor Menimbun 30 Rumah di Kampung Cimapag Sukabumi
Sumber: KOMPAS.com/BUDIYANTO: Relawan sedang mencari korban bencana longsor di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (1/1/2019).

TKP: Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamtan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Waktu: Senin, 31 Desember 2018, sekitar pukul 18.30 WIB.

Korban: 30 unit rumah tertimbun, yang terdiri 32 KK atau total 107 jiwa. Pada pukul 16.30 WIB (1/1/2019), Tim evakuasi dari Danrem 064 Suryakencana mengumumkan 15 meninggal dan 20 orang hilang. Puluhan orang diamankan di tempat pengungsian.

Catatan:

Pertama, setelah longsoran pertama pada Senin sore, pada Selasa pagi terjadi lagi dua longsoran susulan, tidak separah dengan longsoran pertama, namun mengakibatkan tim evakuasi berlarian menyelamatkan diri.

Kedua, jalur menuju TKP dari jalan utama berjarak sekitar 2,5 km menuju ke dataran yang lebih tinggi. Jalanan sempit mengakibatkan sulitnya memasukkan kendaraan berat untuk proses evakuasi.

Ketiga, dari tayangan siaran berbagai stasiun televisi menunjukkan area yang tertimbun longsoran tanah merah cukup luas. Mungkin lebih dari luas lapangan bola. Di beberapa sudut masih terlihat beberapa bumbungan rumah yang tidak tertimbun penuh.

Keempat, selama lima bulan terakhir, berbagai titik nasional dilanda bencana. Belum lama berselang gempa Lombok (Agustus 2018), lalu disusul gempa-tsunami di Palu-Sigi-Donggala (29 September 2018). Sekitar sebulan kemudian terjadi bencana jatuhnya LionAir JT610 jatuh di Tanjung Karawang. Belum juga selesai bencana tsunami Selat Sunda (22 Desember 2018), datang lagi bencana longsor di Sukabumi di malam pergantian tahun dari 2018 ke 2019, dan pada hari yang sama, juga terjadi banjir setinggi 3 meter di wilayah Labuan, Banten.

Kelima, rangkaian beragam jenis bencana tersebut membuka mata semua pihak tentang perlunya sistem kebencanaan dan sistem mitigasi yang lebih sistematik secara nasional. Tak bisa lagi diposisikan sebagai agenda sampingan, yang hanya diributkan ketika bencana terjadi, habis itu diam lagi.

Keenam, secara nasional, diperlukan publikasi massif tentang peta rawan bencana, dan dilengkapi panduan mitigasinya, sesuai dengan jenis bencananya. Pakar bencana alam Surono mengatakan, sebenarnya Indonesia sudah memiliki peta rawan bencana sejak tahun 2012. Khusus untuk kawasan rawan longsor, Surono mengatakan terdapat sekitar 40 juta penduduk Indonesia, yang bermukim di wilayah yang rawan gerakan tanah, termasuk di hampir separuh bagian selatan Jawa Barat.

Syarifuddin Abdullah | 01 Januari 2018/ 24 Rabi'ul-tsani 2017