Mohon tunggu...
Ruang Diskusi
Ruang Diskusi Mohon Tunggu... Penulis - Meet the World

Ruang bersama untuk simak: 🌐 Update Internasional 📝 Studi Kasus 🎯 Diskusi anak HI Dengan gaya pembahasan yang santai dan ringan ✌🏻

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Skandal PBB Part I: Program "Oil for Food"

12 Agustus 2021   18:52 Diperbarui: 12 Agustus 2021   19:03 658
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Michael Soussan menggunakan jas abu-abu dan disebelahnya Benon Sevan, Sumber: Jewish Standard https://jewishstandard.timesofisrael.com/

Pada interim report Februari 2005, dikatakan program’s procurement office tidak mengikuti aturan yang ada untuk menjamin adanya akuntabilitas. 

Selain itu komite juga menuduh Benon Sevan, kepala dari program ‘minyak untuk makanan’, sebagai irreconcilable conflict of interest karena membantu perusahaan tertentu untuk mendapatkan kontrak penjualan minyak Irak.

UN Independent Inquiry Committee telah mengeluarkan empat interim reports sejak April 2004. 

Dalam laporan-laporan tersebut tidak ditemukan bukti adanya skandal yang melibatkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Koffi Annan dalam skandal program ini. 

Namun komite menemukan upaya anak Koffi Annan, Kojo Annan, menyembunyikan hubungan bisnis dengan kontraktor utama program ‘minyak untuk pangan’. 

Kojo Annan, yang mana bukan merupakan pegawai PBB, menerima uang sekitar USD 400.000 dari Cotecna Inspections S.A. antara tahun 1995 hingga 2004. Kojo Annan secara resmi berhenti bekerja dari Cotecna pada tahun 1998, dirinya berhenti sesaat setelah Cotecna memenangkan kontrak dengan PBB senilai USD 10 juta. 

Namun dirinya tetap menerima dana ribuan dolar dari Cotecna setiap bulan hingga tahun 2004, dengan dalih bahwa pembayaran tersebut merupakan bagian dari perjanjian (yang mana merupakan unusual agreement) untuk menolak bergabung dengan perusahaan pesaing Cotecna.

Dalam program ‘minyak untuk pangan’, PBB seharusnya menjadi pihak yang memantau dan memberikan persetujuan seluruh penjualan minyak Irak. 

Semua keuntungan masuk ke rekening khusus yang dikendalikan PBB, karena tujuan program ini ialah untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar rakyat Irak. Irak tidak diizinkan untuk membeli peralatan militer dengan hasil penjualan minyaknya. 

Namun dalam program ini, Irak diberi kebebasan untuk menentukan kepada siapa Irak akan menjual minyaknya dan Irak juga diizinkan untuk memilih vendor penyedia bantuan kemanusiaan kepada PBB. Pada program ini Saddam Hussein dikatakan mengambil keuntungan miliaran dengan mengendalikan keputusan ini. 

Saddam dikatakan membuat sistem “oil vouchers” secara rahasia senilai jutaan dolar kepada para individu dan perusahaan yang membantu Irak, ketika Irak dijatuhi sanksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun