Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Membasuh Sejarah

11 September 2019   10:30 Diperbarui: 11 September 2019   10:44 0 6 0 Mohon Tunggu...
Puisi | Membasuh Sejarah
sumber ilustrasi : pixabay

Kita terlalu lama tak membasuh sejarah, daki merupakan bukti berkaratnya kompas arah,  labirin membingungkan menjerembab dalam liang yang sama, lupa belajar sejarah, setelah karatnya simetris dengan retak, saat kepulangan.

Hidup adalah sejarah yang berulang, tak ada yang baru kecuali inovasi, masih ada orang baik  menyesap kopi dan jelanak rokok, membiarkan mereka berlalulalang sibuk dengan ladang.

Hidup adalah sejarah yang berulang, tak ada yang baru kecuali inovasi, tetap ada orang jahat berdiam di tuas malam, memikirkan bagaimana lalulalang dikekang, ladang orang diberangus, pada saat kawan menjadi lawan, entah kapan lawan bisa menjadi kawan.

Kembalilah pada rintih sejarah,  lupa dibasuh, lupa diingat, karena setiap isi  berpongah, dulunya memiliki kulit penjaga, bagaimana menata masa depan, meski jasa terlupa diselimut gersang, dada  parang.

Sepeti pohon durian akan tumbuh besar, berbuah, legit menempel di jakun, karena ada sejarah  mengaminkan biji, sehingga dia mau dirayu menjadi tunas, sebagai pemberi makan masa.

Kita jangan lupa sejarah, sebelum kita akhirnya kalah, dipapah, karena kaki patah, basuhlah dia sebelum daki itu menjadi kecambah susah.

Ujung Kata, 919

KONTEN MENARIK LAINNYA
x