Reni Pebriyani
Reni Pebriyani Pelajar

Saintis yang lagi belajar nulis

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Perlukah Aksen Pribumi dalam Berbicara Bahasa Asing?

14 Desember 2018   13:32 Diperbarui: 14 Desember 2018   15:46 1844 11 5
Perlukah Aksen Pribumi dalam Berbicara Bahasa Asing?
Sumber: learntalk.com

Belajar bahasa asing seperti Bahasa Inggris bukan lagi jadi barang mewah yang hanya bisa dipelajari manusia kelas priyayi. Lembaga les bertebaran di mana-mana, dari kelas daring hingga kelas dengan guru yang hanya sejarak hitungan ubin.

Tantangan gramatikal yang lebih kompleks dibandingkan Bahasa Indonesia tak menjadikan antusiasme belajar menjadi redup. Justru kebutuhan untuk lebih kompetitif di era globalisasi menjadi landasan klasik mengapa orang begitu butuh mempelajari bahasa internasional ini.

Namun, masalah mempelajari bahasa sering terjadi. Dari kebingungan sistem tata bahasa, minimnya kosakata, hingga penerjemahan lepas budaya yang menjadikan ide yang disampaikan lewat Bahasa Inggris masih terasa Indonesianya.

Dan yang tak kalah sering ditanyakan adalah masalah aksen yang tidak cukup nginggris. Aksen British ataupun Amerika memang menjadi standar mayoritas. Tapi, bagaimana kalau kita berbicara bahasa Inggris dengan aksen Sunda-English atau Java-English? Sahkah Bahasa Inggris yang kita pakai?

Pertanyaannya adalah Sejauh Mana Aksen Berpengaruh?

Aksen merupakan ciri khas gaya penutur kolektif bahasa di suatu daerah. Bisa jadi satu penutur bahasa yang sama dengan penutur lainnya berbeda aksennya. Sama-sama Sundanya, namun aksen penutur Bandung dengan Kuningan akan jelas berbeda. Volume yang didengungkan, jeda yang terpola, hingga, kata dan frase yang khas di tiap masing penutur Sunda ini masih rasa Sunda tapi sudah beda komposisinya.

Dengan realitas bertanya kabar yang sama, yang satu melapalkan "kamana wae?", yang satu lagi melafalkan "kamana bae?" Tentunya kontrasnya tidak hanya dengan Kuningan, ada daerah Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, Sukabumi, hingga yang lebih metropolitan seperti Bogor dan Bekasi yang budayanya telah berdifusi dengan Betawi.

Begitupun dengan penutur bahasa Jawa, sama-sama medoknya, tetapi akan berbeda rasa Jawanya Suroboyoan dengan ngapak-nya warga Cilacap, apalagi dengan lemah lembutnya pemuda Solo.

Lantas apakah aksen ini berpengaruh? Sedikit banyak pastinya berpengaruh. Kesamaan aksen yag ditandai dengan jeda, tempo, intonasi, dan bentuk paralinguistik lainnya, tentunya merupakan bentuk kesamaan pengetahuan dan kemampuan berbahasa dari sesama penutur. Dengan kesamaan ini mempermudah tiap-tiap penuturnya dalam memahami ide yang hendak disampaikan penutur lain tanpa adanya selisih pengetahuan berbahasa.

Bandingkan bila sesama penutur Sunda tetapi berkomunikasi dalam aksen yang berbeda. Tentunya kecepatan informasi yang ditangkap bisa jadi lebih lama yang berdampak pada pencernaan informasi yang ikut-ikutan delayed. Dan psikologis terhadap perbedaan akan terasa kentara meskipun secara kosakata sama-sama sepakat pada keyakinan berbahasanya.

Besar kecilnya perbedaan niscaya menimbulkan jarak seberapun lebarnya. Makin banyak aspek yang berbeda, makin renggang pula jaraknya. Sebagaimana usaha dalam hukum Fisika yang didefinisikan energi dikalikan jarak, maka usaha yang dibutuhkan untuk memahami ide gagasan dari lawan bicara akan menjadi lebih ngoyo bila sama-sama sundanya, tetapi selisih kemampuan bahasa, yaitu aksen.

Bukan tidak mungkin, perbedaan ini membuat jarak yang berdampak pada psikologis asing terhadap penutur lain. Merasakan ketidaksamaan yang jelas.

Sederhananya, pernahkah Anda dihadapkan situasi untuk memilih teman atau pasangan? Sebelum memilih Anda pasti menjajaki orangnya terlebih dahulu. Tujuannya apa? Apalagi kalau bukan mencari kesamaan? Semakin banyak kesamaannya, bukankah Anda akan merasa cocok ketimbang banyak bedanya?

Sadar tak sadar hal tersebut pun terjadi pada aksen dalam bahasa. Semakin banyak kesamaan pengetahuan komunikasi pasangan penutur, penerimaan satu penutur terhadap penutur lain akan lebih besar.

Obama dalam pidatonya saat berkunjung ke Indonesia tentunya tak asal bicara dalam menyapa kita sebagai teman lamanya. Cara ia mengucapkan "Saya suka bakso, sate, nasi goreng,...." diupayakan sebisa mungkin menyamakan dengan aksen Indonesia dan memudarkan lidah amerikanya. Usaha ini bukan usaha yang tak berdasar.

Ada strategi mengejar kesamaan yang berdampak positif bagi dirinya. ketika Obama mengucapkan satu dua patah kata bahasa Indonesia Indonesia tersebut dengan menimalisir aksen bahasa ibunya, penonton yang hadir menanggapi dengan antusias dan bersorak sorai seolah memiliki keluarga yang baru saja pulang dari rantauannya.

Saya bisa bayangkan bila Obama tak melakukan strategi komunikasi tersebut. Bisa jadi, pidatonya hanya seliweran di media dan dilupakan dengan mudah tanpa ada kesan yang positif yang mendalam bagi masyarakat Indonesia.

Dan ajaibnya kesamaan aksen bisa menjadi penolong kita di suatu daerah baru yang sebelumnya belum pernah kita tinggali. Seringkali, kriminal menandai seseorang entah untuk ditipu, diperdaya, hingga rencana perbuatan bejat lainnya dari identifikasi dirinya terhadap aksen lawan bicaranya. Kriminal akan lebih segan bila yang dihadapi adalah aksen yang sama dibandingkan yang tidak.

Tentu hal ini bisa jadi terjadi, juga bisa jadi tidak. Tapi bentuk, penerimaan seeorang terhadap kesamaan aksen (dibandingkan yang tidak) pastinya bukan lagi spekulasi yang membuat si penutur dengan aksen yang sama dengan daerah terkait akan mendapatkan sedikit banyak keuntungan.

Kenyataan Ragam, Haruskah Disangkal?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2