Mohon tunggu...
Rintar Sipahutar
Rintar Sipahutar Mohon Tunggu... Kemajuan sebuah bangsa ditentukan pendidikan berkualitas

"1 teladan lebih berharga daripada 1000 nasihat, 1 tindakan lebih berarti daripada 1000 omong kosong"

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Bagaimana Menangani "Debat Kusir" di Kompasiana dan Media Sosial?

30 Januari 2018   22:23 Diperbarui: 31 Januari 2018   01:13 0 12 7 Mohon Tunggu...
Bagaimana Menangani "Debat Kusir" di Kompasiana dan Media Sosial?
@Galeriposterdakwah

Dulu saya sangat suka berdebat tentang apa saja, dengan siapa saja dan dimana saja, tentang suatu topik yang tidak saya ketahui kebenaranny dengan orang yang tidak saya ketahui latarbelakangnya, di dunia nyata maupun di dunia maya, hingga suatu hari saya menemukan diri saya bukan seorang bijaksana tetapi seorang bodoh yang malang. (Rintar Sipahutar)

Pada dasarnya tujuan seorang penulis menulis di Kompasiana atau di media sosial adalah untuk mengekspreikan sekaligus berbagi ide, gagasan dan opini tentang suatu masalah kekinian yang sedang hangat dibicarakan, kepada warganet di jagat maya.

Tentu saja ada beberapa hal yang perlu diketahui dan dipertimbangkan sebelum seorang penulis memutuskan untuk menerbitkan buah pikirannya di "rimba maya" yang diluar dugaan terkadang berubah menjadi "buas" dan "horor".

Yang pertama adalah, penulis dalam mengungkapkan ide, gagasan atau opininya harus berusaha seobyektif mungkin dengan melengkapi data dan fakta seakurat mungkin. Tetapi kalaupun tidak bisa, paling tidak tulisan tersebut harus punya dasar dari sumber terpercaya sehingga tulisan yang dihasilkan bukan fitnah atau hoaks.

Saya pikir seorang penulis sah-sah saja jika bersikap subyetik dalam menilai seorang tokoh, kelompok atau organisasi yang dia kagumi dalam tulisannya tetapi dengan catatan tidak boleh menjelek-jelekkan apalagi menjatuhkan seseorang, sekelompok orang atau organisasi tertentu yang berseberangan dengan tokoh atau organisasi idolanya.

Yang kedua yang perlu diketahui dan sangat perlu diperhatikan seorang penulis adalah, sebuah tulisan tentu saja akan dibaca dan mendapat tanggapan yang beragam dari pembaca yang terdiri dari berbagai macam latar belakang usia, pendidikan, agama, suku, kebudayaan dan karakter.

Ini akan menjadi tantangan tersendiri agar tulisan yang dibuat tentu saja setidaknya dapat terhindar dari isu SARA dan sentimen negatif terhadap seseorang, sekelompok orang atau organisasi tertentu yang dapat berakibat fatal dikemudian hari.

Tentu saja seorang penulis tidak selalu sependapat dengan pembaca. Jika pembaca memberikan rating dan tanggapan positif, hal itu akan membuat penuli lebih bersemangat dan antusias membalas tanggapan pembaca dengan ucapan terimakasih diawal atau diakhir balasan.

Tetapi tidak sedikit dari pembaca yang tidak sependapat dengan penulis dan berusaha mengajak penulis untuk berdebat atau adu argumen dengan meminta data dan fakta yang lengkap. Dan tidak jarang juga pembaca tersebut mengucapkan kata-kata kasar tak beretika dengan tidak menggunakan akal sehat yang bertujuan untuk menyerang penulis. Hal ini saya sebut dengan "debat kusir".

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), debat kusir adalah debat yang tidak didasari oleh akal sehat. Indikasi ini dapat kita kenali secara dini, apabila seorang pembaca dalam memberi tanggapan menunjukkan sikap arogan, terkesan menggurui, melecehkan dan menggunakan bahasa kasar dan suka ngelantur, ngalor-ngidul lari dari topik yang satu ke topik lain. 

Sudah dapat dipastikan bahwa orang tersebut sedang terganggu akal sehatnya dan sudah barang tentu tujuannya bukan untuk berdiskusi secara sehat untuk mencari solusi dari permasalahan yang sedang dibicarakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x