Mohon tunggu...
David Rohans R Hutagaol
David Rohans R Hutagaol Mohon Tunggu... Akuntan - I write what i think

My name is David Rohans Rivaldo Hutagaol | An idealistic scatterbrain who loves reading, writing, listening, analyzing and travelling | A banker (someday) | A man with too many questions inside his head, who's interested in politic, music, social and economy |

Selanjutnya

Tutup

Money

A Certain Romance Between Bank And Multifinance Company

14 Agustus 2016   19:41 Diperbarui: 14 Agustus 2016   20:10 259
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

          Jika berbicara tentang laba bersih yang diraih oleh kedua bank ini, mereka adalah yang terbaik di sektornya. BRI menjadi yg terdepan dalam urusan laba bersih, dimana BRI yg paling tinggi mencatatkan laba bersih yaitu sebesar Rp 25,41 Triliun (naik 4,89 %), dengan total asset sekitar Rp 878,43 Triliun. BCA pun mencatatkan dirinya sebagai Bank swasta terbaik dan yg paling tinggi mencatatkan laba bersih yaitu sebesar Rp 18,04 Triliun, dengan total asset Rp 594,37 Triliun.

          Bagaimana dengan penerapan teknologi di dunia multifinance dalam meningkatkan profit mereka? Sampai dengan saat ini, dunia multifinance masih kurang gencar memanfaatkan teknologi dalam meningkatkan profit mereka. Sejauh ini, baru BCA Finance yang saya lihat mulai mengikuti alur kerja perusahaan  induknya, yaitu Bank BCA dalam memanfaatkan teknologi. Pada saat saya ke BSD (Tangerang) baru baru ini, saya sudah melihat iklan BCA Finance dengan tagline “Gebyar Promo Turun Bunga”. Dan untuk penjualan mobil baru, simulasi kredit BCA Finance bisa didownload di google play dan App Store.

          Sebenarnya dari sisi multifinance, banyak yang bisa dikembangkan untuk menekan biaya namun dengan memanfaatkan teknologi. Salah satunya yg paling real adalah, e-paper. Sudah tentu saat ini dunia multifinance memiliki cost yang begitu besar dalam hal pengiriman. Baik pengiriman polis asuransi, maupun cara pembayaran angsuran oleh konsumen dan dokumen penting lainnya yg sebagai informasi untuk konsumen. Salah satu yg bisa dimanfaatkan adalah, bagaimana membentuk sebuah web yg dimana hanya bisa dimasuki oleh konsumen sendiri melalui user name dan password untuk mendapatkan data yg dibutuhkan seperti dokumen perjanjian ataupun polis asuransi.

Sehingga, perusahaan multifinance bisa menggenjot cost, dari sisi pengiriman. Sehingga all document benar – benar paperless. Jadi dokumen yg dibutuhkan, konsumen bisa mendownload sendiri. Jika dikatakan membutuhkan biaya besar dalam menjalankannya, tidak juga! Saya beri contoh. Anda tau web web universitas yg memberikan info lowongan kerja? Seperti CDC UI, dan lain sebagainya? Web tersebut HANYA mengakomodir para pencari kerja untuk mengapply lowongan kerja dari web mereka, bagi mereka yg telah mendaftar (register) sebagai anggota.

Hal tersebut berjalan dengan baik. Kita lihat saja seperti web kampus yg dimiliki oleh  UI, UGM, ITS dan ITB. Sehingga beberapa kali, bagi perusahaan negara yg besar, hanya bisa di apply melalui web salah satu universitas tersebut. Sebagai note saja, yg menjadi anggota, masyarakat umum, bukan hanya mahasiswa dari universitas tersebut. Jika dikaitkan, sebenarnya multifinance kakap bisa menggunakan teknologi untuk menggenjot biaya dalam meningkatkan pertumbuhan laba bersih mereka yang signifikan dalam sisi operasionalnya.

p-20160814-192802-1-57b066342023bd147b2a2c63.jpg
p-20160814-192802-1-57b066342023bd147b2a2c63.jpg
          Jika mengacu pada data yang baru baru ini dikeluarkan, memang dari sisi profit dan asset, perusahaan multifinance masih jauh dibawah Bank, apalagi tidak ada satupun leasing yang dimiliki oleh Pemerintah (sudah pasti ya. Hahaha). Jika berbicara by data, baru baru ini salah satu majalah nasional, merilis peringkat multifinance di Indonesia (walaupun liatnya dari DP BBM teman kantor sih). Dimana untuk perusahaan multifinance dengan asset diatas 10 Triliun, PT BFI Finance muncul sebagai yang terkuat sekaligus diklaim sebagai Perusahaan multifinance yg berpredikat sangat bagus. Sedangkan BCA Finance menyusul sebagai yang terkuat (juga) dengan asset diatas (5 Triliun).

Jika dari sisi ekonominya dapat dilihat bahwa PT BFI Finance Indonesia Tbk meraup laba bersih sebesar Rp 650,29 Miliar rupiah dengan total Asset Rp 11,77 Triliun dan BCA Finance meraup laba bersih sebesar Rp 1,05 Triliun dengan total asset Rp 6,82 Triliun. Dari data yg dipaparkan oleh majalah tersebut (berdasarkan DP BBM dan Path teman), sudah bisa dihitung kinerja perusahaan perusahaan tersebut dengan penghitungan ROA ataupun ROI nya.

2. WHAT HAPPEN TO BANK AND MULTIFINANCE COMPANY IF THERE’S AN APPLICATION LIKE GOJEK ?

          Hal ini terpikirkan oleh saya beberapa kali. Bagaimana jika ada aplikasi seperti gojek di dunia perbankan dan multifinance, jika penggunaannya sama mudahnya, tidak ribet dan ada regulasi dari pemerintah. Apakah Bank dan Multifinance yg masuk dalam kelas modal inti yg masih minim, akan mengikuti bisnis transportasi konvensional yg berteriak meminta perlindungan dari pemerintah? Karena beberapa perusahaan start-up yang berbisnis di ranah jasa keuangan mengklaim diri bukan berbadan hukum sebagai perusahaan keuangan. Layaknya gojek, grab dan uber, mereka bukan perusahaan transportasi, tapi perusahaan teknologi aplikasi.

          Belum lagi jika dari sisi perbankan, menurut saya pribadi bisnis ATM sangat mahal. Dari segi pengadaan (biaya mesin), penyewaan tempat dan biaya pemeliharaannya. Mungkin sebentar lagi akan tergilas dengan hadirnya uang digital. Walaupun sebenarnya efisiensi biaya dari bank milik pemerintah (bank plat merah) bisa dilakukan.

Sebagai contoh. Sebagaimana kita ketahui bahwa Bank plat merah ada 4 yaitu BNI, BRI, Mandiri dan BTN. Sebenarnya konsep sharing economy bisa diterapkan melalui efisiensi ATM, sehingga tidak perlu menimbulkan cost yg begitu besar dengan penyebaran ATM. Walaupun jika muncul aplikasi layaknya gojek, Bank dengan modal kakap, tidak akan terkena imbasnya dikarenakan kekuatan modal mereka. Layaknya pertarungan antara perusahaan taksi konvensional dengan gojek/grab. Perusahaan taksi konvensional mengeluarkan cost yg begitu besar, sedangkan gojek tidak. Perbankan dengan modal inti kecil juga bisa mengalami hal yg sama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun