Rob Roy
Rob Roy profesional

Dharma Eva Hato Hanti

Selanjutnya

Tutup

Hijau Pilihan

Sumber Daya Alam Non Fosil, Kelangkaan dan Masalah Lingkungan

14 Januari 2018   17:51 Diperbarui: 14 Januari 2018   19:08 2048 1 0
Sumber Daya Alam Non Fosil, Kelangkaan dan Masalah Lingkungan
Reklamasi laut. (Koleksi pribadi)

Perkembangan pesat pembangunan infrastruktur di berbagai belahan dunia telah meningkatkan pula kebutuhan bahan baku alam. Pasir dan kerikil merupakan komoditas utama yang digunakan untuk pengembangan jalan, jembatan, bendungan, bandara, bangunan gedung. Sedangkan pasir laut adalah salah satu komponen utama dalam mereklamasi laut. Peningkatan kebutuhan secara besar-besaran ini telah menimbulkan kekhawatiran akan kelangkaan sumber daya alam dan permasalahan lingkungan.  

Negara-negara Asia menjadi kontributor utama sebagai pihak yang membutuhkan pasir saat booming pembangunan. Singapura, negara importir pasir urug terbesar di dunia, memiliki program memperluas wilayahnya sebesar 25 % melalui reklamasi laut, yang sejauh ini belum menghentikan programnya.

Sepanjang tahun 2016 misalnya, Singapura dilaporkan telah mengimpor pasir sebesar USD 752 juta dari Kamboja. New Delhi mengalami peningkatan populasi sebesar tiga kali lipat dalam 25 tahun terakhir. Sementara Beijing tumbuh empat kali lipat dari tahun 1999 sampai 2009. Di Indonesia sendiri, pemerintah yang gencar membangun infrastruktur di berbagai kawasan mulai meningkat tiga tahun terakhir ini.

Belt and Road Initiative,sebuah program ambisius China yang diluncurkan pada tahun 2013 untuk meningkatkan perdagangan dan diplomasi global lebih dari 60 negara di Asia, Afrika dan Timur Tengah, telah meningkatkan pengembangan fasilitas infrastruktur yang memadai, baik di darat maupun di laut. Program ini termasuk pengurugan laguna dan menutupi karang dengan pasir untuk pembuatan pulau-pulau buatan di Laut China Selatan.

KELANGKAAN YANG MEMBAYANG

Lebih dari 70 persen dari total pasir yang ditambang untuk konstruksi pada tahun 2014 digunakan di Asia, terutama di China, menurut firma riset pasar Freedonia Group.Jumlah beton yang digunakan China dalam 4 tahun terakhir sama dengan jumlah yang digunakan oleh AS dalam 100 tahun. Kecenderungannya terus berlanjut selama tahun-tahun depan. 

Menurut Price Waterhouse Coopers, Asia mewakili hampir 60 persen dari pengeluaran infrastruktur global pada tahun 2025, terutama didorong oleh pertumbuhan China. Pada tahun 2019 saja, Asia akan membutuhkan hampir 11 juta ton pasir, hampir 8 juta ton di antaranya akan digunakan hanya di China (data Freedonia Group).

Dalam sebuah laporan PBB tahun 2014, Pascal Peduzzi, Direktur Database Informasi Sumber Daya Global PBB, mengatakan bahwa pasir dan kerikil telah melampaui bahan bakar fosil dan biomassa untuk menjadi bahan yang paling banyak diekstraksi di dunia, dan "sekarang diekstraksi pada tingkat yang jauh lebih besar daripada tingkat pembaharuannya". Masalahnya akan memburuk pada tahun ini dan seterusnya karena permintaan terus berkembang, terutama di Asia, karena sumber daya yang semakin terbatas.

Negara-negara di Asia, seperti Indonesia dan Vietnam, telah melarang atau membatasi ekspor selama beberapa tahun terakhir, sementara India telah mulai membatasi lisensi yang dikeluarkannya untuk mengekspor pasir. Di Kamboja, ekstraksi pasir di provinsi Koh Kong telah menyebabkan dampak lingkungan jangka panjang di wilayah sungai. 

Di Cina, ekstraksi pasir telah menyebabkan penurunan dramatis permukaan air Danau Poyang, danau air tawar terbesar di negara itu. Di India, ketika terjadi kekurangan pasir yang parah, pasir diambil dari sungai musiman (ketika kemarau sungai itu kering). Padahal pasir yang mengandung kandungan lumpur yang tinggi memiliki kelembaban yang tinggi pula dan bisa mengurangi kekuatan beton.

Secara umum, di negara-negara yang giat mengekstraksi pasir bangunan dari sungai-sungai yang tidak mampu merehabilitasi atau melakukan pembaharuan kembali akan mengalami masalah kelangkaan. Kurangnya pasir sungai ini dalam jangka pendek akan meningkatkan harga komoditas. Salah satu contoh, di Vietnam harga pasir diprediksi akan mencapai USD 8,60 ton pada tahun 2019 (naik dari USD 5,65 pada tahun 2014).

MASALAH LINGKUNGAN JUGA

Dampak lingkungan yang timbul terutama ditemukan pada kegiatan ekstraksi pasir laut di kawasan pesisir. Penghancuran mangrove dan intrusi air laut yang semakin masuk ke daratan pada akhirnya mencemarkan kualitas air tanah. Juga terjadi penurunan populasi kepiting yang mengganggu keseimbangan biota laut.    

Bagaimana dengan di Indonesia? Sentra sumber pasir di Lumajang Jawa Timur misalnya, pasir halus untuk konstruksi dinding dan pasir cor untuk struktur beton secara tradisional di ambil dari sungai yang berasal dari pegunungan. Begitu juga halnya dengan sungai-sungai lain yang mengalirkan lahar vulkanis di banyak lokasi di Indonesia. 

Lalu bagaimana dengan pasir laut yang melimpah di pesisir pulau-pulau? Pasir laut tidak layak untuk konstruksi bangunan karena agregatnya terlalu halus dan memiliki kandungan garam. Pasir laut diekstraksi hanya untuk mengurug laut (reklamasi) dalam rangka memperluas wilayah daratan atau membuat pulau-pulau buatan (selain menggunakan tanah urug juga). Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika beberapa pulau di dekat Jakarta dan di perairan Sumatera Utara telah lenyap karena ekstraksi ilegal.

Bagi Indonesia, yang memiliki banyak gunung dan sungai alami, masalah kelangkaan barangkali masih jauh tetapi penambangan yang membabi-buta tetap saja menimbulkan dampak lingkungan. Kegiatan penambangan yang sebagian besar dilakukan oleh rakyat inilah yang perlu diatur dengan regulasi agar pengelolaannya optimum.

Kelangkaan yang berpotensi membayangi Indonesia adalah material utama yang lain, yaitu semen. Eksplorasi salah satu bahan baku semen berupa kapur yang banyak terkandung di pegunungan karst seringkali menghadapi persoalan lingkungan yang bersinggungan dengan permukiman dan sumber daya air tanah yang terkandung di pegunungan tersebut. Belum lagi sumber daya energi untuk pabrik semen yang masih mengandalkan batubara, material fosil yang sarat polusi dan emisi karbon. Inilah yang selalu rawan dengan persoalan lingkungan.

Ke depan perlu dipikirkan alternatif bahan baku substitusi kapur dan batubara dalam memproduksi semen. Atau lebih progresif lagi, semen pun disubstitusi melalui rekayasa teknologi material.