Mohon tunggu...
Rima Dhiniyah
Rima Dhiniyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

NIM 2000006021 Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Solusi Belajar Berhitung untuk Anak Usia Dini: Zenius Mengembangkan Program Belajar yang Interaktif

17 Juli 2021   14:18 Diperbarui: 19 Juli 2021   09:16 106 0 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Masa pandemi menjadi masa yang berat bagi semua kalangan masyarakat, terutama kalangan pelajar. Penyebaran virus yang menyebabkan berbagai klaster di tempat umum dan fasilitas publik membuat kegiatan pembelajaran di sekolah terpaksa terhenti. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pun menjadi solusi paling mutakhir saat masa pandemi. Para pelajar beralih menggunakan sistem digital untuk mengakses materi pembelajaran. Namun, menghilangnya sistem belajar tatap muka berdampak pada banyak aspek. Salah satunya adalah kemampuan siswa menyerap pelajaran secara daring. Pelajar Indonesia secara tiba-tiba harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran digital tanpa persiapan sebelumnya. 

Kondisi ini menciptakan banyak celah yang berpotensi melemahkan kemampuan siswa. Terutama bagi pelajar sekolah dasar yang masih terhitung anak usia dini. Para pelajar dalam rentang usia sekolah dasar masih belum siap berhadapan dengan pembelajaran daring. Hal ini karena ruang lingkup belajar bagi anak usia dini masih mencakup pengalaman belajar dan mengeksplor banyak ilmu pengetahuan. Pembelajaran anak usia dini masih berfokus pada permainan yang mengasah otak. Sementara keadaan pandemi membuat sekolah-sekolah tutup dan anak-anak terpaksa belajar di rumah.

Menyesuaikan pola belajar selama masa pandemi membutuhkan kesiapan yang matang dari pihak murid, guru, dan orang tua. Namun, sistem pendidikan Indonesia sampai saat ini masih bergelut pada pola yang tidak efektif. Pola belajar konvensional yang terjadi di sekolah hanya dipindahkan ke dalam sistem digital. Akibatnya anak tidak mengalami proses belajar yang interaktif. Proses belajar cenderung membosankan karena hanya berpusat pada penjelasan materi secara daring melalui layar gawai dan pemberian tugas. 

Proses belajar yang seperti ini masih mengadopses pola belajar konvensional yang sesungguhnya tidak lagi efektif diterapkan pada masa pandemi ini. Terutama bagi anak-anak usia dini yang masih berada dalam fase bermain. Kegiatan belajar yang hanya terpaku pada layar ponsel seharian tentu akan memicu rasa bosan. Perasaan bosan ini jika dibiarkan berkepanjangan akan menurunkan minat belajar anak. Di sisi lain, minat belajar sangat berkorelasi dengan kemauan dan tekad kuat untuk menyerap pelajaran. Tanpa adanya minat belajar yang kuat dan didukung pola belajar yang salah, maka kemampuan belajar anak akan menurun drastis.

Konsep pembelajaran ini masih menjadi budaya belajar yang mengakar kuat dalam sistem pendidikan Indonesia. Namun, perlu disadari bahwa konsep pembelajaran seperti ini sudah tidak efektif lagi digunakan untuk menghadapi masa pandemi. Indonesia masih berjuang melawan virus sampai saat ini tanpa kepastian tentang garis akhir.

 Maka pendidikan di Indonesia tak bisa terus bertahan pada sistem lama. Jika tidak maka peringkat pendidikan Indonesia akan semakin terpuruk. Berdasarkan data survei dari Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 lalu menyatakan peringkat pelajar Indonesia berada pada posisi terendah. 

Data survei yang mengambil tingkatan global ini menunjukkan kemampuan literasi, sains, dan numerasi para pelajar Indonesia sangat rendah. Data ini tentu menjadi tamparan keras bagi bidang pendidikan Indonesia. Terutama karena pendidikan adalah tombak kemajuan suatu bangsa. Penyebab rendahnya peringkat pendidikan Indonesia dalam PISA tak lain karena pola belajar yang masih konvensional. Kurikulum pembelajaran hanya menuntut para pelajar untuk menghapal sebanyak mungkin materi dan mendapatkan nilai ujian yang baik. Akan tetapi, ada aspek yang lebih penting dari sekadar hapalan teori dan rangkaian ujian yang diberikan sekolah.

Para pelajar Indonesia memerlukan dorongan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Pola konvensional di era digital ini sudah tidak efektif untuk menunjang proses belajar siswa. Terlebih lagi pendidikan di Indonesia tengah menghadapi masa-masa sulit akibat pandemi. Pola konvensional dari guru yang dipraktikkan di rumah tidak akan mampu mengeluarkan semua potensi siswa. Kondisi ini diperburuk jika guru-guru tidak sepenuhnya siap menghadapi perubahan sistem belajar. 

Maka diperlukan alat bantu untuk memfasilitasi proses belajar siswa di rumah. Wadah yang tepat untuk kebutuhan ini adalah platform pembelajaran online. Salah satu platform yang terkenal dan berkualitas adalah Zenius. Dalam hal ini Zenius tidak hanya memberikan fasilitas tayangan video penjelasan materi dan latihan soal kepada siswa, tetapi juga memudahkan kerja guru. 

Melalui peluncuran sistem Manajemen Pembelajaran Zenius untuk Guru (ZuG), Zenius memfasilitasi para guru untuk membuat kelas daring dengan akses gratis. Selain itu, ruang belajar yang diberikan Zenius juga memudahkan pelajar untuk mengiriimkan tugas dan mengakses materi dari guru. 

Dengan bantuan Zenius, siswa dapat mengakses konten-konten video pembelajaran yang dapat ditonton di mana saja. Fasilitas dan pelayanan ini membantu siswa mempelajari materi sulit seperti berhitung. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan