Rohmatus Rizky
Rohmatus Rizky

Teknologi Hasil Hutan UGM 2009 | @rizkylorojiwo | asylum87.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Tinjauan Paruh Musim Serie A, Krisis yang Belum Berakhir bagi AC Milan

13 Januari 2018   09:28 Diperbarui: 13 Januari 2018   10:13 834 0 0
Tinjauan Paruh Musim Serie A, Krisis yang Belum Berakhir bagi AC Milan
Source: Twitter @sportscaddy

Senjakala itu dimulai di penghujung musim 2011/2012. Momen berakhirnya sebuah era dimana para legenda hidup sekaligus pemain-pemain yang sangat dicintai Milanisti, yaitu Inzaghi, Nesta, Gattuso, hingga Seedorf memutuskan untuk gantung sepatu.  Momen yang juga menjadi awal 'masa jahiliyah' Milan, yang belum juga berakhir hingga saat ini.

Harapan sempat membuncah diawal musim ini ketika Milan diambil alih oleh investor asal Tingkok, Li Yonghong dari tangan Berlusconi. Gelontoran dana hampir mencapai 200 Juta Euro menjadi modal mendatangkan pemain-pemain berkualitas. Hal yang sudah tidak pernah terjadi semenjak kedatangan Ibrahimovic di awal musim 2010/2011. Dengan dana tersebut, pemain-pemain berkelas seperti Leonardo Bonucci, Andre Silva, Hakan Calhanoglu, Nikola Kalinic, hingga Riccardo Rodriguez berhasil diboyong ke Milanello.

Namun ekspektasi itu tidak sesuai harapan.

Hingga pekan ke-20 Serie A Milan terdampar ke peringkat 11 dengan hanya mengais 28 poin, hasil dari 8 kali menang, 4 kali seri, dan 8 kali kalah. Sebuah pencapaian yang jauh dari perkiraan melihat pergerakan Milan di bursa transfer awal musim ini. Pemain-pemain yang didatangkan seakan tidak membawa pengaruh untuk mengangkat performa Milan, bahkan bisa dibilang lebih buruk dibandingkan musim lalu dengan skuad seadanya. 2 kekalahan beruntun dan memalukan masing-masing 3-0 dari Hellas Verona dan 0-2 dari Atalanta agaknya menjadi puncak kekecawaan Milanisti. Beruntung, pada 2 laga terakhir Milan mampu memetik hasil positif, imbang 1-1 dikandang Fiorentina, dan menang 1-0 saat menjamu Crotone.


Sejauh ini, setiap kali menonton pertandingan Milan rasanya ada satu hal yang jelas terlihat, para pemain seakan tidak memiliki semangat bertanding. Apa yang dilihat oleh pendukung Milan seperti sekumpulan pemain amatir yang sedang belajar bermain sepakbola. Tidak ada semangat, apalagi kebanggaan saat mengenakan jersey merah-hitam. Hal ini adalah penyakit serius yang harus segera dibenahi oleh seluruh elemen tim, terutama manajemen jika ingin mengembalikan Milan kembali menjadi tim yang sebagaimana mestinya.

Apa yang dicapai sekarang tak lain tak bukan adalah buah dari ketidakbecusan manajemen Milan saat ini. Gelontoran dana 200 Juta Euro tidak mampu dikelola untuk membentuk sebuah tim yang kompetitif. Pembelian pemain secara gila-gilaan adalah cerminan bahwa royal saja tidak cukup, tetapi harus diimbangi dengan strategi dan rencana jangka panjang yang disinergikan dengan seluruh elemen tim. Hal ini sebenarnya sudah pernah disindir oleh Shevchenko diawal musim ini, "Confused transfers, there is no plan", begitu sindir Shevchenko saat itu.

Pemecatan Montella, kemudian menunjuk Gattuso barangkali merupakan puncak dari kebingungan sekaligus ketidakbecusan manajemen dalam membangun tim. Meskipun kinerjanya kurang maksimal, mungkin saya termasuk ke dalam golongan Milanisti yang masih menaruh kepercayaan kepada Montella. Sebab, Montella adalah sosok yang mampu mengembalikan Milan menjadi tim yang tampil menghibur, membawa suasana kondusif di ruang ganti, serta menyuntikkan semangat juang dalam diri pemain. Montella menunjukkannya pada musim lalu. Dengan skuad seadanya, Montella berhasil membawa Milan kembali tampil di kompetisi Eropa, serta mempersembahkan trofi Supercoppa Italiana.

Rasanya rindu melihat pemain yang mampu tampil spartan seperti layaknya Lapadula, dan selalu tampil trengginas layaknya Kuco di musim lalu.

Saat ini Milan sedang berada di titik nadir. Ignazio Abate bahkan menangis pasca kekalahan 0-2 dari Atalanta. Semenjak memperkuat Milan dari musim 2009, belum pernah Milan berada dalam kondisi separah ini.

Musim ini bisa dibilang sudah selesai untuk Milan. Tidak ada lagi ekspektasi dari Milanisti melihat apa yang dicapai sejauh ini. Harapan pun tidak lagi muluk-muluk, lupakan dulu perihal Europa League, apalagi Champions League musim depan. Cukup segeralah bangun, dan kembalilah sebagai sebuah tim.