Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Harta Karun

5 Mei 2019   21:35 Diperbarui: 5 Mei 2019   22:11 0 3 1 Mohon Tunggu...
Harta Karun
sumber ilustrasi : pixabay

Alkisah di sebuah kampung, hiduplah Pak Tua dengan dua anaknya, Sulung dan Bungsu. Pada suatu hari, Pak Tua merasa tubuhnya sangat lemah. Dia berpikir umurnya tidak akan lama lagi. Maka, dia memanggil kedua anaknya.

"Ada apa,  Ayah?" tanya Sulung dan Bungsu bersamaan.

"Sepertinya umur Ayah tidak akan lama lagi. Ayah hanya memiliki tanah di dekat kaki bukit dan beberapa ekor sapi untuk kalian. Sulung, sebagai anak pertama, pilihlah yang mana yang kau mau," kata Pak Tua dengan suara gemetar.

Sulung merasa senang. Dia langsung memilih tanah di kaki bukit. Dia sudah lama mendengar cerita kalau di tanah itu terpendam harta karun. Sementara Bungsu, meskipun menginginkan tanah itu untuk bercocok-tanam, menerima warisan beberapa ekor sapi.

Beberapa hari kemudian, Pak Tua meninggal dunia. Setelah dia dikuburkan, Sulung mulai bekerja di tanah itu. Dia membayangkan sebentar lagi akan mendapatkan harta karun. "Kenapa selama ini Ayah tak pernah mau menggali dan mencari harta karun itu, ya? Hahaha! Sekarang harta karun itu menjadi milikku!"

Sulung menggali tanah  itu tanpa kenal lelah. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan. Tapi apa yang dia harapkan sama sekali tidak ada. Dia hanya mendapatkan batu-batuan dan  akar-akaran. 

Sulung mulai menyesal kenapa memilih warisan sebidang tanah tidak berharga itu. Dia juga iri melihat si bungsu tidak perlu bersusah-payah memelihara beberapa ekor sapi. Pada saat matahari terbit, Bungsu menggiring mereka ke padang rumput. Setelah itu Bungsu bebas mau pergi ke mana saja. Sapi-sapi itu aman di sana. Sore hari, Bungsu menggiring mereka pulang ke kandang. Bungsu tetap ceria, tidak kelelahan seperti Sulung.

"Apa kabar dengan sapi-sapimu, Bungsu?" tanya Sulung suatu hari.

"Mereka baik-baik saja. Dan mungkin tidak lama lagi tiga ekor sapi akan beranak. Sebab saat Ayah menyerahkan mereka kepadaku, mereka sedang mengandung," jawab Bungsu sambil tersenyum senang. 

"Nasibmu bagus sekali, Bungsu. Sementara aku tidak mendapatkan harta karun seperti cerita orang-orang di tanah milikku. Aku hanya menemukan batu-batuan dan akar-akaran." Sulung menyesali nasibnya.

"Lho, Abang sendiri yang salah. Tanah itu harus digarap, ditanami pepohonan, atau sayur-sayuran. Kelak Abang akan mendapatkan harta karun berlimpah-ruah." Bungsu permisi karena akan pergi menggiring sapi ke padang rumput. 

Beberapa hari kemudian Sulung hanya bermalas-malasan di rumah. 

"Kenapa Abang tidak menggarap tanah itu lagi? Ayolah, Bang! Sekarang adalah waktu yang sesuai untuk bercocok tanam," kata Bungsu.

"Sebenarnya aku hanya ingin kita bertukar tempat. Maksudku, aku yang memelihara sapi, dan tanah itu menjadi milikmu. Bagaimana? Kau mau?" tanya Sulung.

Wajah Bungsu langsung berubah cerah. Dia memang menginginkan tanah itu. "Aku setuju!" ujar Bungsu yang disambut Sulung dengan senyum yang lebar.

Maka sejak saat itu, Sulung memelihata sapi, dan Bungsu menggarap tanah di kaki bukit.

Beberapa bulan lamanya, sapi milik Sulung beranak-pinak. Sementara pepohon mulai tumbuh di atas tanah milik Bungsu. Dia juga telah satu kali memanen sayur-mayur. Tapi musim kemarau yang datang tanpa diduga, membuat pepohonan dan sayur-mayur milik Bungsu menjadi layu. Karena itulah dia bermaksud menggali sumur di sekitar pinggir kebun.

Berhari-hari dia menggali sumur dengan sabar. Hanya saja dia belum berhasil mendapatkan mata air. Hingga suatu hari cangkulnya menyentuh sesuatu yang keras. Sesuatu itu adalah sebuah peti besi berisi emas.

Bukan main gembiranya hati Bungsu. Dia langsung mengabarkan kepada si Sulung tentang harta karun yang dia dapat. Meskipun tanah dan seluruh isinya sudah menjadi miliknya, tapi Bungsu tetap membagi harta temuannya kepada Sulung. Akhirnya dua bersaudara itu menjadi orang yang kaya-raya dan dermawan.

---sekian---