Mohon tunggu...
Ryo Kusumo
Ryo Kusumo Mohon Tunggu... Profil Saya

Menulis dan Membaca http://ryokusumo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Keluarga Ojol: Kalau Bukan BPJS, dari Mana Kami Duitnya?

9 November 2019   10:58 Diperbarui: 10 November 2019   04:21 0 15 5 Mohon Tunggu...
Keluarga Ojol: Kalau Bukan BPJS, dari Mana Kami Duitnya?
Suasana pelayanan di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Utama Samarinda Jalan Wahab Syahranie, Rabu (4/9/2019).| Sumber: Kompas.com/Zakarias Demon Daton

Cerita nyata ini saya dapat ketika saya menunggu adik yang operasi tumor di sebuah rumah sakit di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Rumah Sakit lama tetapi lengkap, adik saya di kelas II, satu kamar berisi dua pasien.

Adik saya menggunakan asuransi swasta yang dibayarkan oleh kantornya, tidak semua gratis, ada biaya sisa yang tidak ditanggung asuransi dimana pasien harus membayar. "Yang penting gak ribet kayak BPJS, harus rujukan dulu," begitu katanya.

Ketika menunggu saya mengintip ruang pasien sebelah yang hanya dibatasi tirai warna kelabu, tirai kedua pasien kebetulan sedang dibuka ketika saya disitu. 

Saya melihat seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun, berkulit putih dan berwajah cantik yang terbaring lemah, habis operasi, pikir saya.

Gadis kecil itu ditunggui ibundanya yang berperawakan kurus, juga cantik. Demi menjaga keindonesiaan saya, saya pun mengangguk dengan senyum dan sedikit bertanya, gadis kecil itu sakit apa.

Sang ibu menjawab bahwa gadis kecil itu habis operasi tumor juga, tepatnya tumor otak. Lemas saya mendengarnya, tapi tumor tersebut kini telah diangkat dan mudah-mudahan tidak ada lagi tumor tersisa. 

Iseng lagi saya bertanya, di mana bapaknya.

"Bapaknya masih kerja."

"Kantor?"

"Bukan, ojek online, motor mas."

Oo, saya melongo. Sang ibu seperti menebak apa saya pikirkan, dia menyambung.

"Karena itu alhamdulillah mas, semua gratis."

"Gratis asuransi?" Saya masih pura-pura menebak.

"Bukan, BPJS mas, gratis semuanya, kalo enggak BPJS, darimana kami duitnya?"

Lagi-lagi saya bilang "o".

"Ribet gak bu bayarnya? bukannya juga naik iurannya?" tanya saya agak memberondong.

"Bayarnya kan tinggal lewat online juga, iuran iya naik mas, tapi kan tinggal kita mau turun kelas apa enggak. Kalau saya dan suami ya mending turun kelas tapi iuran tetap, dulu kelas II sekarang kelas III, alhamdulillah saja kelas III penuh lalu kami naik kelas ke kelas II ini, ya gapapa mas, yang penting kan obatnya sama, layanannya juga sama, adik mas sendiri pakai BPJS?"

"Enggak bu, adik saya pakai asuransi swasta," jawab saya sambil agak tersipu.

"Lha iya, asuransi swasta sama BPJS saja layanannya sama. Dulu waktu zaman Askes, suami saya sakit demam berdarah, dia dirawat inap, saya jual cincin emas saya, uang sejuta saja itu berat buat saya, mana dapat kami Askes mas, cuma buat PNS saja. Sekarang ya alhamdulillah."

Penumpukan pasien BPJS di RS. Sumber foto: Merdeka.com
Penumpukan pasien BPJS di RS. Sumber foto: Merdeka.com
Kata-kata ibu yang cantik tadi kembali mengingatkan saya, bahwa BPJS Kesehatan yang baru mulai beroperasi pada 01 Januari 2014, dibentuk atas semangat Pancasila, yaitu sila ke-5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Termasuk kesehatan, tidak boleh hanya TNI atau PNS saja yang mendapat jaminan kesehatan, sedangkan warga lain harus membeli di swasta. Harus ada penyeimbang, dan BPJS hadir di situ.

Bukan hanya keluarga ojek online itu saja yang mendapat manfaat, saya melihat di area pendaftaran pasien, pasien di zona BPJS membludak, ramai. 

Saya iseng mendekati salah satu orang tua yang mengantre disitu, jawabannya sama: gratis, tidak peduli kelasnya apa.

Jadi siapa yang sebenarnya memprotes BPJS ini-itu? Mereka mewakili siapa sebetulnya? Bahkan ada kawan yang kerap mengkritik BPJS (padahal kami dapat BPJS dari kantor) tidak pernah pakai BPJS. Dia pakai asuransi swasta (yang juga disediakan kantor).

Lain hari, ketika saya mengantar anak ke sekolah, saya mampir di mart terdekat, saya antre bayar persis di belakang seorang wanita lansia (yang dipanggil Oma oleh seorang gadis muda). 

Si Oma sedang ngomel-ngomel karena dia harus membayar 300 ribu untuk BPJS kesehatan dua orang (dia dan anaknya).

"Nih ya, dasar BPJS ancur, 300 ribu saya bayar sekarang, padahal enggak buat ngapa-ngapain, coba tuh, naik terus, manfaatnya dapet kagak!"

"Lho, kan bisa turun kelas Oma, tetap bayarnya sama."

"Ih, ogah, kelas II gitu? ih ogah."

Saya senyum saja, si Oma bilang dia tidak mendapat manfaat apa-apa dari membayar iuran. Mari kita hitung manfaat dari si ibu yang anak gadisnya habis operasi tumor otak.

Si ibu membayar iuran BPJS (sebelum naik) kelas II di 59 ribu rupiah, anggaplah si suami sudah membayar premi untuk si anak dalam setahun penuh 708 ribu rupiah (59 ribu x 12). 

Ketika si anak tumor otak, berapa total biaya yang seharusnya keluar? Lebih dari 15 juta rupiah, bahkan ada yang puluhan juta rupiah.

Saya yakin, si Oma belum ada di keluarganya yang harus mengalami kejadian seperti keluarga driver ojol tersebut.

Apakah kita selalu harus mengalami hal pahit dulu untuk bersyukur dan berterima kasih?

"Manusia memang tempatnya salah, tapi kalo ngeluh terus, sama saja kayak sapi," ujar Panjul sambil nyeruput kopi sachetnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4