Mohon tunggu...
Rosita Anggraeni
Rosita Anggraeni Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Laa tahzan innaallaha ma'ana

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Hijab, Surga dan Nerakaku

14 November 2021   21:10 Diperbarui: 14 November 2021   21:12 73 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hijab, Surga dan Neraka Ku

Kisah ku yang mulai Istiqomah dalam berhijab terjadi pada hari itu. Aku berencana keluar untuk melakukan kerja kelompok bersama dengan teman-teman ku dirumah salah satu dari mereka. Setelah menunaikan shalat Maghrib, aku mulai berganti pakaian dan berdiri di depan cermin, menggunakan sedikit riasan dan menyisir rambut panjang ku yang rencananya akan aku gerai saja. Setelah itu aku memasukkan beberapa buku serta alat tulis kedalam tas ransel ku. Lalu keluar kamar, mendapati Ibu ku yang sedang berbincang dengan Bapak di ruang tamu. Pandangan tak mengenakkan ku dapati dari Bapak yang duduk persis di depan Ibu ku. Memandangi penampilan ku dengan pandangan meneliti.

"Nduk Rosita mau kemana?", Tanya Ibu dengan tatapan lembut nya.

"Itu, Bu. Mau kerja kelompok di rumah teman.", Jawab ku.

"Subhanallah, kok tidak pakai kerudung?", Tuturnya dengan nada yang lagi-lagi sangat lembut.

"Iya, Bu. Cuma dirumah Niken. Kan lumayan deket.", Sahutku memberi alasan.

 Bukan aku tak mengerti serta tak paham dengan aturan dalam agamaku. Keluarga ku juga termasuk keluarga paham agama yang otomatis Bapak serta Ibu ku pun tidak hanya sekali dua kali berkomentar melihat anak putri nya tidak menutup aurat. Namun, aku yang merasa belum mendapat hidayah untuk menggunakan hijab seringkali melawan perintah mereka. Belum lagi teman-teman ku di sekolah juga banyak yang tidak berhijab. Membuat ku semakin yakin untuk tidak usah menggunakan nya juga. Walaupun begitu, aku selalu memakai rok dan atasan lengan panjang. Karena memang aku tidak suka pakaian yang terbuka.

"Nduk, ambil kerudung mu. Ini sudah mau malam. Lagipula bukan nya Bapak udah sering bilang. Kamu sudah kelas 2 SMP. Sudah kelewat baligh. Apa kamu tidak malu keluar rumah berkeliaran tidak menutup aurat? Dosa, nduk. Allah tidak menyediakan surga bagi wanita-wanita yang tidak memelihara Marwah mereka.", Tutur Bapak yang sepertinya sudah tidak tahan mendengar segala alasanku.

"Bapak punya kewajiban penuh dalam membimbing mu untuk menutup aurat. Kalau penampilan mu seperti ini, bukan hanya kamu saja yang akan merasakan panasnya api neraka. Bapak pun akan turut kamu seret kesana. Belum lagi nanti kalau kamu punya anak laki-laki. Apa kamu sanggup dan tega kita semua disiksa di neraka? Nauzubillah, Nduk. Meskipun dekat, selama aurat kamu terlihat lawan jenis yang bukan mahram, dosa mu akan tetap dicatat. Bapak sudah sering bilang, belajar Istiqomah untuk menutup aurat. Memang berat, Nduk. Tapi percayalah, siksa neraka akan jauh lebih berat.", Tambah beliau, membuatku semakin menunduk.

Setelah mendengar teguran dari Bapak, aku mulai tersadar dan merasa gagal menjadi seorang anak perempuan. Bagaimana bisa aku selama ini bertahan dengan dosa yang mengalir karena tidak mau menutup aurat. Ku pandangi kedua orang tua ku, melihat raut kasih sayang terpancar dari wajah mereka. Membayangkan pun aku tak sanggup jika harus menyeret mereka kedalam neraka gara-gara dosa ku. Kembali menunduk, tidak terasa setetes air mata jatuh di tangan ku yang tergenggam erat.

"Maaf, Pak. Rosita sudah bebal dan sering mengabaikan perkataan Bapak dan Ibu. Mulai hari ini Rosita akan belajar untuk Istiqomah dalam menutup aurat. Besok juga Rosita akan minta Ibu untuk memotong sedikit rambut Rosita agar tertutup sempurna dengan hijab.", Jawabku disertai dengan sedikit Isak tangis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan