Mohon tunggu...
Christopher Reinhart
Christopher Reinhart Mohon Tunggu... Sejarawan - Sejarawan

Christopher Reinhart adalah peneliti sejarah kolonial Asia Tenggara. Sejak 2022, ia merupakan konsultan riset di Nanyang Techological University (NTU), Singapura. Sebelumnya, ia pernah menjadi peneliti tamu di Koninklijke Bibliotheek, Belanda (2021); asisten peneliti di Universitas Cardiff, Inggris (2019-20); dan asisten peneliti Prof. Peter Carey dari Universitas Oxford (2020-22).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Cut Nyak Din, Seorang Perempuan yang Mengajaibkan di Hindia Belanda

17 Agustus 2020   06:53 Diperbarui: 24 Maret 2022   07:56 12654
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam penceritaan Zainuddin (1966) Din kemudian menyatakan bahwa suaminya telah syahid di jalan Allah. Dengan membunuh Umar, Belanda sesungguhnya telah menciptakan seorang pemimpin perang lain yang akan lebih susah ditaklukkan dan memakan biaya perang yang jauh lebih besar.

Kekuatan Pasukan Din

Setelah memberikan penghormatan pada jenazah Umar, Din kemudian mengambil alih sisa pasukan dan memimpinnya sendiri untuk angkat senjata melawan Belanda. Tahap perang Aceh setelah 1899 saat Din turut serta secara langsung tersebut adalah tahap yang menghabiskan porsi terbesar kas Hindia Belanda. Biaya yang mahal ini disebabkan oleh banyaknya biaya yang termakan oleh tipu daya pasukan Aceh yang pada titik itu telah masuk ke hutan-hutan. 

Di antara pasukan Aceh yang berperang secara terpencar-pencar, pasukan Din memiliki kekhususan. Din menciptakan siasat agar pasukan dapat bergerak secara mobil. Dengan kata lain, pasukan dapat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu cepat.

Hal ini dapat disertai dengan jejak atau tanpa jejak dengan tujuan mengecoh pasukan Belanda. Kekhasan pasukan Din tersebut membuat serdadu yang paling berpengalaman sekalipun tidak dapat menangkap mereka. 

Dalam laporan-laporan sersan Belanda, dituliskan bahwa gerak pasukan ini seperti kijang yang sangat cepat. Dalam satu waktu, pasukan dengan sangat piawai membersihkan sisa-sisa permukiman sementara mereka agar tidak dapat diikuti Belanda.

Pasukan Din juga mengirim orang untuk melakukan pengintaian dari tempat tinggi sehingga dapat memberikan sinyal bahaya. Perlawanan Din tersebut pada akhirnya sangat menyusahkan Belanda. 

Pasukan Belanda tidak dapat bermukin dengan tenang di kampung-kampung karena takut akan diserang secara tiba-tiba oleh pasukan Din. Sejak zaman hidupnya Teuku Umar, ketakutan Belanda sesungguhnya sudah ditujukan kepada Din. Di Negeri Belanda, beredar lagu yang berbunyi "[...] aan een touw Teuku Umar en zijn vrouw [...]" yang artinya "[...] gantung Teuku Umar dan istrinya [...]". 

Baca juga: Perjalanan Wisata Ziarah ke Makam Cut Nyak Dien di Sumedang

Kesuksesan pasukan Din sesungguhnya disebabkan sebagiannya oleh kekuatan surat menyurat di antara para pejuang dan petinggi Aceh. Hal ini menjamin suplai makanan dan kebutuhan lainnya.

Cut Nyak Din: Panglima yang Ditakuti Belanda

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun