Mohon tunggu...
Rijo Tobing
Rijo Tobing Mohon Tunggu... Novelis - Novelis

Penulis buku kumpulan cerpen "Randomness Inside My Head" (2016), novel "Bond" (2018), dan kumpulan cerpen "The Cringe Stories" (2020) dalam bahasa Inggris. rijotobing.wordpress.com. setengah dari @podcast.thechosisters on Instagram.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Seandainya Ferdian Paleka Ikut Karang Taruna

19 Mei 2020   01:34 Diperbarui: 19 Mei 2020   01:43 300
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: VectorStock.com

Di tengah situasi pandemi Covid-19, alih-alih tulus membantu orang yang terdampak, Ferdian malah memberikan sampah kepada kelompok masyarakat yang termarjinalkan. Konten yang dia unggah pasti mengundang klik tapi isinya menghadirkan caci maki dan hujatan belaka dari viewer-nya.

Setelah banyak orang mengkritik perbuatannya, alih-alih tulus meminta maaf, ia malah dengan mudahnya berbohong soal penyesalannya. Frase "tapi bo'ong" menjadi populer namun dengan konotasi negatif. Masyarakat berhadapan dengan seseorang yang memiliki nilai moral dan etika yang patut dipertanyakan.

Seandainya ia tergabung dalam sebuah organisasi kepemudaan, Ferdian pasti akan meng-assess dulu apakah tindak-tanduknya sesuai dengan norma-norma kelompok yang menaunginya, apakah yang ia lakukan akan mendapat persetujuan atau malah membuat ia dikucilkan oleh kelompoknya. Kelompok sosialnya juga akan memberikan panduan bagaimana harus bersikap, berperilaku, dan menghadapi masalah.

Ini adalah esensi dari manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, ia berhak atas pilihan dan pendapatnya sendiri. Sebagai makhluk sosial, kelompok sosial dimana ia tergabung akan ikut membentuk pilihan dan pendapatnya. Persetujuan dan kesesuaian dengan aturan kelompok akan menjadi sesuatu yang terus dikejar oleh makhluk individu yang menjadi makhluk sosial.

Saya akan memberikan sebuah contoh.

Satu dekade lalu saya bekerja di sebuah kantor pemasaran di area terpencil di Pulau Kalimantan. Kantor pusat di Pulau Jawa mengirim saya ke sana untuk mengurusi kegiatan pembelian dan pengadaan barang. Kantor pusat dan kantor area sama-sama menerapkan sistem absensi sidik jari untuk merekam kehadiran di tempat kerja.

Di kantor pusat orang-orang takut datang terlambat karena ada banyak bos besar dan ada banyak mata-mata yang bisa sewaktu-waktu mengadukan perilaku kita. Tidak demikian halnya dengan di kantor area yang hanya mempekerjakan 17 orang staf. Absensi tetap berjalan tapi orang-orang tidak datang tepat waktu. Tidak ada yang mengomentari dan tidak ada yang mempermasalahkan.

Saya sebagai makhluk individu memilih untuk datang ke kantor sebelum atau tepat pada waktu kantor dibuka. Ini pilihan pribadi yang "disetujui" oleh norma di kantor pusat sebagai kelompok sosial saya sebelum pindah ke area. Namun kantor area adalah kelompok sosial tersendiri dengan beberapa norma yang berbeda.

Mereka cenderung menunggu sampai semua orang berkumpul baru mulai bekerja. Saat saya datang tepat waktu, belum ada orang di kantor. Belum ada meeting yang bisa dimulai, belum ada data yang bisa diminta. Akibatnya jadwal kerja saya jadi berantakan dan saya jadi uring-uringan sendiri, padahal saya hanya perlu menyesuaikan diri dengan norma kelompok sosial yang baru untuk bisa tetap bekerja dengan bahagia.

Kembali ke Ferdian Paleka. Saya jadi mengkhayal lagi, seandainya Ferdian ikut Karang Taruna, pada usia berapakah ia sebaiknya bergabung?

Menurut saya, pada usia 11 tahun, sesuai dengan aturan keanggotaan Karang Taruna. Pada usia ini, seorang anak yang selama ini terlindungi di dalam keluarganya sebagai kelompok sosialnya yang pertama akan mulai melongok keluar. Dia akan mulai mencari kelompok sosial baru dimana dia mendapat pengakuan dan persetujuan. Rasa dimiliki sangat penting untuk seorang anak yang menginjak remaja. Mustahil mereka loyal kepada sebuah kelompok sosial jika mereka tidak merasa sebagai bagian dari kelompok itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun