Robbi Gandamana
Robbi Gandamana swasta

tak perduli..jika dengan menulis ini tak menjadikanku apa-apa...tapi setidaknya aku sudah memberi warna pada dunia

Selanjutnya

Tutup

Media

Salut pada Alifurrahman, Pimpinan Seword yang Berani Beda

11 Januari 2018   11:48 Diperbarui: 11 Januari 2018   12:43 6317 30 18
Salut pada Alifurrahman, Pimpinan Seword yang Berani Beda
seword-5a56f5ebcbe523108874b1b2.jpg

Salut pada Alifurrahman (pimpinan Seword) dengan penyataannya yang tidak akan mendukung Ahok lagi jika resmi bercerai. Dia berani beda dengan kebanyakan pembaca Seword yang Ahoker. Bukan soal pernyataan dia itu benar atau salah, itu soal lain. Tapi ini soal menjadi diri sendiri.

--Aku juga nggak perduli dengan urusan pribadi orang. Mau cerai atau enggak, itu urusanmu Hok--

Jarang ada orang yang berani jujur tidak mendukung seorang tokoh di tengah-tengah para pendukung tokoh tersebut. Karena kita tahu bahwa Seword itu gudangnya Ahoker (dan tentu saja Jokower). Dia sepertinya tidak perduli dengan resikonya, pembaca setianya (Ahoker) akan pergi meninggalkannya.

Menurutku yang dilakukan Alifurrahman itu keren, karena berani berbeda. Berani keluar dari zona nyaman. Bravo!

Jadi ingat kata Kurt Cobain, "Mereka menertawakan aku karena aku berbeda. Aku menertawakan mereka karena mereka semua sama." Kurt Cobain keren karena berani beda.

Karena berbeda itu keren--asal tidak mengingkari hati nurani--, makanya aku tetap rokenrol walau hidup di tengah-tengah orang dangdut, reggae, hadrah, gambus, jatilan dan seterusnya. Aku bisa menikmati semua musik, but metal is the main menu.

Dalam kehidupan sosial memang dianjurkan untuk mencari-mencari persamaan dan melupakan perbedaan, atau memperbanyak persamaan daripada perbedaan. Tapi tentu saja tetap bisa jadi diri sendiri. Nggak terus mengingkari hati nurani. Boleh berbeda asal tetap menghormati perbedaan.

Perbedaan itu rahmat. Makanya bermusuhan karena beda pilihan cagub atau capres itu gemblung. Nggak mungkin kalau semua orang Indonesia itu Jokower semua, atau Prabower semua. Medsos jadi hambar.

Banyak orang yang tidak berani jadi diri sendiri, karena takut tidak diterima di komunitasnya, takut tidak punya teman, takut dianggap aneh, dan takut-takut yang lain. Akhirnya tidak jadi sendiri. Hidupnya cuman pura-pura. Pura-pura jadi metalhead, pura-pura rasta, pura-pura jazz biar dibilang keren. Memangnya kalau dangdut nggak keren? Semua keren, tergantung cara berpikirmu.

Scorpions itu band rock hebat, pernah digawangi oleh Uli Jon Roth dan Michael Schenker di album-album awal. Mereka adalah gitaris top, junjungan para gitaris. Tapi sayangnya rocker di sini malu kalau ketahuan ngefans sama Scorpions. Karena penggemar Scorpions sudah lintas genre. Orang dangdut pun suka lagu slow-nya Scorpions. Jadi para metalhead gengsi kalau ngefan Scorpions.

Mereka menganggap Scorpions kacangan karena tahunya cuman lagu "Still Loving You", "Always Somewhere", "Holiday", atau "When the Smoke is Going Down". Mereka nggak tahu lagu Scorpions yang dahsyat macam "The Sails of Charon", "He's A Woman-She's A Man" atau yang lain yang jadi inspirasi para musisi rock/metal dunia.

Lho kok jadi mbahas musik ya??? Yo wis lah, intinya jadilah diri sendiri. Jangan takut berbeda karena berbeda itu keren! Dan manusia tidak butuh penilaian dari orang lain, jadikan Tuhan sebagai satu-satunya audience-mu. Kalau nuruti kemauan orang terus, mampus lah kau nak. Hidup cuman sekali jangan pernah menyesal jadi diri sendiri.

Zuukkkk.