Mohon tunggu...
Rina Darma
Rina Darma Mohon Tunggu... Penulis - Ibu Rumah Tangga

Happy Gardening || Happy Reading || Happy Writing || Happy Knitting^^

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Belum Sembuh Kalau Belum Kerokan

26 November 2017   21:43 Diperbarui: 26 November 2017   22:02 1111
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj1jZ6dt9zXAhUMv48KHXBpCGIQjhwIBQ&url=https%3A%2F%2Fwww.hipwee.com%2Ftips%2F10-fakta-tentang-kerokan-yang-mungkin-belum-kamu-tahu%2F&psig=AOvVaw0yZd3Ed1p0lga2nJovccz-&ust=1511792186169333

Ritual apa sih yang kamu lakukan saat pulang kampung? Yang tak lupa dan harus dilakukan sebelum kembali ke perantauan. Terutama dengan ibu, seseorang yang membuat kita selalu kangen untuk pulang. Kalau saya pijatan di bahu dan kerokan. Lewat sentuhan tangannya yang berat tapi penuh kasih dan ketulusan rasanya semua beban dan kecapekan yang ditanggung selama terpisah jarak langsung sembuh. Makanya kalau sedang sakit bawaannya selalu ingin pulang. 

Saya sendiri adalah tipe orang yang  berprinsip DikitDikitJanganMinumObat. Hingga di usia 29 tahun ini, bisa dihitung dengan jari saya minum obat generik atau yang diberikan oleh dokter. Dari kecil saya tidak berbakat minum obat. Mau itu memakai air putih, nasi, roti, pisang selalu muntah lagi kecuali digerus seperti anak kecil. Rasanya yang pahit itulah penyebab saya kurang suka dengan obat.

Sewaktu SMA, saya pernah sakit untuk beberapa waktu. Setiap ditanya ibu apakah sudah meminum obat, saya selalu menjawab sudah. Dari rautnya memang terlihat sangsi. Sebab, obat tersebut memang saya berikan ke ayam. Jangan ditiru ya. Saat hamil, setiap pemeriksaan saya diberi vitamin dan penambah darah yang bentuknya tablet. Setiap suami bertanya apakah saya sudah meminumnya, saya juga selalu menjawab sudah. Padahal saya membuangnya atau mengabaikannya di dalam kantong plastik. Lalu, suatu ketika bidan bertanya apakah obat masih? Saya mengangguk tapi sang bidan langsung mengetahui kalau saya berbohong karena jumlah obat disesuaikan dengan jangka waktu pemeriksaan. Akhirnya saya mengaku tidak bisa makan obat dan bidan pun maklum asal saya sehat dan minum susu hamil. Yeayyy... saya dibebaskan dari tablet-tablet tersebut.

Ibu sebagai orang yang mendampingi tumbuh kembang saya dari kecil tentu sudah mengetahui kebiasaan ini. Suami pun akhirnya mengetahui dengan sendirinya dan diberitahu ibu saat saya melahirkan. Kata ibu, saya harus ditunggui kalau minum obat dan obatnya harus digerus terlebih dahulu.

Kita sebagai manusia tentu tak selamanya sehat. Adakalanya kita diuji dengan sakit baik sekedar masuk angin, sakit kepala maupun terserang batuk. Lalu saya yang kurang doyan obat apa solusinya? Istirahat dan kerokan. Warisan leluhur ini sangat mujarab kalau masuk angin maupun pegal-pegal. Murah, mudah, dan hampir tak berefek samping. Kalau mengutip Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Negri Solo (UNS) Profesor Dr. dr. Didik Gunawan Tamtomo, kerokan atau kerikan merupakan pengobatan holistik yang 4M yaitu mudah, murah, mesra, dan manjur.

Untuk melakukan kerokan biasanya saya dibantu dengan minyak kayu putih atau balsem. Alat yang dipakai uang logam 500-an warna kuning yang terbit tahun 1990-an. Atau sekarang memakai koin seribu-an yang tipis. Makanya koin tersebut pasti disimpan sebagai piranti jika butuh kerokan sewaktu-waktu. Nah, selain minyak kayu putih untuk melicinkan bisa juga menggunakan Balsem Lang. Aroma mint-nya yang melegakan juga bisa untuk terapi. Panasnya pas, merasuk, dan tahan lama serta tidak terlalu lengket. Sebab, ada juga lho balsem yang panasnya membakar. Kulit saya tidak kuat. Karena itu saya langsung membasuhnya dengan cara seperti mengompres dengan handuk.  Selain itu, Balsem Lang, ini balsem kepercayaan simbah atau ibunya ibu saya. Jadi, setiap habis diolesi Balsem Lang walau jauh rasanya saya sedang bersama mbah setri. Cucunya yang manja yang waktu kecil lebih suka tidur dalam dekapannya.

Ternyata kerokan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa ini juga dilakukan di negara lain lho. Masih menurut Prof. Dr. dr. Didik Gunawan Tamtomo juga dilakukan di negara China dengan nama Guasha, di Vietnam disebut Goh Kyol, dan di Thailand dikenal dengan Cao gio.

https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj1jZ6dt9zXAhUMv48KHXBpCGIQjhwIBQ&url=https%3A%2F%2Fwww.hipwee.com%2Ftips%2F10-fakta-tentang-kerokan-yang-mungkin-belum-kamu-tahu%2F&psig=AOvVaw0yZd3Ed1p0lga2nJovccz-&ust=1511792186169333
https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj1jZ6dt9zXAhUMv48KHXBpCGIQjhwIBQ&url=https%3A%2F%2Fwww.hipwee.com%2Ftips%2F10-fakta-tentang-kerokan-yang-mungkin-belum-kamu-tahu%2F&psig=AOvVaw0yZd3Ed1p0lga2nJovccz-&ust=1511792186169333
Kerokan (sumber di sini)

Nah, sewaktu kerokan ini setidaknya ada beberapa hal yang saya pertimbangkan:

Pertama. Kerokan di bagian yang sakit saja kecuali masuk angin. Saya mempunyai pemikiran kalau tidak sakit kenapa harus dikerokin? Misalnya bahu yang pegal ya bagian bahu belakang saja, kalau sedang batuk ya bagian lehernya saja, kalau punggung yang terasa pegal ya bagian punggung saja. Jadi bisa konsentrasi reaksi balsemnya sehingga bagian tubuh lain tidak ketularan sakit :D

Kedua. Memperhatikan alat yang dipakai. Pastikan halus dan bersih. Kalau tidak halus bisa-bisa badan malah lecet semua bukannya sembuh malah sakit badan dan perih semua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun