Mohon tunggu...
ROY PUTRA MARTHEN FIKOM
ROY PUTRA MARTHEN FIKOM Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

memberikan informasi positif dan akurat bagi para pembaca

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Teknologi Komunikasi dalam Ekologi Media dan Media Baru (Media Ecology and New Media)

10 November 2022   11:24 Diperbarui: 10 November 2022   11:42 763
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Kemajuan teknologi adalah sutu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan sekarang ini, karena kemajuan teknologi akan terus berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi teknologi banyak dimanfaatkan oleh manusia dalam berbagai hal. Contohnya ekologi media, apa itu ekologi media?. Ekologi media adalah teori yang mempertimbangkan lingkungan sosial dan individu yang berbeda dan dibentuk oleh penggunaan teknologi komunikasi yang berbeda. Marshall McLuhan, salah satu pendiri teori ekologi media, berfokus pada studi tentang dampak teknologi terhadap lingkungan sosial.

Dalam ekologi media, salah satu pernyataan dari McLuhan adalah bahwa "the medium is the message". Secara harfiah, pepatah ini berarti "medium adalah pesan". Namun, ini bukan poin utama dari pernyataan itu. Secara tradisional, media dan pesan secara umum telah dianggap sebagai dua hal yang terpisah. Tidak seperti McLuhan, ia melihat medium dan pesan secara keseluruhan. Harap dicatat bahwa psikis dan psikis bukanlah hal yang sama dan kedua istilah tersebut tidak boleh digunakan secara bergantian. Media adalah istilah umum untuk semua teknologi buatan manusia yang berguna untuk memperluas jangkauan, kecepatan, atau saluran komunikasi; sedangkan media adalah jenis media tertentu, seperti buku, surat kabar, televisi, film, situs web, dan email (Griffin, 2011).

Ketika membicarakan pengaruh kultural media, tak jarang kita justru lebih fokus pada konten media ketimbang memperhatikan mediumnya. Kita cenderung fokus pada konten dan mengabaikan medium, walaupun konten sebenarnya tidak benar-benar ada di luar medium yang menyalurkannya. Ambil contoh film Danur: I Can See Ghosts pada tahun 2017 lalu, yang telah memecahkan rekor MURI sebagai film horor Indonesia dengan penonton terbanyak, yakni lebih dari satu juta orang dalam seminggu. Meskipun sukses meraih banyak penonton, banyak juga penonton yang mencibir film tersebut karena berbagai alasan, salah satunya karena alur film yang jauh berbeda dengan alur novel yang diadaptasinya. Perbedaan atau perubahan   dalam adaptasi film sulit dihindari, karena mediumnya memang berlainan. Tidak semua hal yang terdapat di buku dapat diadaptasi dengan baik ke dalam film, begitu pula sebaliknya. Pada akhirnya, baik versi buku maupun versi film, keduanya adalah cerita yang berbeda. Oleh karena itu, kita semestinya tidak boleh mengeluh bahwa sebuah film tidak persis seperti buku yang menjadi sumber adaptasinya, karena film memang tidak pernah bisa persis seperti buku. Film hanya bisa jadi film.

Asumsi Teori Ekologi Media

Dalam Introducing Communication Theory: Analysis and Application, West dan Turner (2010)  menjabarkan tiga asumsi yang membingkai teori ekologi media, yaitu:

1.Media mempengaruhi setiap tindakan dalam masyarakat.

2.Media memperbaiki persepsi dan mengatur pengalaman seseorang.

3.Media menyatukan dunia.

Asumsi pertama berarti bahwa tidak ada yang bisa lepas dari pengaruh media selama hidupnya. Media meresap dalam eksistensi  masyarakat. Kita tidak bisa menghindari atau menjauhi media. Istilah 'media' dalam hal ini mengacu pada definisi McLuhan tentang media yang  telah disebutkan di atas, sehingga media dalam konteks  ini menjangkau banyak   hal dalam kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya banyak pakar ekologi media menginterpretasikan media dalam jangkauan luas. Misalnya, selain mengamati media konvensional (radio, film, dan televisi), McLuhan juga mengamati pengaruh penggunaan angka, game, dan uang pada masyarakat.

Asumsi kedua berkaitan dengan asumsi pertama, yaitu media mempengaruhi seseorang.Pakar ekologi media mempercayai bahwa media mempertajam persepsi dan mengatur hidup seseorang. McLuhan menunjukkan di sini bahwa media memiliki peran yang cukup kuat dalam membentuk pandangan kita tentang dunia. Tanpa disadari, kita telah dimanipulasi oleh televisi. Sikap dan pengalaman kita secara langsung dipengaruhi oleh apa yang kita tonton di televisi, dan sistem kepercayaan kita tampaknya dapat terpengaruh, baik secara positif maupun negatif oleh televisi.

Asumsi ketiga teori ekologi media berkaitan dengan bagaimana media menghubungkan masyarakat di seluruh  penjuru dunia. McLuhan menggunakan  istilah   "global   village"  untuk mengilustrasikan bagaimana media mengikat dunia ke dalam satu sistem politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang sangat besar. McLuhan berpendapat bahwa media dapat mengatur masyarakat secara sosial. Media elektronik, khususnya, memiliki kemampuan untuk menjembatani dua (atau lebih)  budaya   yang   belum   pernah   saling   berkomunikasi   sebelum   munculnya koneksi yang terjalin ini. Efek   dari   desa   global   ini, menurut   McLuhan (1964), adalah kemampua untuk menerima informasi secara instan.  Konsekuensinya, kita juga harus peduli dengan peristiwa-peristiwa global, daripada tetap fokus pada isu-isu di komunitas kita sendiri. Dia mengamati bahwa "dunia tidak lebih dari sebuah desa" dan bahwa kita harus merasa bertanggung jawab untuk orang lain, karena orang lain kini "terlibat" dalam kehidupan kita berkat kehadiran media elektronik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun