Retno Permatasari
Retno Permatasari

seorang yang senang traveling

Selanjutnya

Tutup

Muda

Jangan Biarkan Sentimen SARA Merusak Keberagaman Indonesia

11 September 2017   07:23 Diperbarui: 11 September 2017   07:30 311 0 0
Jangan Biarkan Sentimen SARA Merusak Keberagaman Indonesia
Stop SARA - tribunrakyat.com

Mungkin hanya di Indonesia yang tingkat keberagamannya sangat tinggi. Mulai dari keanekaragaman floda dan fauna, suku, agama, bahasa hingga budaya. Semuanya itu sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Karena keaganekaragaman itulah yang menjadi daya tarik di sektor pariwisata. Sedangkan keberagaman suku, agama, bahasa dan budaya telah mengantarkan Indonesia menjadi negeri yang toleran, yang sangat mengedepankan kerukunan antar umat beragama.

Saat ini, keberagaman di Indonesia terus mendapatkan ujian. Ada saja pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, menghembuskan isu SARA untuk memecah belah persatuan. Masyarakat yang awalnya toleran, berubah menjadi intoleran. Masyarakat yang awalnya murah senyum, menjadi mudah marah. Masyarakat yang awalnya penyebar pesan damai, kini menjadi penyebar kebencian. Ironis memang. Perilaku yang bertolak belakang dengan budaya Indonesia ini, pelan-pelan terus disusupkan ke media sosial. Karena intensitasnya begitu masif, hal ini bisa mempengaruhi perilaku seseorang.

Provokasi radikalisme yang menyelinap di media sosial, telah menjadi konsumsi yang tidak bisa dihindari. Berbagai isu dimainkan oleh kelompok radikal, untuk memunculkan kebencian. Bahkan, isu Rohingya yang terjadi di Myanmar, juga 'digoreng' di dalam negeri. Ajakan jihad ke Rohingya terus bermunculan. Ironisnya, jihad yang dipahami ini adalah perang melawan militer Myanmar, yang dianggap terus melakukan ketidakadilan terhadap muslim Rohingya. Konflik yang terjadipun dimaknai sebagai konflik agama. Hal inilah yang kemudian mengkhawatirkan bagi Indonesia.

Kenapa Indonesia perlu khawatir terhadap konflik di Rohingya? Karena jika para jihadis ini benar berangkat ke Myanmar, mereka akan belajar perang secara otodidak. Begitu juga ketika terjadi konflik di Afaganistan, banyak yang mengundang kedatangan para jihadis asal Indonesia. Ketika mereka pulang ke Indonesia, faktanya alumni dari Afganistan inilah yang ikut berkontribusi terjadinya aksi terorisme di Indonesia. Begitu juga dengan yang terjadi di Myanmar, ketika para jihadis asal Indonesia berangkat dan kemudian pulang, juga bisa berpotensi memunculkan aksi terorisme di Indonesia.

Karena itulah, perlunya peran semua orang untuk menebar perdamaian di Myanmar. Pemerintah harus berperan aktif mendorong rasa damai di Myanmar. Kita sebagai masyarakat biasa, juga harus berperan aktif menciptakan perdamaian. Cara yang sederhana adalah, tidak menyebarkan informasi hoax terkait Rohingya, tidak menyebarkan kebencian baru terhadap kelompok tertentu, dan aktif melakukan kontra narasi di media sosial. Seperti kita tahu, media sosial juga telah dimanfaatkan untuk keperluan negatif menyebarkan informasi menyesatkan. Informasi yang salah itulah yang kemudian berpotensi membuat masyarakat terbelah.

Mari kita jauhkan sentimen SARA mulai dari diri kita sendiri. Jangan berujar dan berperilaku dengan sentimen SARA. Sebaliknya, berkata dan berperilakulah dengan kesejukan. Jika semangat perdamaian ini sudah dimulai sejak dari dalam pikiran, diharapkan outputnya pun juga akan melahirkan perdamaian. Ingat, sentimen SARA tidak hanya memicu terjadinya aksi terorisme, tapi juga berpotensi menghancurkan negeri yang penuh dengan keanekaragaman ini. Semoga tulisan ini bisa jadi pembelajaran bersama.