Mohon tunggu...
Rully Moenandir
Rully Moenandir Mohon Tunggu... TV and Movie Worker

Seorang ayah dari 4 anak yang bekerja di bidang industri televisi dan film, serta suka sekali berbagi ilmu dan pengalaman di ruang-ruang khusus sebagai dosen maupun pembicara publik. Baru buat blog baru juga di rullymoenandir.blogspot.com, setelah tahun 2009 blog lamanya hilang entah kemana.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Benarkah Bernyanyi Sebelum Tidur Dapat Memancing Literasi Anak?

28 Desember 2019   15:08 Diperbarui: 28 Desember 2019   15:25 108 0 1 Mohon Tunggu...
Benarkah Bernyanyi Sebelum Tidur Dapat Memancing Literasi Anak?
dokpri

Untuk saya yang profesinya lebih sering pulang malam di hari kerja, terkadang suka sedih karena seringkali merasa kehilangan waktu bersama keluarga. Terkadang juga was-was karena tidak sepenuhnya mampu memantau apa saja yang terjadi di rumah selama saya mencari nafkah. Tapi ya mau gimana lagi, cuma doa dan usaha saya saja yang bisa saya lakukan dalam membina dan menjaga cita-cita pernikahan dan mengemban amanah Tuhan yang diberikan toh?

Terkait menjaga amanah soal anak, saya yang termasuk golongan telat dalam suka membaca buku ini ingin sekali mencoba "mengupgrade" kesukaan membaca ini kepada generasi penerus saya alias anak-anak saya saat itu...sedikit cita-cita sebelum menikah tentunya. 

Janji agar ketika nanti jika diamanahi anak dalam pernikahan, akan mencoba menularkan semagat dan kesukaan membaca ke keturunan saya, karena setelah suka membaca di awal-awal kuliah dahulu, ternyata membuat saya lebih terbuka dalam berfikir, lebih banyak tahu akan berbagai macam ilmu, dan lebih mengerti akan banyak hal terkait kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat...yang sebenarnya hal-hal tadi belum pernah saya lakukan, namun bisa menjadi pijakan langkah yang jika kemudian terjadi di diri saya pribadi, sayapun bisa mengatasinya dengan baik minimal mengikuti langkah-langkah dari contoh yang pernah saya baca sebelumnya.

Nah beranjak dari hal tadi, keinginan membuat anak suka membaca sejak dini akhirnya menjadi PR awal, selain bagaimana menjaga kesehatan dan memperhatikan tumbuh kembang anak sejak ia lahir. Setelah fase-fase tadi terlewati, kemudian mulailah penerapan "strategi" membawa anak untuk menyukai membaca.

Ketika sang anak pertama kami masuk di usia6 bulan, dimana saat itu entah kenapa ia tidak bisa tidur sebelum papanya pulang ke rumah, menjadikan "kick starter" saya untuk mencoba beberapa teori yang pernah saya baca sebelumnya.

Bernyanyi adalah pilihan utama, selain untuk melepas penat sehabis bekerja, juga kami gunakan untuk memancing sang anak untuk mengikuti ucapan kata yang harapannya bisa memperlancar bicara kedepannya, selain juga menina bobo-kan karena waktu sudah beranjak pukul 11 malam atau bahkan pukul 1 pagi dini hari.

Keputusan memasukkan anak sejak masuk usia 3 tahun ke tingkat PAUD-lah yang menjadi "starter kick" saya untuk mencoba mengerjakan memantapkan "strategi" tadi. Anak pertama kami yang kemudian sudah berumur 4 tahun dan sudah memiliki adik yang berumur 2 tahun ini lah akhirnya mulai terlihat hasilnya.

Kebiasaan kakaknya yang tidak bisa tidur saat papanya belum pulang ke rumah, menular ke adiknya. Senang sekaligus sedih sebetulnya melihat anak-anak kecil ini belum juga memejamkan mata di pukul 11 malam atau bahkan pukul 1 pagi menunggu papanya kembali ke rumah, senang karena masih bisa bercanda dan ngobrol bersama mereka, sedih karena pasti mereka ngantuk, lelah, dan kesal mungkin menunggu papanya pulang, sedangkan mamanya sendiri (menurut pengakuan istri) sudah berkali-kali ketiduran saat kedua buah hati kami ini asik bermain berdua...

====

Berbicara soal "strategi" tadi, anak pertama kami sudah mulai lancar berbicara saat menginjak umur 10-11 bulan, dan setelah mampu berjalan di umur yang tidak begitu jauh setelah bisa berbicara, ia juga mampu menirukan gaya atau nyanyian yang bisa mereka lihat di layar kaca.  Sedangkan untuk anak ke 2, walaupun si kakak sudah mulai masuk PAUD, tetap saja rasanya "tidak tega" untuk mengajari mereka membaca dan menulis di rumah. 

Ingin rasanya keceriaan dan kegembiraan mereka tetap tumbuh tanpa diberikan "beban" memutar otak untuk menghapal bentuk, bunyi, dan pelafalan secara sekaligus untuk mengenal huruf, dan angka. Karena jelas, menurut yang saya baca dalam sebuah teori mengenai rentang masa perkembangan anak usia dini menurut Aristoteles dalam Santoso (2007:1.13) disebutkan bahwa :

1) Fase I adalah usia 0 tahun sampai 7 tahun Fase ini disebut masa anak kecil, masa bermain.

2) Fase II adalah usia 7 tahun sampai dengan 14 tahun,Fase ini disebut masa anak, masa belajar dan masa sekolah rendah.

3) Fase III adalah usia 14 tahun sampai dengan 21 tahun. Fase ini disebut masa remaja atau masa pubertas.

Salah satu dorongan mengupgrade "strategi" tadi itupula, adalah analisa saya yang melihat mereka berdua suka sekali menonton film kartun DORA THE EXPLORER dan DISNEY CHANNEL, dimana segala bentuk pengetahuan tadi dibuat lebih banyak dalam bentuk nyanyian yang ditempel dalam sebuah cerita

Yah....sedikit banyak, nyambung dengan teori-teori yang pernah saya baca, misalnya "Dalam pengembangan bahasa banyak sekali metode-metode yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan aspek perkembangan bahasa anak diantaranya adalah melalui kegitan bercerita, bermain peran, demonstrasi, bercakap-cakap, tanya jawab, bernyanyi dan masih banyak lagi yang lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x