Mohon tunggu...
Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Sri Romdhoni Warta Kuncoro Mohon Tunggu... Pria, lajang, suka naik motor jelajah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Manusia Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Menikmati "Senjakalaning" Taman Sriwedari Solo

21 Desember 2019   15:30 Diperbarui: 21 Desember 2019   15:27 146 6 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menikmati "Senjakalaning" Taman Sriwedari Solo
Sumber: wikipedia.org.

Kalau kamu berkunjung ke kota Solo, tapi belum menginjakkan kaki di taman Sriwedari, bisa diibaratkan makan nasi liwet tanpa sayur sambel goreng jepan(labu siam) plus suwiran daging ayam pakai kumut(areh). Karena taman Sriwedari itu merupakan ikon khusus bagi kota bengawan. Keindahan taman Sriwedari sungguh kuncoro(termasyhur) khususnya di tanah jawa. Dibangun pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939) dengan biaya mahal. Keindahan serta isi taman Sriwedari menjadi buah bibir semua kalangan.

Tengoklah taman Sriwedari, di dalamnya terdapat Bon Rojo(kebun raja) yang berisi beberapa jenis binatang, seperti sangsam(singa), mahesa(lembu), kidang(kijang), kancil, celeng, gajah, buaya, bulus, ajag(serigala Jawa), pun berbagai burung seperti merak, garuda, derkuku, kepodang dan masih banyak lagi. Segaran atau danau dengan bukit ditengahnya dibuat untuk istirahat bagi Sri Susuhunan Pakubuwono X beserta sanak kerabat.

Jernihnya air dengan bunga Tunjung mengapung sungguh sedap dipandang mata. Kupu-kupu dan capung bermanuver diantara rerimbun bunga. Kumbang air melintas jumawa dengan lincahnya. Apakah segaran terinspirasi oleh telaga Sarangan di Magetan? Konon, taman ini dibuat setelah Susuhunan Pakubuwono X pulang muhibah dari Madiun lewat telaga Sarangan.  Aneka ragam bunga ditanam tak lupa pohon-pohon besar sebagai peneduh. Jangan heran, taman Sriwedari mirip hutan kecil ditengah kerajaan. 

wikipedia.org. 
wikipedia.org. 
Penulis masih diberi kesempatan merasakan nuansa kerindangan taman Sriwedari. Tahun 1979, saat penulis duduk di sebuah Taman Kanak-Kanak(TK) Aisyiyah Busthanul Athfal, taman Sriwedari menjadi jujukan untuk piknik. Dengan menaiki andong(kereta yang ditarik kuda), kami rombongan murid nirdosa sangat antusias karena pada masa itu destinasi tersebut paling unggul serta jaraknya tidak jauh. Bahkan ditempuh dengan jalan kaki juga menyenangkan. Belum banyak motor atau mobil bersliweran. Jadi kota Solo kala itu sungguh aman dan nyaman buat para pejalan kaki. Karena letaknya didalam taman Sriwedari, kami menyebutnya kebun binatang Sriwedari. Saya berkeyakinan, generasi 60, 70, 80 an punya kenangan tersendiri dengan destinasi ini. 

wikipedia.org. 
wikipedia.org. 
Obyek wisata ini menjadi tempat paling diminati, banyak orang selalu berusaha masuk hanya ingin santuy ditaman sang raja. Yang tidak punya duit biasanya mbludhus(masuk secara ilegal) dengan berbagai modus. Diantaranya anak-anak dikampung penulis. Ingatan yang paling membekas ketika kami mbludhus lewat stadion Maladi. Posisinya berdampingan dengan kebun binatang.

Jadi kami berlima(2 kakak saya, 2 tetangga, dan penulis)masuk stadion lewat pintu barat. Dulu stadion ini masih bebas dimasuki tanpa penjagaan ketat. Bahkan sesekali jika beruntung, kalau melintas ditengah lapangan bisa melihat bapak-bapak pencari rumput bersenjata sabit dan karung. Kami harus anjlok(terjun) dari tembok stadion yang punya tinggi dua meter lebih sedikit, lebar hampir satu meter. Satu kakak saya dan kawannya berhasil mendarat mulus direrumputan Bon Rojo. Rencananya setelah itu penulis(bertubuh kecil) akan ditampani(diterima dengan tangan) oleh mereka berdua. Pergelangan tangan penulis dipegang, sedang jemari mencengkeram pinggir tembok. Aba-aba dimulai. Karena mental untuk terjun tipis bahkan nggak ada sama sekali, membuat penulis menjerit ketakutan. 

Hal itu menarik perhatian pengunjung serta petugas keamanan. Semua mata tertuju aksi kami. Dua petugas keamanan berjalan mendekat. Kami panik sampai ngewel(gemetaran). Yang dibawah segera nggenjrit(melarikan diri tanpa menoleh)agar tidak ditangkap. Penulis ditarik kembali. Segera saja kami bertiga meninggalkan tempat dengan merayap cepat-cepat terus menghilang."Goro-goro Kuncoro dadi konangan!"(Gara-gara Kuncoro jadi ketahuan), Kakak saya yang gagal masuk dongkol, "Suk meneh nek mbludhus rasah ngejak Kuncoro!"(besuk lagi kalau mbludhus tidak usah mengajak Kuncoro). Sambil berjalan ditengah lapangan saya menangis sesenggukkan. Tetangga mencoba meredakan,"Wes wes meneng, rapopo"(wes wes diam, tidak apa-apa)


wikipedia.org. 
wikipedia.org. 
Jika bulan Ramadhan tiba, kami selalu berharap untuk menyaksikan Maleman Sriwedari. Sebuah acara keramaian menyambut datangnya bulan Ramadhan."Bu', kapan bapak ngejak neng maleman?"(Bu', kapan bapak mengajak ke maleman)"Yo kondo o bapakmu"(ya beritahulah bapakmu)
Jika berhasil membujuk bapak, kami pasti senang. Sayangnya, ada pesan berikut,"Neng ojo njaluk jajan macem-macem"(tapi jangan minta jajan macam-macam)
 
Melihat Maleman Sriwedari biasanya dilakukan usai ba'da sholat Taraweh. Itu membuat kami hanya punya waktu sekitar satu jamman. Karena akan ditutup jam sembilanan. Walaupun begitu kami sudah senang. Hal yang paling membuat penulis takjub adalah mesin pembuat arum manis. Masa itu jauh banget dari gadget, bahkan mikirpun tidak. Jadi mesin arum manis menjadi tontonan paling menarik sambil menunggu gumpalan kapas itu jadi. Lainnya adalah bapak si pembuat gulali yang bisa membentuk gumpalan gula jadi macem-macem binatang serta sempritan. 

Dulu ketika belum melihat Maleman Sriwedari pasti akan ditanyai, "Opo kowe wes ndelok maleman?"(apa kamu sudah lihat maleman)
"Uwis"(sudah)
"Ramungken. Kowe tuku opo?"(tidak mungkin. Kamu beli apa)
"Ora tuku opo-opo"(tidak beli apa-apa)
"Berarti durung ndelok. Mosok ndelok ora tuku opo-opo"(berarti belum melihat. Masak melihat tidak beli apa-apa)
Jaman dulu, bully ternyata sudah ada. Cuma tak seganas era sekarang.

Dok. pribadi
Dok. pribadi
Taman Sriwedari menjadi saksi kenekatan kakak saya adu cepat berenang di segaran. Bersama kawan sebaya, kakak saya melintasi segaran antara dermaga kapal sampai bukit kecil atau pulau yang ada ditengah. Pemenangnya kakak saya. Segaran juga menjadi rendesvous para pemancing hanya untuk mendapat ikan mujair sebagai lauk makan. Pemancing kian banyak jika bulan Ramadhan tiba. Penulispun ikut strike. Dulu masa era orde baru, bulan Ramadhan bisa dipastikan pas libur sekolah-usai menerima raport kenaikan kelas. Memancing di segaran merupakan aktivitas membunuh waktu agar maghrib segera datang.


Dok. pribadi
Dok. pribadi
Bagaimana? Menarikkan taman Sriwedari? Datang dan lihat dong. Nanti aku antar. Eits! Tapi itu dulu lho. Kalau sekarang kalian hanya akan melihat sisa-sisa kejayaannya saja. Taman Sriwedari dipastikan akan menjadi kenangan bagi segelintir yang pernah bersentuhan. Semua itu berawal dari kebijakan memindahkan semua koleksi hewan ke daerah Jurug di timur kota pada 1983. Penyebabnya, lokasi Bon Rojo sudah tidak memenuhi syarat bagi kelangsungan hidup satwa. Dikhawatirkan, stres akan menghinggapi para binatang karena menurunnya kondisi lingkungan, selain sempitnya lahan.

Walaupun begitu, beberapa hewan masih belum dipindahkan untuk beberapa bulan, semisal burung merak yang ada dibelakang gedung wayang orang dan gajah perung(telinga satu). Binatang herbivora ini kerap berulah. Pernah membuat seorang pengunjung basah kuyup karena disemprot air lewat belalainya serta melempar benda apapun keluar kandang.

Didalam serta sekitaran komplek Taman Sriwedari ada bangunan Joglo, pesawat tempur AURI(sering dinaiki anak-anak), gedung Bioskop Solo Theater, gedung wayang orang, THR(Taman Hiburan Rakyat), gedung pertemuan Grha Wisata, Museum Radya Pustaka. Pintu masuk Taman ada disebelah utara berada di Jalan Slamet Riyadi dan pintu Selatan di jalan Kebangkitan Nasional.

Dok. pribadi
Dok. pribadi
Sejarah taman Sriwedari juga sempat diwarnai sengketa antara pemkot Surakarta dengan ahli waris pemilik Taman Sriwedari. Hingga tahunan kasus itu bergulir dipengadilan. Semenjak tahun 1970 sampai 2007 belum selesai. Tahu-tahu terdengar Taman Sriwedari mau diubah fungsinya.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN