Mohon tunggu...
Ryan M.
Ryan M. Mohon Tunggu... Editor - Video Editor

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun. Professional portfolio : http://youtube.com/user/ryanmintaraga/videos Blog : https://blog.ryanmintaraga.com/

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Pening dan Mual ketika Membuka Kompasiana (Dashboard Kebanjiran)

14 April 2014   15:14 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:42 91
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption id="" align="aligncenter" width="504" caption="Kompasiana (sumber gambar : kompasiana.com)"][/caption]

Posting ini saya tulis sebagai luapan rasa 'mual' dan pening yang saya tahan beberapa hari belakangan ini.  Mohon maaf sebelumnya...

Saya pikir dengan suksesnya penyelenggaraan Pemilu Legislatif 9 April 2014 lalu, berakhir pula segala tulisan yang berbau Jokowi - baik yang memujanya maupun yang mencelanya.  Ternyata dugaan saya salah.  Meski tidak semasif sebelumnya, tulisan-tulisan yang membahas sosok calon presiden ini masih saja bermunculan.  Begitu juga komentar atas tulisan yang dulu-dulu - yang pernah saya komentari - juga masih bermunculan.

Artinya?

Ya, dashboard saya yang berkapasitas mini sekarang ini disesaki oleh deretan huruf yang mengandung frasa 'JOKOWI'.

Kompasianer bisa membayangkan rasanya?  Ibarat orang yang tiap hari disuapi makanan itu-itu saja, lama kelamaan akan timbul juga rasa bosan bahkan mual dan pengen muntah!  Apalagi saya juga punya kecenderungan untuk semakin tidak menyukai sesuatu yang dielu-elukan banyak orang.  Komplet sudah rasa 'mual' saya - yang kemudian saya tuangkan dalam bentuk tulisan supaya saya tidak ikut-ikutan depresi dan stres seperti caleg-caleg ambisius yang terancam gagal masuk ke Senayan.

Saya tidak membenci Jokowi, Prabowo, Dahlan Iskan, SBY, ARB, Rhoma Irama, atau siapapun karena toh saya tidak mengenal mereka.  Mereka semua ada di posisi yang sama di mata saya, pasti punya kebaikan dan sekaligus keburukan (jangan minta saya untuk menuliskannya, saya tidak suka sok pintar membahas politik).  Saya sangat menghormati Kompasianer yang menulis tentang Jokowi atau siapapun - terlepas dari isi dan latar belakang yang mendasari lahirnya tulisan tersebut.

Minat saya bukan politik.  Titik.

Saran (sambil lalu) untuk Admin dan Kompasianer


Please, saya juga ingin dihargai sebagai Kompasianer yang tidak tertarik pada politik.  Jika saja di Kompasiana ada fasilitas semacam "unfollow post" seperti di facebook atau "unsubscribe post" seperti di milis-milis tanpa harus melakukan unfriend misalnya, pasti akan saya lakukan.  Dengan fitur unfollow semacam itu, saya juga membayangkan dashboard saya akan lebih bersih.

Mungkinkah ke depannya akan ada fitur semacam ini di Kompasiana?  Atau mungkin kelak ada fitur dimana kita bisa mengatur agar di dashboard tidak muncul tulisan-tulisan yang mengandung frasa tertentu misalnya?  Saya sangat mengharap hal ini terwujud.

Maaf saya pada tim admin, saya paham Anda sudah bekerja sangat keras untuk Kompasiana.  Tapi semoga permintaan ini setidaknya bisa menjadi perhatian, terimakasih sebelumnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun