Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... Menebus bait

Karyawan swasta dan penulis. Menulis sejak 1989 sampai sekarang

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Hujan Lagi

8 Maret 2021   15:24 Diperbarui: 8 Maret 2021   15:38 41 7 2 Mohon Tunggu...

hujan turun lagi bersijingkat
aku menyeduh cinta di pagi rebah
tak ada salahnya kembali menabur benih
ketika siang aku rawat
aku pupuk dengan senja yang ranum
hanya kita yang memilikinya

gelap memaku gerap
saat pulang dari segala sembab kehidupan
aku ingin kita menyemai jerih payah
menikmati cinta dalam balutan nyala lilin
meningkahi kafein agar kita tetap terjaga
pada matamu kupahat rindu
mungkinkah kita dapat memajang di ruang tamu
anak-anak yang menggambar dunia
bercerita tentang betapa cantik bunda
di bahu ini beban mudah meluluskan materi
tak terlalu sukar menyuapkan kehidupan
agar mereka kelak faham bagai mana rasa kenyang
mencangkul kehidupan tak lagi kurang

tapi aku yakin, Bunda
betapa berat mengajari tentang kematian
lahan-lahan ghaib teramat sering terlupa
ada sarang laba-laba di dinding mushola
kita bangun di tempat berharga
tanpa penghuni selain nganga dari kecewa
dari nyala dunia yang menipu saling menghanguskan

siapa kelak yang mengirim doa
kita akan memanggul dosa, Bunda
berlarat-larat
dunia semakin tertawa
kita terhimpit dalam siksa pada saatnya tak kembali
tak bisa kembali

hujan turun lagi bersijingkat
mari kita nikmati sekedar canda
memupuk benih cinta pada cahaya
sebelum gelap menguasai jagat
aku ingin mengajari bagaimana membaca alif
agar jiwa tegak, mengajari tak rebah

membaca ba, pada babak-babak kehidupan
kesenangan tak sampai membuat tertawa pongah
kesedihan hanya melahirkan senyum
kesenangan dan kesedihan sama rasanya
ketika kita sanggup menikmatinya

membaca ta, tertatih aku mengajar anak tentang dunia
sekarat rasa bagaimana dia berhasil dibentuk
agar faham ini tempat istirah dari terik yang mengabar langit
satu setengah jam hanya sebentar, Sayang
karena kita harus pulang pada tempat tak berpulang
aku ingin mengajarinya menanam mahkota di kepala orangtua
sangat gigih mengajari dunia
kala tak faham satu tambah satu itulah dua
terasa hati berselimut duka
orang tua yang terkadang alpa menjagari akhirat
kala tak faham membaca alif bat ta
rasa sedih itu hampir tak terasa
tapi aku berusaha fahamkan bagaimana kelak mendoakan
ayah bunda

kami tak perlu gedung bertingat tahta
tak hirau sedu sedan kendaraan
tak juga dunia yang kau genggamkan di tangan kami
kecuali hanya sebaris kata yang menghantar
ketika pintu kembali telah ditutup
kirimkan pula kebaikan dunia
karena itu adalah hasil jerih payah tak terkira
bukan kekayaan harta dari hasil menipu dunia

hujan turun lagi, Sayang
tutuplah jendela
agar benih-benih menjadi doa
aku melihat cerita di matamu
pada kehangatan pagi sebelum siang
pada gelegak siang sebelum senja
ranum merah di ufuk barat
pada saatnya selimut gelap
kau kudekap

Plg, 2019

tayang di kaskus.co.id

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x