Mohon tunggu...
Rintar Sipahutar
Rintar Sipahutar Mohon Tunggu... Guru - Guru Matematika

Pengalaman mengajar mengajarkanku bahwa aku adalah murid yang masih harus banyak belajar

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Covid-19 Mengubur Impian Penduduk Hadataran Memiliki Jalan dan Jembatan yang Layak

17 Juni 2020   16:40 Diperbarui: 18 Juni 2020   12:46 521
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pesona kampung Hadataran-Hapesong yang dikepung gunung-gunung tinggi.Sumber photo dari grup Facebook HAMARS

Semiggu dua kali di pagi hari Senin dan Rabu, hasil pertanian penduduk kampung seperti kemenyaan, kopi, dsb diangkut dengan “kuda beban” ke ibukota kecamatan Garoga. 

Sore harinya kuda kembali mengangkut kebutuhan penduduk kampung seperti minyak tanah, minyak makan, ikan asin, dsb, dari ibukota kecamatan. 

Sementara penduduk yang ingin ke ibukota kecamatan dengan segala keperluannya hanya dapat mengandalakan kekuatan kedua lututnya untuk menempuh jalan terjal menanjak dan menurun sejauh lebih dari 15 kilo meter.

Masa ini berlangsung cukup sangat lama atau sekitar 55 tahun, yaitu sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 hingga pertengahan 2010. 

Melewati tiga pergantian era di negeri ini: orde lama, orde baru hingga era reformasi, serta melampaui 5 kali pergantian presiden, mulai dari kepemimpinan Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdulrahman Wahid hingga Megawati Soekarnoputri. 

Sedemikian lamanya masa kegelapan itu sehingga penduduk disanapun terlalu yakin bahwa kampung kami selamanya akan seperti itu dan tidak akan pernah dapat dilalui kendaraan roda 2 atau 4 hingga “portibi marokso” atau dunia kiamat.

Pesona kampung Hadataran-Hapesong yang dikepung gunung-gunung tinggi.Sumber photo dari grup Facebook HAMARS
Pesona kampung Hadataran-Hapesong yang dikepung gunung-gunung tinggi.Sumber photo dari grup Facebook HAMARS
Yang kedua adalah Zaman Eksavator, yaitu ketika Bupati Tapanuli Utara Torang Lumban Tobing  pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berhasil membuat penduduk kampung kami berdecak kagum. 

Tatkala “robot” eksavator sukses melumat tanah tebing, memporak-porandakan batu-batu besar dan pohon-pohon untuk memperlebar jalan, dan sebuah keajaiban terjadi ketika robot baja itu berhasil menyusup ke kampung kami. 

Dalam 2 periode pemerintahannya(2004-2009/2009-2014), Torang Lumban Tobing berhasil membuka isolasi, Hoda Kuli dan jalan kaki pun perlahan digantikan kendaraan roda dua. Dan kendaraan roda empat pun degan segala perjuangannya sudah beberapa kali mendarat ke kampung kami. 

Menyaksikan hal itu penduduk kampung kami terutama yang sudah berusia lanjut terharu seakan-akan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Meskipun keadaan jalan masih apa adanya tanpa perkerasan dan aspal tetapi dapat dikatakan sejak saat itu masa kegelapan secara resmi telah berakhir lalu digantikan dengan kuda besi (bukan kuda gigit besi).

Yang Ketiga adalah Zaman Listrik, terjadi pada kepemimpinan Bupati Nikson Nababan (2014-2019/2019-2024) pada pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pada masa ini ada perkerasan jalan dibeberapa titik walaupun panjangnya tidak lebih dari 1 km, kemudian ada semenisasi jalan yang bersumber dari dana desa dan panjangnya juga kurang dari 1 kilo meter. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun