Mohon tunggu...
Rizky D. Rahmawan
Rizky D. Rahmawan Mohon Tunggu...

Menyukai jalan-jalan. Mencari inspirasi, mengulik potensi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Wayang dan Televisi

29 Oktober 2017   12:28 Diperbarui: 21 November 2017   14:15 0 2 1 Mohon Tunggu...

Saya membayangkan lahirnya wayang sebagai media hiburan setengah abad yang lalu itu mungkin bombastisnya sama seperti datangnya televisi di desa saya pada medio 1990-an yang lalu. Sebuah teknologi yang secara lahiriah nampak futuristik, menyuguhkan hiburan dan berhasil memecah sepinya zaman.

Ratusan karakter dimainkan secara apik, wayang berkembang dalam banyak pakem-pakem yang dibakukan. Pagelaran wayang dimanapun digelar dipastikan mampu menyedot kehadiran massa dalam jumlah yang massif. Warga masyarakat bukan hanya tersedot hadir, tetapi juga memasang antusiasme yang demikian tinggi. Terbukti pagelaran wayang identik dengan pagelaran 'semalam suntuk', pagelaran yang mampu menciptakan daya tahan yang demikian tinggi bagi para penontonnya.

Pun demikian televisi, hadirnya sedikit banyak membawa perubahan budaya di tengah-tengah masyarakat. Kebutuhan untuk endang-endongkalah menarik dibanding menyimak gambar bergerak yang disuguhkan televisi. Dari yang awalnya benda dengan kaca sebagai layarnya itu hanya menampilkan hitam dan putih, kemudian menjadi berwarna. Lebih futuristik lagi, sama-sama berwarna tetapi menggunakan teknologi layar cembung atau datar. Kalau sudah datar, ada pilihan antara menggunakan teknologi LCD atau LED. Lebih canggih lagi disuguhkan pilihan berbingkai atau tanpa bingkai. Masih kurang canggih, ada pilihan televisi yang langsung terkoneksi dengan internet atau yang disebut 'smart TV'

Begitulah wayang dan televisi hadir sama-sama memberikan 'shock' pada dunia hiburan di tengah-tengah masyarakat. Yang kemudian menjadi pencermatan saya adalah siapa dibalik wayang dan siapa dibalik televisi. Wayang hadir dan dikelola ketika pusat kegiatan jurnalistik masih dipegang oleh para ulama pewaris nabi.

Sunan Kalijaga, budayawan sekaligus pemuka agama yang memiliki andil besar dalam olah pagelaran wayang yang terwariskan sampai hari ini. Ia bukan hanya menjalankan peran sebagai agamawan, tetapi sekaligus juga kepala dinas hiburan dan kepala pusat stasiun informasi. Wayang salah satu yang dijadikan sebagai ubarampe atas pengerjaan peran-peran tersebut.

Sementara televisi lahir ketika berita sudah menjadi industri. Televisi lahir di mana orang sudah begitu syarat kepentingan akan informasi. Mereka yang berdagang butuh dipromosikan barang dagangannya. Mereka yang berobsesi kekuasaan membutuhkan alat mencengkeramkan pengaruh yang masif. Serta mereka yang ingin mengganti budaya lama menjadi budaya baru butuh alat kampanye yang canggih.

Saya jadi membayangkan kalau wayang tidak dipegang oleh kaum arif, melainkan oleh kaum industrialis sepertihalnya televisi hari ini. Di atas kelir akan penuh tempelan-tempelan iklan. Pada saat perang harus dijeda oleh endorse dari sponsor. Ucapan dalang tidak berisi petuah hidup melainkan penggiringan opini bahkan mungkin hasutan-hasutan tendensius.

Wayang dan televisi hanyalah sekedar media. Bahkan sebagai media, masing-masing sebenarnya mempunyai kualitas kecanggihannya. Namun, yang harus disadari, yang menentukan fungsi, orientasi dan kemanfaatan dari media-media tersebut adalah siapa yang berada dibaliknya.

Maka, apakah Anda tergelitik untuk membayangkan sebagaimana saya membayangkan dimana televisi dipegang bukan oleh kaum industrialis, melainkan oleh seorang wali ditengah-tengah masyarakat? Apa saja beda muatan tayangannya ya kira-kira? [] RZ

---

Tulisan ditayangkan pula di : sini.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x