Mohon tunggu...
Reza Nurrohman
Reza Nurrohman Mohon Tunggu... Wiraswasta -

manusia yang terus bertumbuh. tidur dan makan adalah hal yang lebih menyenangkan sebenarnya namun berkerja merupakan kewajiban saya

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Ketika Supir Menjadi Pahlawan Peristiwa Bersejarah di Korea Selatan

7 Oktober 2017   10:31 Diperbarui: 7 Oktober 2017   11:25 18047
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hiburan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

"The truth about the uprising has not been fully revealed. This is the task we have to resolve. I believe this movie will help resolve it." Begitulah komentar Presiden Korea Moon Jae In tanggal 13 Agustus 2017 ketika selesai menonton film ini yang juga merupakan film laris dan kandidat oscar dari korea selatan. Namun sayang beribu sayang alih-alih menjernihkan kebenaran seperti yang diharapkan sang presiden namun nyatanya  sampai saat ini memang jasa orang-orang  kecil  memang hanya pahlawan tanpa tanda jasa alias penggembira atau suporter  saja.

Harus kita akui bersama peristiwa sejarah terutama Indonesia hanya fokus pada orang-orang besar. Dari mulai sekolahan sampai warung kopi dijalanan kita hanya mendengar nama-nama artis, pengusaha, politisi dan Jenderal. Jarang kita dengar jasa orang-orang kecil disekeliling mereka yang andaikata mereka tidak ada mungkin sang tokoh besar akan meregang nyawa seperti  supir Jenderal Sudirman dalam perang kemerdekaan. 

Media populer Indonesia pun sama saja hanya melulu menceritakan orang-orang besar seperti film Jenderal Sudirman yang sayangnya hanya menonjolkan sosok pahlawan tanpa menceritakan sisi kemanusiaanya maka jangan heran kalau film-film sejarah Indonesia jarang  laku dipasaran. Saya kira orang Indonesia harus belajar kepada korea selatan dalam hal ini mereka berani mengangkat orang-orang kecil  dalam sejarah ke permukaan melalui film yang bahkan diapresiasi tinggi oleh sang presiden serta dapat pengakuan internasional sebagai kandidat oscar karena  ceritanya melawan arus utama  sejarah orang-orang besar.

Film ini berangkat dari sejarah yang kelam dan berdarah yang selalu ingin dilupakan orang Korea Selatan karena luka yang timbul sangat dalam. Peristiwa konflik antara pemerintah dengan rakyatnya sendiri memang selalu berujung petaka seperti G 30 S ataupun berujung berkah seperti demontrasi massa 98. Sineas Jang Hoon terinspirasi dari peristiwa bersejarah gerakan  demokratisasi Gwangju di Korea Selatan. 

Yang  menarik sang sineas bukan mengangkat tokoh besarseperti politisi baik penguasa maupun oposisi. Ternyata kejeniusan sineas ini berhasil membuka mata publik korea selatan bahwa  ada kisah  kepahlawanan yang terlupakan dari seorang supir yang tanpanya mungkin peristiwa Gwang Ju akan mudah dilupakan karena sensor yang ketat ketika itu.  Media sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah dan tentara sehingga tidak ada perimbangan informasi dari kedua pihak yang berseteru.

A Taxi Driver berangkat dari kehidupan rakyat kecil yang hanya peduli dengan menyambung hidup tentang masalah pelik Kim Sa Bok yang terancam terusir dari kontarakanya bersama seorang anak perempuan kesayanganya bernama Kim Seung Pil, dengan masalah kemiskinan yang melanda paska kematian Istri yang meninggal sakit-sakitan. 


Di sisi lain seperti umumnya setiap negara para turis  selalu menjadi rebutan untuk supir dalam mengais rejeki yang lebih besar daripada penumpang lokal. Masalahnya Kim Sa Bok ini termasuk supir aspal alias asli tapi palsu karena lisensi taksinya bukan lisensi perusahaan melainkan lisensi taksi pribadi yang dibelinya paska bekerja di Timur Tengah. Jadi  begitulah hidupnya  penuh masalah sehingga tak memikirkan soal politik apalagi update berita terbaru tentang huru-hara Korea Selatan secara global namun hanya menggagap itu sebagai angin lalu.

A Taxi Driver  juga  berangkat dari tokoh utama lainya yaitu Thomas Kretschmann atau akrab disapa Peter seorang Pendeta atau missionaris yang  datang ke Korea  Selatan  dari  jerman. Sebenarnya Peter hanyalah samaran daripada identitas asli  Jurgen Hinzpeter  seorang jurnalis atau wartawan Jerman yang semula tinggal di Jepang namun karena bosan dan mencari tantangan baru lalu memilih pergi ke Korea Selatan. 

Awalnya Peter memang tak sengaja  betemu Supir Kim dijalanan karena salah  sangka taksi  yang dipesan. Nasib memang berpihak pada supir Kim karena kemampuan bahasa Inggrisnya membuat Peter yakin naik ke taksinya menuju Gwang Ju untuk meliput  peristiwa pembantaian gwangju.

Perjalanan  mereka  ke Gwangju tidak semulus yang diharapkan.  Banyak halang rintangan untuk menembus  blokade aparat kemanan dan tentara. Untungnya pengalaman wajib militer supir Kim sedikit banyak membantu untuk mensiasati  blokade tentara dengan menyamarkan identitas Peter  sebagai VIP  atau  pejabat  penting  luar negeri sehingga tembuslah blokade itu. 

Dalam wilayah  gwangju pun bukanya supir  Kim lancar malah awalnya ada kesalahpahaman dengan supir  Gwangju karena  kim merupakan supir Seoul.  Akhirnya karena keadaan semakin gawat dan butuh banyak kendaraan untuk  lalu lalang maka  supir Kim diterima sebagai bagian dari   supir  Gwangju. Dalam peristiwa  Gwangju  terjadi simbiosis mutualisme antara  supir dan masyarakat.  Masyarakat menjamin supir dengan logistik berupa makanan  dan bensin alih-alih  membayar  dengan  uang. Supir kim sendiri  mendapat perlakuan istimewa  karena membawa wartawan asing sehingga  banyak masyarakat  dan kaum oposisi  yang memudahkan  perjalananya. 

Di lain pihak yang berkuasa dan  pemerintah  menyebarkan beita  bahwa Kim merupakan  agen komunis  dan Peter  merupakan agen intel asing sehingga mereka juga diburu.

Sayang beribu sayang kalau pembaca merupakan seorang kritikus film seperti  S Aji dan Yusran Darmawan pastilah  akan kecewa karena suatu hal  mendasar apabila  ada  keterlibatan orang asing. Film ini termasuk film berkarakter "Whitewashing". Yakni film yang selalu menghadirkan orang kulit putih, Kaukasoid, selalu sebagai pahlawan; semacam kultus kulit putih tanpa pernah retak. 

Saya kira, benar adanya karena Peter digambarkan sangat sempurna penuh  ketegaran dan keberanian  dibandingkan supir Kim yang kadang  khawatir keselamatan dirinya, kendaraan taksinya  dan nasib putrinya yang sendirian dirumah karena harus pergi lama berhari-hari. 

Terlepas dari sisi yang memang nyebelin ini, satu hal menarik yang perlu dilihat adalah konsistensi manusia atas profesinya. Terlebih-lebih ketika manusia  teruji kepada situasi dan kondisi tertentu, yakni terjadinya anomali antara kondisi  ideal pekerjaan dengan kondisi real  dilapangan. Dari kacamata seorang supir Kim  tentu kondisi ideal merupakan perjalanan yang lancar  tanpa hambatan otoritas dengan kartu pengenal supirnya. 

Dari kacamata seorang wartawan Peter tentu kondisi ideal merupakan perekaman yang  lancar tanpa hambatan otoritas dengan kartu pengenal persnya. Masalahnya  situasi lapangan sedemikian pelik sehingga kedua orang  yang  profesinya seharusnya menjaga jarak  dengan politik malah terlibat dalam konflik langsung kedua kubu.

Ada percakapan antara supir kim dan  wartawan peter yang merenungkan kembali apa sebab mereka bertahan. Peter dari Jerman  merupakan wakil Barat bertahan untuk diri sendiri demi penghargaan pers suatu ajang bergengsi bagi jurnalis. Sedang bagi Supir Kim bertahan adalah pengorbanan diri untuk sesuatu yang lebih besar. Yakni keberlangsungan hidup keturunanya yaitu Kim Seung Pil agar  tidak hidup menderita dengan uang  upah dari wartawan  Peter  atas jasanya.

Terhadap alasan-alasan kedua tokoh utama yang cenderung individualistis dan bahkan sangat apolitis sekali sebenarnya karena kedua pihak awalnya tidak peduli sama  sekali dengan Gwangju. Film ini menunjukan perkembangan kedua tokoh yang  kemudian ternyata mengalami pencerahan untuk terlibat langsung secara emosional karena alasan sosial.

 Satu persatu  orang-orang yang melindungi Supir Kim dan Wartawan Peter dengan sukarela  mengorbankan  nyawa untuk keselamatan  informasi  rekaman  gwangju membuat  sisi kemanusiaan  bangkit mengalahkan sisi kebinatangan.  Kim  dan Peter pun kemudian  bahu  membahu bekerja  sama untuk  lolos dari gwangju ke seoul dengan berbagai  intrik serta penyamaran agar  rekaman  gwangju dapat tersiar utuh melalui luar negeri. 

Sayang dikemudian hari hanya Peter yang mendapat  penghargaan  karena dia lupa menanyakan identitas asli Supir Kim.  Kedua sahabat yang saling mencintai dalam kemanusiaan ini  pun tidak dapat jatah  yang  adil dalam sejarah. Satu orang  meninggal sebagai pahlawan dan satunya meninggal sebagai  pengkhianat tanpa  pernah bisa bertemu kembali. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun