Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Puisi untuk Ibu

9 Mei 2019   10:14 Diperbarui: 13 Mei 2019   19:43 0 14 7 Mohon Tunggu...
Cerpen | Puisi untuk Ibu
sumber ilustrasi : pixabay

Airin sudah setengah jam duduk di belakang meja belajar. Kertas di hadapannya masih kosong. Sementara peringatan hari ibu tinggal dua hari lagi. Teman-teman sekelas Airin telah menyiapkan hadiah untuk ibu mereka. Bagaimana dengan Airin? 

"Airin!" Ibu memanggil dari ruang tamu. Airin buru-buru memasukkan kertas dan pena ke dalam laci. 

"Sebentar, Bu!" jawab Airin.

Seraut wajah muncul di sela pintu. "Lagi belajar, ya? Bisa minta tolong antarin baju Ibu ke rumah Bu Sahar? Soalnya baju jahitan Bu Sahar kekecilan di bagian pinggang. Kasih tahu Bu Sahar, pinggangnya minta dilebarin."

 Ibu meletakkan baju yang sudah dibungkus koran di meja belajar Airin. Setelah Ibu ke luar kamar, Airin tak langsung berangkat mengantarkan baju itu. Dia malahan berdecak kegirangan. Dia mendapat ide membuat puisi berjudul "Puisi Untuk Ibu". Segera dia mengambil kertas dan pena dari dalam laci meja. Namun, setelah menulis judul puisi itu, dia diam tak tahu mau menulis apa lagi.

Sejam berselang, Airin terkejut karena ada orang yang mengguncang-guncang bahunya. Ketika dia menolah, ternyata ibu. Airin malu sebab ketiduran di meja belajar. Dia buru-buru memasukkan kertas dan pena ke dalam laci meja. Jangan sampai ibu tahu dia membuat puisi. Kalau sampai ibu tahu, namanya bukan hadiah kejutan lagi.

"Lho! Baju Ibu belum kau antar ke rumah Bu Sahar, ya?" Ibu menggeleng-gelengkan kepala. Airin tertunduk karena merasa bersalah. Akhirnya ibu sendiri yang mengantarkan baju itu ke rumah Bu Sahar.

"Airin!" Kak Ita memanggilnya. Wah, gangguan lagi! Airin belum sempat memasukkan kertas dan pena ke laci meja, tapi Kak Ita sudah berdiri di belakangnya. "Kenapa kau di kamar terus? Ayo, ada rahasia apa! Kasih tahu sama Kakak!" 

"Nggak ada rahasia-rahasiaan, Kak!" jawab Airin. Kak Ita malahan tersenyum sambil merebut kertas dari tangan adiknya itu. 

"Puisi Untuk Ibu. Hahaha, kau mu jadi penyair, ya? Atau, kau mau ikut lomba?" Kak Ita melambai-lambaikan kertas itu. Airin berusaha merebutnya. "Ayo, untuk apa kau buat puisi! Kalau nggak ngasih tahu, kertas ini nggak akan Kakak kembalikan."

"Puisi itu untuk hadiah hari Ibu. Tapi aku baru bisa membuat judulnya, Kak. Kakak bisa bantu nggak?" tanya Airin. Kak Ita terdiam. Kasihan juga dia melihat Airin. Beberapa menit kemudian, mereka bersama-sama membuat satu puisi untuk Ibu. Setengah jam lamanya, satu puisi sudah selesai. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x