Mohon tunggu...
syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat Seni dan Perjalanan

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Di Kota Raqqah Sejarah Berulang Berkali-kali

14 September 2016   23:29 Diperbarui: 15 September 2016   00:07 381
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sejak 2014, hampir semua tulisan dan komentar tentang kota Raqqah adalah luka dan kematian. Banyak tulisan warganya yang menceritakan: beberapa hari setelah kombatan ISIS (selanjutnya disebut IS=Islamic State) menguasai Raqqah dan mengusir tentara reguler Suriah dari kota itu, penduduk Raqqah yang saat itu berjumlah sekitar 1 juta jiwa, bersorak lega: “Ini awal sebuah kebebasan dari rezim Bashar Assad di Damaskus”.

Tapi kelegaan itu berlangsung hanya beberapa hari. Kombatan IS tahu benar cara melakukan shock therapy: mengeksekusi mati seorang komandan militer Suriah di alun-alun utama Raqqa telah menciptakan ketakutan massal. Sejak itu, tak ada satupun warga Raqqah yang berani menentang “penguasa baru”: IS. Warga yang menentang model pemerintahan IS akhirnya memilih mengungsi keluar dari Raqqah. Yang mencoba berani menentang akan menghadapi dua kemungkinan yang sama pahitnya: dipenjara atau mati.

Dan sejak dikuasai IS, sampai saat ini, nyaris tidak ada berita akurat dari Raqqah. Kabar tentang Raqqah hanya keluar melalui tulisan-tulisan warganya di media online, itupun umumnya ditulis oleh warganya yang sudah keluar dari Raqqah. Sebab IS memberlakukan peraturan ketat untuk setiap informasi yang keluar dari Raqqah. ISIS bahkan pernah melarang seluruh warga untuk ber-internet.

Akibatnya, bahkan koresponden media-media utama di Dunia Arab pun, sebutlah sekelas Aljazeera dan Alarabiya, tidak punya sumber langsung di Raqqah untuk memperoleh informasi tentang dinamika kehidupan di Raqqa.

Tidak aneh, ketika media-media global kemudian seolah “bersepakat” memposisikan Raqqa sebagai ibukota Islamic State (IS), semua mengaminkan. Padahal secara administrasi, ibukota IS adalah Mosul Irak. Raqqah adalah kota kedua, yang difungsikan untuk mengontrol operasi-operasi IS di wilayah Suriah.

Maka sekali lagi, hampir semua tulisan dan komentar tentang kota Raqqah adalah luka dan kematian, yang acapkali ditingkahi jeritan ketakuan anak-anak dan teriakan kesakitan oleh ibu-ibu.

Secara geografis, Raqqah sebenarnya tidak memiliki local genius. Posisi geografisnya land-lock. Tapi Raqqah adalah kota besar pertama yang ditemukan para pelintas batas dari Irak ke Suriah bagian utara.

Dan Raqqah memang memiliki keistimewaan yang membuatnya kota yang mampu menyediakan sumber kehidupan. Karena diiris oleh aliran sungai Euphrat, Raqqah memiliki tanah yang subur. Seorang warganya menulis “Raqqah adalah ibarat ayam yang bertelur emas”. Ibarat simpul yang menghubungkan Suriah bagian utara dengan Irak bagian utara. “Iklimnya bersahabat, airnya dari Sungai Euprhat, dan tanahnya adalah emas”.

Tapi untuk mencapainya, diperlukan niat khusus, tidak mungkin sekedar transit. Dari Damaskus ke Raqqah via Aleppo berjarak sekitar 570 km. Dan dari Aleppo berjarak 160 km ke arah timur. Sementara dari Raqqah ke Baghdad via Deir Zur berjarak 673 km. Adapun antara Raqqah dan Mosul, jalur terdekat sepanjang sekitar 470 km (lihat foto ilustrasi).

Kalau merujuk ke sumber sejarah kuno, Raqqah adalah kota yang berkali-kali berganti nama dan julukan. Di era Hellenistik Yunani, pada masa pemerintahan Raja Seleucus-I Nicator (berkuasa 301–281 Sebelum Masehi), kota itu dinamai Nikephorion. Lalu di era Raja Seleucus II Callinicus (berkuasa 246–225 Sebelum Masehi), wilayah kota diperluas dan namanya diganti menjadi Kallinikos.

Pada periode Bizantium, di era pemerintahan Leo-I (berkuasa 457–474M), kota itu kembali berganti nama menjadi Leontopolis. Raqqah pernah menjadi fenomenal dalam menjalin hubungan antara Dinasti Bizantium dengan Kerajaan Persia Sassanid, ketika melalui perjanjian khusus, Raqqah diposisikan sebagai kota perdagangan lintas batas. Pada tahun 542, kota itu dihancurkan oleh Raja Persian Khusrau-I (berkuasa 531–579), tapi kemudian dibangun kembali oleh Raja Bizantium Justinian-I (berkuasa 527–565).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun