Mohon tunggu...
Ruri Andayani
Ruri Andayani Mohon Tunggu... Freelancer - Hanya seorang penyintas kehidupan

Saya siapa yaa?

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Sensasi ala Colosseum di Ampiteater Mini Selasar Sunaryo

19 Maret 2018   11:05 Diperbarui: 19 Maret 2018   11:12 944
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ini salah satu tempat favorit saya buat ngopi-ngopi di Bandung: Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Rasa kopinya mah standar: cappuccino, au lait, americano, yah begitu-begitulah. Yang bikin betah itu ambience-nya, jiaah ambience... Tapi kenapa kata suasana jadi terkesan terlalu harfiah. Ah sudahlah.

Selain udaranya jauh lebih sejuk daripada Kota Bandung-nya sendiri, karena berada di ketinggian Bandung utara, pemandangannya juga indah memesona. Lokasinya rada nyingcet, begitu orang Bandung bilang, dengan pangkal jalan masuk yang sempit menikung, yakni di Jalan Bukit Pakar Timur.

Secara administratif, wilayah ini sudah masuk Kabupaten Bandung, tepatnya di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan. Biar begitu, SSAS itu "beungeut kabupaten rejeki kota"; ini istilah lelucuan orang Bandung lagi, yang biar agak pedih tapi tetap bikin ngakak rame-rame. "Beungeut" artinya "wajah"; bahasa Sunda gaul kalau tak mau disebut kasar.

Ngopi menjadi tak sekadar ngopi di SSAS karena area keseluruhan dirancang serba artistik sehingga ada yang bisa ditonton. Nilai seni mulai terasa sejak area parkir kendaraan, ruang pamer seni (sudah pasti), hingga bangunan-bangunan di dalamnya, termasuk musala. Tapi yg selalu mengesankan saya adalah ampiteater mininya.

Pintu masuk ruang pamer SSAS dengan efek
Pintu masuk ruang pamer SSAS dengan efek

Di tempat parkir, sang seniman pemilik SSAS (Sunaryo) memajang beberapa karya seni yang menunjukkan obsesinya pada batu (obsesi sang seniman kepada batu dapat dilihat di tempat khusus yang diberi nama Wot Batu yang lokasinya di seberang jalan SSAS; sebuah tempat hasil perenungan puluhan tahun dari sang seniman).

Sekadar untuk diketahui, Jalan Bukit Pakar timur sejak lama memang menjadi favorit kediaman para seniman, termasuk yang dianggap agak "aneh" seperti Sudjana Kerton atau Deddy Suardi. Kedua seniman terakhir ini mengaku pernah "berinteraksi" dengan UFO bahkan diculik. Keduanya kemudian mendapat ilham membangun rumah merangkap galeri di kawasan ini,  masing-masing bernama Sanggar Luhur dan Protagon. Mereka adalah... Eeeh, kembali ke pembahasan utama.

Pertamakali mengunjungi SSAS adalah pada 2000, tiga tahun sejak diresmikan. Suasananya waktu itu belum seramai sekarang. Saya ingat seni yang sedang digelar di art space-nya kala itu adalah terkait tragedi 1998.

dokpri
dokpri

Ada dua jalan masuk. Jika ingin langsung ke Kopi Selasar bisa masuk melalui jalur sempit mirip gang di sayap kiri bangunan, tapi jika ingin melihat-lihat karya seni yang sedang dipertunjukan lebih dulu, bisa masuk melalui pintu utama yang adalah galerinya. Namun semua area saling terhubung.

Pintu utama galeri terinspirasi dari "julang ngapak" yang terdapat pada rumah adat Sunda. Filosofi julang ngapak adalah --yang informasinya saya ketahui dari seorang kenalan di SSAS-- membuat orang yang akan masuk berasa ingin menundukan kepalanya. Mungkin ini bukan filosofi juga, melainkan efek psikologis dari arsitektur julang ngapak.Jika dideskripsikan, bukankah kita tanpa terasa jadi ingin menundukan kepala jika sedang melaju di jalanan, lalu ada jembatan melintang. Begitulah kira-kira.

Bagi muslim, masuk waktu salat sudah pasti mencari-cari musala.  SSAS memanjakan muslim bukan dengan luas, melainkan, tetap, melalui seni. Kapasitas musala hanya cukup untuk sekitar lima orang, namun suasana teduh dengan teknik pencahayaan alami (di kala siang) memaksa pikiran mumet jadi ikut tenteram.

Jika memiliki waktu cukup luang, seusai makan-makan dan mimik-mimik kopi di Kopi Selasar, bereksplorasilah. Di area belakang SSAS, ada pendopo dengan lanskap mirip suasana candi berbahan bata-ekspos; keren buat foto-fotoan. Di sini juga terlihat satu rumah tradisional Sunda, dengan ciri "julang ngapak"-nya tersebut. Entah rumah ini bisa disewa atau sekadar pajangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun