Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu... Kompasianer sejak 2010

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

3 Nafas Likas dan Sosok di Balik Kehebatan Jenderal Djamin Ginting

20 Oktober 2014   10:56 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:25 642 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
3 Nafas Likas dan Sosok di Balik Kehebatan Jenderal Djamin Ginting
1413751646153085619

S

[caption id="attachment_330002" align="aligncenter" width="614" caption="Salah satu adegan perang dalam 3 Nafas Likas (sumber: www.3nafaslikas.com)"][/caption]

"Di balik kesuksesan seorang pria, terdapat dukungan dari wanita (istri) yang tangguh." Adagium lawas itu selalu saya ingat sejak kecil. Entah itu saat kumpul bersama keluarga, berbincang dengan seorang tokoh terkemuka, atau ketika meliput sebuah event olahraga. Ya, arti dari pepatah itu mengatakan, bahwa seorang pria menjadi sukses tidak hanya kemampuan dirinya sendiri. Melainkan dukungan dari sang istri. Fakta itu tak terbantahkan hingga kini. Termasuk ketika saya menyaksikan film sejarah bertema perjuangan: "3 Nafas Likas".

Sabtu malam (18/10) yang cerah di sebuah teater di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Sambil menunggu dini hari untuk nonton bareng (nobar) menyaksikan pertandingan sepak bola antara Juventus versus Chievo, saya pun mencoba untuk membunuh waktu. Yaitu menonton film dengan tujuan awal film "The Judge" yang memang sedang populer di media sosial.

Namun, ketika saya sampai di teater yang terletak di lantai atas pusat perbelanjaan di Selatan Jakarta itu ternyata tidak menayangkannya. Saat melihat jadwal, teater terdekat yang menayangkan "The Judge" di PS atau Gancit yang jaraknya lumayan.

Karena tidak ingin merasakan kemacetan di malam minggu dan juga enggan pulang dengan tangan hampa, akhirnya saya meimilih "3 Nafas Likas". Awalnya, saya tidak tahu bahwa film ini merupakan film sejarah bertema perjuangan. Sebab, tujuan saya menonton "3 Nafas Likas" karena faktor Vino G. Sebastian yang memang sejak pertengahan dekade 2000-an merupakan aktor favorit saya.

*      *      *

Singkatnya, kami pun duduk manis di kursi belakang bersama beberapa rombongan anak muda lainnya. Sempat kaget juga karena tidak menyangka film lokal non horor serta tidak dibumbui seks mampu membuat teater nyaris penuh. Dalam hati saya berkata, mungkin karena faktor Vino dan Atiqah Hasiholan sebagai pameran utama mampu menyedot animo penonton.

Namun, skeptisme saya ternyata salah besar. Lantaran, "3 Nafas Likas" memang layak untuk ditonton. Bercerita tentang kisah masa lalu dari tokoh utama bernama Likas Beru Tarigan yang diperankan Atiqah. Film yang disutradarai Rako Prijanto ini mengambil setting era 1930-an hingga 1970-an. Dimulai dari masa kecil Likas di tanah Karo, Sumatera Utara yang bahu-membahu bersama suaminya, Djamin Ginting (Vino) membela Tanah Air dari serangan tentara Jepang dan Sekutu.

Likas lah yang mendukung perjuangan Djamin Ginting sejak menjadi serdadu PETA -prajurit Indonesia yang dibuat Jepang- untuk melawan penjajahan Jepang dan Sekutu. Berlanjut, pada dekade 1960-an dipindahkan ke Jakarta dengan Djamin Ginting yang sudah menjadi Letnan Jenderal (Letjend). Hingga akhir hayat sang suami yang meninggal di Ottawa ketika menjabat sebagai Duta Besar (Dubes) Kanada pada 1973.

Termasuk ucapan Lukas yang dengan sabar memberi saran agar Djamin Ginting menerima tugas dari presiden (Soehart0) sebagai dubes. Maklum, awalnya, beliau sempat enggan menerima tawaran tersebut. Itu karena Djamin Ginting sejak awal merupakan prajurit yang terbiasa di lapangan. Maka, tak heran jika dirinya enggan bertugas di balik meja. Namun, Djamin Ginting luluh untuk menerima tugas tersebut berkat "dukungan" Lukas yang mengatakan, -kalau tidak salah dengar- sebagai abdi negara harus mau ditugaskan atasan di manapun berada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x