Mohon tunggu...
Rum Aisha Zahra
Rum Aisha Zahra Mohon Tunggu... Mahasiswa - Rum

find the home

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Berkenalan dengan Ruminasi

26 September 2021   22:57 Diperbarui: 27 September 2021   09:19 50 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Berkenalan dengan Ruminasi
ilustrasi

Pernahkan diantara kalian berpikir secara terus-menerus mengenai kejadian di masa lalu yang mengecewakan seperti, "Kenapa hal itu bisa terjadi ya?" " Mengapa tidak ada yang berubah dari hidupku?"  Hal tersebut bisa jadi  termasuk dalam kategori ruminasi atau biasanya lebih kita kenali dengan istilah overthinking. Ruminasi merupakan sesuatu yang hampir sama dengan kekhawatiran tetapi lebih berfokus kepada kejadian masa lalu yang negatif dan khawatir akan gagalnya mencapai keinginan serta tujuan hidup yang penting (Watkins 2016).   Ruminasi juga masih ada kaitannya terhadap gangguan mental yang lain seperti gangguan cemas atau biasa dikenal dengan anxiety dan dapat menjadi salah satu penyebab munculnya depresi karena terus-menerus memikirkan perasaan negatif dari apa yang dialami sehingga kehidupan individu tersebut terganggu.

'Ruminasi' dan 'kekhawatiran' memiliki kesamaan berikut, yaitu: bersifat negatif,  terdapat pola pikir yang sama secara terus-menerus, dan tidak dapat dikontrol. Lalu, adakah perbedaan kekhawatiran dengan ruminasi tersebut? Adapun perbedaannya terletak pada  objek yang dipikirkan. Ruminasi lebih berfokus kepada suatu peristiwa di masa lalu, suatu hal yang akan menimbulkan pertanyaan "kenapa" dan "mengapa" pada individu yang mengalaminya, dan biasanya diiringi dengan gangguan mental lainnya seperti depresi. Sementara kekhawatiran lebih berfokus dengan masa depan dan mempertanyakan hal yang belum pasti terjadi. 

Jadi, apakah ruminasi juga termasuk dalam overthinking? Iya, karena orang yang overthinking akan selalu merasakan adanya beban hidup yang tak kunjung selesai sehingga akan sampai pada suatu titik mempertanyakan kualitas hidup yang telah dijalankan selama ini.

Setelah mengenali ruminasi, bagaimana cara kita mengatasi ruminasi tersebut jika terjadi pada diri sendiri dapat dilakukan dengan beberapa langkah:

Pikirkan dan Temukan Kembali Tujuan Hidup 

Seringkali karena seseorang masih terjebak pemikirannya di masa lalu hingga melupakan hal-hal yang  sebenarnya ingin dituju. Salah satu langkah awal untuk mengurangi ruminasi yaitu mengubah mindset agar dapat memulai langkah baru  berusaha  untuk hidup di masa sekarang dan perlahan menjadikan hal yang terjadi di masa lalu sebagai pembelajaran. Pahami kembali ruminasi yang terjadi pada diri sendiri. Hal itu dapat dilakukan dengan cara memikirkan lebih dalam makna yang didapatkan dari ruminasi yang terjadi. Perspektif ruminasi yang cenderung negatif, menjadikan kita berlarut-larut akan kesedihan dan kekecewaan tanpa disadari ruminasi juga dapat dijadikan sebagai pemecahan masalah apabila kita dapat mengontrol hal tersebut dengan baik.

Tentukan Plan B dalam Hidup

Plan B disini bermakna rencana lain dalam hidup kita ataupun hal-hal lain yang dapat dijadikan alternatif setelah menentukan tujuan utama. Hal tersebut sebagai aksi preventif agar tidak terulang lagi ruminasi jika ada kegagalan yang terjadi dan untuk kesiapan mental diri sendiri.

"Kenapa?" menjadi "Bagaimana?"

Orang yang mengalami ruminasi selalu diliputi dengan berbagai pertanyaan kepada dirinya sendiri tentang mengapa kesalahan atau kekhawatiran yang ditimpanya itu terjadi. Oleh sebab itu, mencoba untuk mencari solusi dari berbagai pertanyaan "kenapa" akan mengubah pola pikir dan mencegah ruminasi itu terjadi. Menurut psikolog Inggris, Edward Watkins terdapat tiga hal penting dalam mengubah hal tersebut:

  1. Cari tahu kapan kita mulai merenungi hal-hal tersebut, disaat apa munculnya pertanyaan "kenapa" di dalam pikiran kita;
  2. Ganti pertanyaan kenapa dengan pertanyaan bagaimana, "Kenapa itu bisa terjadi?" menjadi "Bagaimana agar hal itu tidak terjadi lagi?";
  3. Berlatihlah bagaimana mengalihkan hal tersebut jika terjadi ruminasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan