Mohon tunggu...
Repinarsi Repinarsi
Repinarsi Repinarsi Mohon Tunggu... Guru - Guru

Penulis adalah seorang Guru yang bertugas di UPTD SMP Negeri 1 Pudingbesar dan mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah BIdang Kurikulum serta Ketua MGMP IPA Kabupaten Bangka. Ibu rumah tangga yang hobi membaca, memasak, dan menulis juga terlibat aktif sebagai pengurus PGRI Kecamatan Pudingbesar dan Ketua Pokja I PKK Kecamatan PUdingbesar.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Menunggu Bulan

6 November 2022   15:40 Diperbarui: 6 November 2022   15:45 171
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Udara malam begitu menusuk tulang, laksana jarum-jarum kecil yang mengalirkan ribuan mili serum salju ke dalam tubuh.  Langit gelap dengan angin yang bertiup sekencang larinya kuda sembrani.  Rasanya tak seorang pun makhluk yang berhasrat untuk memunculkan dirinya, bahkan seekor katak sekalipun.  Hanya suara jangkrik yang terdengar seperti irama pelengkap kesenyapan.  Namun, masih ada seseorang yang kelihatannya sangat menikmati malam ini.  Bocah lelaki dengan wajah tirus dan mata bulat bening terus menatap ke langit dengan pandang penuh harap.  Berkulit sawo matang, hidung mancung dan alis hitam bersusun rapi di a tas bulu mata yang terlalu lentik untuk ukuran seorang bocah laki-laki.  Saat tersenyum tampaklah gigi yang tumbuh tidak beraturan.  Dia duduk di atas sebuah kursi kayu usang sambil memilin-milin ujung kaos oblongnya yang lusuh.

"Sudahlah Sim, bulan tak akan muncul malam ini.  Lihat, sepertinya malam ini akan hujan." Seorang perempuan berusia sekitar 28 tahun muncul dari dalam rumah dan berjongkok di sisi Kosim.  Ia dan anaknya seperti pinang di belah dua.  Hanya saja kehidupan yang ganas telah menggores banyak kerutan di wajah teduhnya.  Mata perempuan itu memancarkan kelembutan sekaligus ketegaran dan rahasia kesedihan yang tak ingin terlihat oleh orang lain. Namun, di depan putranya ia selalu menampakkan senyum seterang matahari dan suara selembut desir ombak Pantai Bembang yang tak jauh dari rumahnya.  Sesungguhnya ia merasa sepi.  Bagaimana tidak, rumah mereka agak jauh dari rumah penduduk lainnya, tidak ada listrik, apalagi kotak yang mampu bicara.  Hanya terkadang saat bulan muncul dengan keindahannya yang sempurna, banyak pemuda-pemudi yang rekreasi di sana.  Bahkan, karena bibir pantai yang luas dan bersih, dengan hamparan pasir keemasan tertimpa cahaya sang rembulan, kawasan itu sering dijadikan arena balapan motor oleh remaja-remaja pria tanggung.  Wajar saja jika ia hanya bengong ketika ibu-ibu sepertinya membicarakan tentang remisi bagi koruptor, selebriti yang jadi tersangka pada kasus kematian istrinya, perkelahian pelajar, atau penyelesaian korupsi yang tidak pernah selesai.  Ia hanya memiliki sebuah kitab Al-qur'an terjemahan dan beberapa buku tentang kisah Nabi dan Rasul yang menjadi mahar saat pernikahannya sebagai pelipur saat jiwa kelelahan.  Hanya senandung firman Allah itulah yang dijadikan penghibur bagi sang putra, karena tiada mampu dirinya untuk membelikan PS, Ipod, atau sekedar mobil-mobilan yang dijual oleh Mas Tejo, penjual mainan keliling yang sering berbaik hati memberikan permen lolipop untuk Kosim.  Untunglah ketika mengeyam pendidikan dasar, Ibu Diyah pernah mengajari beberapa kerajinan tangan dari barang-barang bekas dan cangkang moluska yang memang tersedia melimpah di bibir pantai Bembang.  Terkadang timbul keinginan pindah ke Parit III yang lebih ramai agar Kosim tidak terlalu kesepian saat ditinggal bekerja, tetapi rumah mungil itu adalah kenangan terindah dan surga cinta almarhum suaminya. Namun, keraguan kerap singgah tentang kelangsungan hidup Hewan lunak dan cangkang-cangkang indah itu, jika kapal isap sudah menetap di laut Bembang yang biru nan tenang.  Kapal-kapal itu pasti menggilas semua biota laut dan menghitamkan warna airnya.  Bahkan sekarang bibir pantai lebih banyak di huni oleh kayu-kayu sakan dan drum-drum besar berwarna biru.  Ahh... dunia telah menguasai manusia, semuanya...

"Tidak bunda, kosim akan menunggu.  Bunda tidur saja"

"Tapi kamu sudah menunggunya selama satu minggu ini Nak.  Belum saatnya bulan untuk muncul."

"Bulan akan muncul malam ini."  Bocah itu terus bersikukuh sambil tak lepas menatap langit.

"Itulah yang kau katakan setiap malam".  Wanita yang dipanggil bunda tidak tampak kesal dengan sikap Kosim.  Wanita dengan senyum matahari.   " Kalau kau sakit, Bunda tidak bisa kerja karena harus menjagamu".

"Kosim tidak sakit Bun.  Sudahlah, Bunda masuk duluan, Kosim masih mau menunggu bulan sebentar lagi".

Dengan wajah prihatin bercampur sedih wanita itu masuk ke dalam rumah atau lebih tepatnya disebut kubus berukuran 3 m x 3m.  Sekali lagi dia menoleh ke arah bocah kurus itu, kemudian bergegas menghilang di pintu.

Ambilkan bulan bu...ambilkan bulan bu

Yang slalu bersinar di langit...di langit bulan benderang

Cahyanya sampai ke bintang....Ambilkan bulan bu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun