Mohon tunggu...
Rionanda Dhamma Putra
Rionanda Dhamma Putra Mohon Tunggu... Penulis - Ingin tahu banyak hal.

Seorang pembelajar yang ingin tahu Website: https://rdp168.video.blog/ Qureta: https://www.qureta.com/profile/RDP Instagram: @rionandadhamma

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

ASEAN, Belajarlah dari Uni Eropa

28 Desember 2019   15:10 Diperbarui: 28 Desember 2019   15:17 421
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://www.livetradingnews.com/

Terakhir, 1999 menandai berlakunya Social Chapter dan berbagai kebijakan hubungan industrial secara penuh. Hubungan industrial tersebut menekankan pada gender equality serta standar kerja yang tinggi. Seluruh kebijakan ini terpatri dalam Traktat Amsterdam 1997 yang berlaku penuh pada 1 Mei 1999. Setelah 1999, Uni Eropa pun terus berkembang hingga menjadi sebesar ini (Europa.eu, 2019).

Melihat perkembangan di atas, dapat dilihat bahwa ASEAN baru mencapai tahap area perdagangan bebas dengan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Area perdagangan bebas adalah hal yang berbeda dengan pasar tunggal. Kalau area perdagangan bebas ingin memusnahkan tarif dan kuota, pasar tunggal ingin pula mendorong free movement dari tenaga kerja dan modal di antara negara anggota.

Lebih jauh lagi, pasar tunggal juga melibatkan penyatuan standar, regulasi, perpajakan, dan lain sebagainya. Selain itu, tarif dan kuota untuk perdagangan dengan negara-negara non-anggota juga harus disatukan. Ini dilakukan agar terjadi kompetisi yang adil di dalam blok perdagangan tersebut. Nah, di sini masalah mulai muncul (Salter dalam ukandeu.ac.uk, 2017).

Upaya untuk menyamaratakan kebijakan perdagangan justru berujung pada pengurangan kompetisi antar negara anggota. Mengapa? Seluruh kerangka kerja ekonomi dilebur dalam satu kebijakan blok perdagangan. Dampaknya, setiap negara anggota memiliki kebijakan perpajakan, moneter, standar kerja, dan perdagangan internasional yang seragam. Keseragaman inilah yang mematikan kompetisi.

Ibarat orang-orang dengan selera dan ukuran tubuh yang berbeda namun dipaksa memakai jaket dengan ukuran yang sama. Itulah yang terjadi dengan negara-negara anggota Uni Eropa saat ini. Mereka diwajibkan mengadopsi keseragaman ekonomi, tanpa mempertimbangkan struktur dan tahapan pembangunan ekonomi masing-masing negara.

Maka dari itu, ASEAN sebaiknya tidak melangkah menjadi organisasi supranasional seperti UE. Pertahankan struktur AFTA yang ada saat ini. Selanjutnya, jaga model kerja sama antar negara-negara berdaulat Asia Tenggara yang ada saat ini. Wacana-wacana seperti penyatuan kebijakan berbagai sektor, mata uang tunggal, dan bank sentral tunggal harus dicegah sekuat mungkin. Sebab kooperasi terjadi karena kita berkompetisi, bukan dari pemaksaan economic straitjacket.

So, ASEAN must remain an association of sovereign nation-states. If it goes further, ASEAN would sound the bells of its destruction.

SUMBER

Kompas. Diakses pada 27 Desember 2019.

https://europa.eu/european-union/about-eu/history_en. Diakses pada 27 Desember 2019.

https://ukandeu.ac.uk/explainers/what-is-the-difference-between-a-free-trade-area-and-a-single-market/. Diakses pada 28 Desember 2019.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun