Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Hantu Kebun Teh

7 Oktober 2019   16:40 Diperbarui: 7 Oktober 2019   16:48 162 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hantu Kebun Teh
Sumber ilustrasi: easyreverse.com

Kami tiba di puncak kebun teh itu sudah larut malam. Perjalanan dari kota ke mari cukup melelahkan. Selain itu memualkan. Bagaimana tidak, kami harus menumpang pick up karena tak ada lagi angkutan umum. Ya, terpaksa. Meski impit-impitan dengan kambing. Pasti tahu kan hasilnya? Aroma kami benar-benar bau bandot. Mang sopir malahan ngledek. Biar pun bau, tapi kami tetap laku juga. Memangnya kami kambing?

Mang sopir salah tingkah. "Sorry, jangan marah dulu. Maksudku masih tetap laku itu, karena wajah kalian tampan lagi sterek. Eh, tapi ngomong-ngomong kok turun di sini..." Suaranya menggantung. Kemudian melajukan mobil seperti orang mabuk. Ada-ada saja mamang itu.

Kami berjalan melewati kebun teh, lalu beberapa batang pohon beringin. Mar beberapa kali meragukan infromasiku. Tapi Sutar, teman lamaku mengabarkan via WA, bahwa losmen itu tak jauh dari tanjakan akhir kebun teh. Selanjutnya jalan menurun, berliku seperti ular belum makan. Aku yakin guide yang diberikan Sutar itu tidak menyesatkan. Secara dia hafal betul lekuk-liku  hampir setiap daerah. Dia memang hobi travelling. Di usia menjelang tiga puluh tahun ini, dia masih menjomblo. Tak sempat memikirkan pacaran, katanya.

Sebuah bangunan yang menggunduk hitam, kemudian seolah mengganjal langkah kami. Rumah panggung dengan ormamen kuno. Ada dua patung hewan buas menyambut kami  di pintu masuk. Tak adakah saran penginapan yang lebih baik dari ini? Dan menggerutu. Dia menurunkan tas ransel, dan menggerak-gerakkan pinggang,

"Ada," jawabku.

"Di mana?"

"Di atas tanah dan di bawah langit. Nginapnya asyik, lagi gratis." Aku tersenyum melihatnya merengut. Dia atas pintu terulis "Losmen Ne raka". Harusnya Neoraka. Berhubung lampu dibagian huruf "O" rusak, jadi yang terbaca hanya Ne raka. Entah kenapa bulu  kudukku meremang. Ada desau angin malam menghantarkan bau amis. Bukan aroma teh yang menggoda. Dua temanku juga sedikit panik. Mata mereka jelalatan. Dan malah mengusulkan mencari penginapan lain. Hatinya terasa tak nyaman. Malam-malam begini? Apa dia gila? Saya menolak rengekannya.

Selintas ujung mataku melihat tirai di lantai dua bergerak. Seperti ada perempuan berambut panjang  tengah memata-matai kami. Aku lebih fokus melihatnya, hingga tirai itu ditutup. Keringat dingin mengembang di telapak tanganku.

"Cari siapa!" Tiba-tiba seorang boncel membentak, sehingga kami mengelus dada saking terkejutnya. Kepala si boncel nyaris botak, dengan beberapa totol-totol hitam. Dia juga perpunuk. Jalannya terbungkuk-bungkuk. "Aku penjaga losmen ini," katanya. Kami bertiga menghembuskan napas lega.

"Kami tamu. Mau menginap," kataku. Dia membuka pintu, dan menyuruh kami masuk. Kondisi di luar dan dalam losmen sama menyeramkan. Berjejer di dekat lobby beberapa  hewan buas yang siap menerkam. Tampaknya mereka diair keras. Mar iseng mengelus taring salah satu hewan itu. Akhirnya dia mendapat hadiah bentakan dari si boncel. Kawanku satu ini, meskipun bertubuh paling besar, tapi nyalinya juga paling kecil. Jangan sampai dia kencing celana.

Saat si boncel menyerahkan kunci dengan gantungan nomor tiga belas, aku melihat seorang perempuan berambut panjang menatap kami dengan mata jelalatan dari lantai dua. Dia memiring-miringkan kepalanya seperti kurang senang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x