Mohon tunggu...
Rebiyyah Salasah
Rebiyyah Salasah Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

Mahasiswa yang ke-maha-an nya dipertanyakan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Apakah Bunuh Diri Solusi untuk Hidup yang Tak Berarti?

16 Februari 2019   14:11 Diperbarui: 16 Februari 2019   17:46 555
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi menggulingkan batu ke atas bukit (Sumber Gambar: Peter Dronen)

Perasaan absurd terkait dengan gagasan bahwa hidup tidak ada artinya, sedangkan bunuh diri berkaitan dengan gagasan hidup tidak layak untuk dijalani. Lantas, apakah gagasan hidup tidak ada artinya berarti bahwa hidup tidak layak untuk dijalani? Apakah bunuh diri merupakan solusi untuk absurditas itu?

Tindakan Mengelak Itu Bernama Harapan

Untuk menjawabnya, hanya ada dua kemungkinan jawaban: iya atau tidak, jika iya berarti bunuh diri, jika tidak berarti terus hidup. Sebagian besar dari kita terus hidup karena kita belum mencapai jawaban pasti atas pertanyaan itu. Lagipula ada banyak kontradiksi dan pertimbangan serta penilaian orang. Sedangkan mereka yang bunuh diri mungkin yakin bahwa hidup memiliki makna dan merasa hidup sudah tidak lagi memberi makna sehingga hidup tidak layak dijalani.

Lagipula, alasan untuk bunuh diri tidak lebih kuat dibandingkan naluri kita untuk bunuh diri. Hanya saja, ketika kita menyadari bahwa hidup tidak berarti, kita secara naluriah menghindari untuk menghadapi konsekuensi dari ketidakberartian hidup itu. Kita terbiasa mengelak, makanya muncul harapan sebagai manifestasi dari tindakan menghindari atau mengelak ini.

Dengan berharap, baik itu berharap kehidupan lain atau berharap menemukan makna kehidupan ini, kita tengah menghindari konsekuensi absurd atas hidup yang tak berarti. Camus sendiri justru berharap dapat menghadapi konsekuensi yang absurd. Alih-alih lari dari perasaan absurd, baik melalui bunuh diri atau pengharapan, ia justru ingin memikirkannya dan melihat apakah seseorang dapat hidup dengan perasaan ini.

Bagaimana Perasaan Absurd Itu?

Camus mengajak untuk memikirkan perasaan absurd dengan mempertanyakan apakah kita adalah makhlus bebas dengan jiwa dan nilai ataukah kita hanya keteraturan tanpa pikiran? Seringkali keduanya bukan pilihan biner, keduanya sama-sama-sama tidak terbantahkan.

Fakta paling jelas adalah bahwa keberadaan manusia memiliki nilai, lebih dari sekadar keinginan tapi berusaha mendapatkannya. Mengatakan bahwa sesuatu harus diinginkan berarti berasumsi bahwa dunia harus berjalan dengan cata tertentu. Tapi, penemuan sains pun menunjukkan bahwa manusia adalah keteraturan tanpa pikiran.

Camus mempertanyakan, adakah pilihan lain selain kedua pilihan itu? Ia kemudian mengajak mengenali perasaan absurd, pandangan dunia yang sangat objektif melihat beberapa hal dengan mudah. Dalam pandangan dunia ini, nilai tidak relevan dan tanpa nilai hidup tidak ada artinya.

Perasaan absurd mungkin tidak pernah dirasionalisasikan secara filosofis, tapi kita pasti pernah mengalaminya. Saat depresi dan tidak pasti, kita mungkin bertanya, "Apa gunanya melakukan sesuatu?" Pertanyaan ini pada dasarnya adalah pengakuan absurditas, pengakuan bahwa tidak ada gunanya melakukan apapun.

Pada tingkat pengalaman, kita mungkin pernah mengalami momen kebangkitan dari segala keletihan terhadap rutinitas. Namun kita punya dorongan untuk bertanya, mengapa harus melakukan itu? Atau mungkin kita pernah suatu waktu menyadari bahwa diri kita sebagaikayu yang hanyut di sungai waktu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun